Seperti ini kah rasanya ingin menetap namun tidak diharapkan___Angga
•
~•
🌕️🌕️🌕️
"Cowok nyebelin."
Bella memilih pergi dari sana. Tak kuat rasanya saat melihat Angga diam diantara banyaknya wanita.
"EH BELLA MAU KEMANA?" teriak Dela kencang.
"Udah. Dia lagi cemburu, kalo kamu samperin, yang ada kamu kena amukan Bella." Devan merangkul bahu Dela agar tidak pergi mengejar Bella.
"Woy Ren, mau kemana lu?" Devan bertanya saat melihat Reno juga bangkit dari duduknya.
"Nyusul Bella," ucap Reno datar.
"Ngapain? Udah diem di sini!"
Reno tak menjawab. Dia melangkah kan kakinya berjalan pergi dari area kantin. Ia tak memperdulikan ocehan Devan yang lelah memanggil namanya.
"Tu anak emang rese ya!" geram Devan sebal.
"Udah deh Van. Jangan marah-marah. Oh, aku mau tanya deh sama kamu. Reno masih suka sama Bella yah?" tanya Dela penasaran.
Devan menggeleng pelan. "Gak tau. Aku harap, dia bisa nerima semuanya dan gak jadiin kondisi Bella amnesia sebagai ajang buat dapetin Bella, dan rusakin hubungan Angga. Aku harap dia gak nekat."
Dela mengangguk. "Semoga. Aku gak mau ada kekacauan lagi, apalagi di hidup Bella yang udah sering berantakan. Aku kasian dan gak tega liatnya. Aku gak mau, cinta Bella yang tulus itu hilang gara-gara penyakit Amnesianya. Aku mau liat dia bahagia sama pujaan hatinya yang pertama ada."
"Kemana dia?"
Angga mengejutkan Devan dan Dela. Dia muncul dengan sangat tiba-tiba.
"Gak tau. Dia pergi, gak tau kemana tuh." Dela mengedikkan bahunya tak tau.
"Sendiri?"
"Iya."
"Bodoh," gumam Angga pelan lalu pergi begitu saja dari sana.
"Kok marah, dia juga kan yang bikin Bella pergi." Dela menekuk wajahnya sebal.
"Eh, ya ampun! Dia kan gak tau tempat-tempat kampus ini! Gimana kalo dia nyasar Van!" teriak Dela panik.
Devan ikut-ikutan panik, dan berkata, "Iya juga! Mati aku di tangan Om Deni!"
•~•
Bella melirik kanan dan kiri. Di mana dia, dia bahkan tak tau apa nama tempat ini. Di sini sunyi, sepi dan tak ada orang selain dirinya di sini. Bahkan, bulu kuduknya saja sampai merinding.
"Duh, nyesel deh... Pergi dari Dela," gumam Bella sedih.
"Sekarang ini, gue di mana yah?"
Bella mengecek ponselnya. Dia membuka aplikasi WhatsAapnya. Semenjak pulih dari koma, bahkan dia sama sekali belum memegang benda ini. Tadi pun, pas di taman, dia hanya menggeser-geser layar utama saja. Tanpa niat menyentuh aplikasi apapun itu. Baiknya nya juga, karena ponselnya tidak dikunci. Atau disandi.
Satu room chat membuat Bella penasaran, dia membuka room chat itu. Nama Pacar terpampang di bagian atas chatnya. Namun tidak ada chat banyak di sana, hanya pesan terakhir dari Bella saja, yaitu 'kamu di mana'. Bella jelas bingung, kontak siapa sebenarnya yang dinamai pacar. Bella jadi ingat, Dela berkata bahwa Angga adalah pacarnya. Apa ini nomor Angga, si cowok aneh itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Fiksi RemajaTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
