Pk-70

2K 101 3
                                        

"Jangan ngasal lo!" timpal Reno terlihat kesal.

"Bella gak akan usir kita. Kalo dia tau siapa kita," ucap Angga dingin.

Deni datang menghampiri mereka bertiga, membuat Dela langsung saja bertanya.

"Om, Bella gak Amnesia kan Om?" tanyanya panik.

"Maaf Del, Bella benar Amnesia. Dan Om mohon bantuan kamu, untuk sedikit-sedikit mengajak Bella mengobrol tentang apapun di masa lalunya, supaya Bella bisa cepat pulih dari amnesianya. Kamu ke dalam yah, temani dia."

Dela mengangguk. Dia melirik Devan, lelaki itu mengangguk seolah mengizinkan jika hanya Dela yang masuk ke ruangan Bella.

Dela masuk ke dalam ruangan Bella.
Hatinya sangat tidak pernah percaya bahwa sahabatnya ini tengah Amnesia.

"Bell," panggil Dela pelan.

Bella yang sedang memakan apel pun berhenti. Dia menatap bingung Dela.

"Lo yang tadi yah? Kenapa masuk lagi?"

"Denger oke, gue sahabat lo. Bener-bener sahabat lo." Dela mencengkram tangan Bella. Membuat Bella ikut menatap mata itu.

Bella sendiri bingung dengan hati dan pikirannya. Mereka berdua seolah berontak dan saling adu.

"Y-ya tapi gue gak inget sama lo."

"Lo beneran Amnesia? Lo lupa gue?" tanya Dela menampilkan wajah cemas.

Bella mengangguk cepat. "G-gue gak inget lo."

"Tapi lo percaya kan kalo gue ini bener sahabat lo?" Dela kembali mencengkram tangan Bella.

Bella bingung. Bimbang dan gelisah. "Gue gak tau."

"Yaudah deh, itu gak penting. Yang paling penting sekarang, gue seneng lo udah sadar dan bangun dari koma." Dela memeluk Bella.

Karena tak enak, Bella ikut membalas pelukan itu. Dan ada desiran damai saat mendapat pelukan dari Dela. Bella merasa, bahwa dia pernah berpelukan seperti ini juga, tapi Bella tidak ingat kapan itu.

"Gue seneng lo udah bangun dan sadar. Gue khawatir liat lo terus-terusan tidur kaya mayat." Dela terkekeh. Dia melepas pelukan dan membersihkan jejak air mata. Dela baru saja menangis.

Dia sangat sedih, saat tau bahwa Bella lupa ingatan. Itu artinya Bella lupa dengan persahabatan yang sudah dijalin dari masa kecil. Bahkan lika-liku kehidupan yang sudah mereka lewati selama bertahun-tahun lamanya. Bella lupa itu. Namun, kembali ke awal, Dela menepis ini karena yang penting untuknya adalah kesehatan Bella. Kini Bella tak lagi tidur memejamkan mata. Tapi tersenyum dan membuka mata. Juga bisa lagi melihat dunia.

"Lo nangis?" Bella cemas melihat Dela menangis seperti ini.

"Gak apa-apa kok. Gue cuman gak nyangka aja kalo lo beneran lupa ingatan." Dela terkekeh lantas menggenggam tangan sahabatnya itu.

"Sorry yah, gue juga gak mau kok lupa ingatan kaya gini. Ini sama aja beban bagi gue." Bella menundukkan kepalanya. Sedih juga, karena dia bahkan saat bangun tidak bisa sama sekali mengenali dirinya. Tidak tau siapa dirinya bahkan Bella seperti bangun di dalam tempat yang asing di matanya.

"Hey, gak papa. Yang paling penting, lo udah bangun. Itu aja udah bikin gue sama yang lainnya seneng." Dela mengelus punggung sahabatnya.

"Thanks yah. Kayanya lo beneran sahabat gue. Gue bisa rasain ini dari sikap lo." Bella tertawa kecil.

Dela memukul tangan Bella kecil. "Emang gue sahabat lo kok. Lo pikir gue pura-pura jadi sahabat lo? Gila aja kalo gue lakuin itu," omel Dela sebal.

Bella terkejut saat Dela memukulnya. Namun sedetik kemudian dia langsung tertawa. Lucu saja, saat dia mendapat pukulan pelan dari orang yang tidak ia kenal.

Preman Kampus {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang