Bahkan, jika ini sebuah teguran untukku. Aku tak sanggup melewatinya--------Angga
🌕️🌕️🌕️
Angga duduk di kursi depan ruangan Bella. Hanya ada kesunyian menyelimuti dirinya. Hatinya yang sepi, juga telinga yang tak lagi mendengar namanya di ucap oleh gadis bernama Bella. Semuanya, kini hancur lebur. Harapan Angga sirna seketika, di kala ia tahu fakta yang sesungguhnya.
"Maaf. Siapa yah?"
Deg!
Angga melepas pelan-pelan genggaman tangannya. Seperti ada sesuatu menusuk hatinya. Angga terpaku diam di tempat. Tubuhnya membeku kuat. Sebelum akhirnya ia berbicara kembali.
"Lo gak inget gue Bell? Gue Angga."
"Sorry. Aw... Kepalanya sakit!" rintih Bella kesakitan memegangi kepalanya.
"DOKTER!" teriak Angga.
Seorang Dokter yang belum pergi, kembali memeriksa keadaan Bella. Tepat di kepalanya. Lalu ia memanggil suster.
"Sus, bisa kasih saya data kesehatan pasien?" tanya nya pada suster.
Suster mengangguk. Setelahnya ia memberikan selembar data tentang kesehatan Bella. Sedangkan Angga masih menunggu hasil pemeriksaan itu sambil menatap Dokter juga suster.
"Maaf. Sepertinya. Dia mengalami gangguan dalam ingatannya. Benturan pada kepalanya yang menyebabkan ingatannya hilang. Pasien terkena AMNESIA. Dan mungkin, akan memakan banyak waktu untuk membuat ingatannya pulih menjadi sedia kala."
"Tolong biarkan pasien tenang dulu. Anda bisa keluar sebentar, untuk menunggu pasien tenang."
Angga hanya terdiam sakit di sini. Sakit, ketika pacarnya sendiri sama sekali tak mengenali dirinya. Rasanya ada yang aneh, ketika Bella menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Bukan lagi dengan tatapan penuh hangat juga penuh cinta. Namun, Angga senang saat tau bahwa Bella sudah terbangun dari tidur panjangnya. Terbangun dari acara dongengnya. Melihat Bella sadar, sudah jauh membuat hati Angga tenang. Jauh dari itu, hatinya sedikit tergoyah guncangan yang amat menyakitkan. Lewat kedua matanya ini, Angga tau bahwa kini Bella sedang berubah menjadi diri yang baru. Bukan Bella yang dulu.
"Angga, terima kasih sudah menelphone. Di mana Bella, dia sudah sadar?" tanya Deni datang bersama Saras juga Kevin di belakangnya.
"Dia di dalem Om," ucap Angga seadanya. Tanpa berekspresi sedikitpun.
"Terima kasih. Om ke dalam dulu," ucap Deni menepuk pelan bahu Angga.
Deni dan Saras pergi masuk ke dalam. Sedangkan Kevin berdiam diri di sana, ikut duduk di samping Angga berada.
"Kenapa lo? Harusnya lo tenang, sebab pacar lo udah bebas dari koma," ucap Kevin terkekeh.
"Dia lupa gue," ucap Angga datar.
"Santai aja lah bro. Mungkin butuh waktu, buat Bella nerima lo lagi," ucap Kevin menepuk pundak Angga beberapa kali.
"Dia gak inget siapa gue."
Kevin lantas menengok dengan alis dinaikkan sebelah. "Maksud lo?"
"Bella Amnesia."
***
"Bella sayang, syukur nak kamu sudah sadar. Mamah senang sekali." Saras memeluk erat tubuh Bella. Mengelus pelan rambut panjang yang terurai itu.
Bella sedang duduk di atas ranjangnya. Dan sangat amat terkejut saat ia mengetahui kedatangan dua orang asing yang sama sekali tidak ia kenal. Bahkan satu di antara mereka langsung memeluk dirinya penuh kasih sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Roman pour AdolescentsTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
