1 minggu berlalu. Bella kini sudah diperbolehkam pulang dan beristirahat di rumah. Dia sangat senang, karena tubuhnya kini bisa bebas bergerak, hidungnya pun bisa menghirup udara segar, dan mata itu bisa lagi menangkap indahnya alam di luar.
Bella berdiri di samping mobil. Dia menatap bingung tempat asing ini, Saras dan Deni memang belum menceritakan tentang rumah ini. Tapi, Bella yakin jika rumah besar ini adalah tempat tinggalnya dulu.
"Ini rumah kita ya Mah?" tanya Bella pada Saras.
Saras mengangguk, dia mengelus rambut Bella. "Ini rumah kamu. Rumah kita semua. Kamu tidak ingat?"
Bella menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku gak ingat sama sekali," ucapnya bersedih
"Gak apa-apa sayang, seiring berjalannya waktu, Mamah yakin, kamu akan segera ingat. Dan ingatan kamu juga akan kembali lagi." Saras memeluk Bella.
Bella hanya mengangguk dan tersenyum dalam dekap peluk ibunya.
'Jika kamu tau, ibu bukan ibu kandung kamu. Apa kamu masih mau memeluk ibu Bella?' batin Saras.
"Sudahi dulu acara pelukannya. Tolong Papah angkat camilan ini." Deni berdiri di samping Bella dan Saras. Di sisi kirinya ada Kevin.
Kedua lelaki itu sibuk membawa belanjaan. Ya, sebelum pulang mereka semua sempat mampir membeli camilan untuk di rumah. Juga sebagai Party kecil untuk merayakan kesembuhan Bella.
"Eh, maaf ya Pah. Bella lupa," ucapnya terkekeh.
Deni hanya mengangguk sambil tersenyum. "Mau bantu gak nih?"
"Yaudah sini, biar Bella yang bawain masuk." Bella ingin merampas plastik belajaan. Namun dengan cepat Deni menghentikkan Bella.
"Papah bercanda. Masa baru keluar rumah sakit, udah bawa barang yang berat-berat. Udah sana, kamu masuk duluan sama Mamah kamu. Biarkan Papah dan Kevin yang membawa ini semua."
Bella mengangguk matang. Dia menarik tangan Saras dengan semangat. "Ayo Mah, Bella gak sabar liat rumahnya."
Saat kaki kanan Bella menapak di lantai rumah ini. Bella merasakan suasana aneh menerpa tubuhnya. Seketika tubuhnya mendadak diam dan berhenti.
"KALIAN EGOIS!"
"Mamah akan selalu sayang kamu."
"Wah, ini donat siapa?"
"Pakai dres sekali ini aja yah. Special malam ini."
Saras yang melihat reaksi tubuh Bella, lantas menepuk pundaknya pelan. "Sayang, kamu kenapa?"
Bella memegangi kepalanya. Pusing memenuhi kepalanya. "A-aku... Kepala aku... nya sakit."
"Mas!" teriak Saras panik.
"Ada apa!" Deni dan Kevin buru-buru masuk ke dalam. Saat melihat Bella, Deni langsung memeriksa keadaan Bella.
"Kamu kenapa sayang? Kepalanya sakit lagi?" tanya Deni cemas.
"Perlu kita balik ke rumah sakit, untuk cek keadaan kamu?" tambah Deni sangat khawatir.
"Enggak Pah. Bella cuman ingin istirahat, maaf udah bikin kalian cemas." Bella tersenyum canggung. Dia merasa tidak enak saat dirinya membuat orang lain cemas.
"Ya sudah, ayo Mamah antar." Saras menuntun Bella ke arah kamarnya.
***
Bella berbaring diatas kasur. Dirinya merasa lebih baik sekarang. Lantas ia tersenyum kepada Saras. "Makasih Mah, udah sayang sama Bella. Dan maaf, sempat gak ingat Mamah. Bella emang anak gak baik, karena udah lupa sama ibu sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Teen FictionTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
