Kedua tangan Durahman masih dirantai. Ia masih berada di apartemen Zero beberapa hari ini. Sesuai perintah Darren. Durahman harus diamankan sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Zero juga tidak ingin seegois itu. Zero juga menyelidiki seluk-beluk keluarga Durahman. Durahman memiliki orang tua lengkap, dan juga seorang adik perempuan. Dari hasil penyelidikan Zero, ibu Durahman memang harus rutin berobat di rumah sakit, karna sakit yang ia derita. Mungkin ini adalah salah satu alasan Durahman menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, sampai-sampai dia rela mencelakakan orang lain. Huh, Zero menghela nafas berat.
“Lu tenang aja~ Gue udah kirimin bonyok lu duit buat berobat,“ ucap Zero dengan tatapan sendu. Dalam hati Zero iri kepada Durahman. Dia masih memiliki orang tua lengkap. Sedangkan Zero? Zero tidak tau dimana orang tuanya berada sekarang, karna Zero dibesarkan di panti asuhan. Kata pengurus panti, saat itu Zero sudah ada di depan pintu yayasan begitu saja—juga sama sekali tidak ada surat-surat tertentu dalam bentuk apapun mengenai dirinya.
Zero pun meminum air putih beberapa teguk. Lalu, ia pun menghampiri Durahman. Ia lepas rantai di tangan kanan Durahman. “Maaf, gue nggak bisa lepasin lu sekarang,“ ucap Zero memberikan Durahman sepiring nasi dan lauk pauk. Durahman malah melemparkan piring itu ke sembarang arah. Sungguh Durahman tidak sudi makan makanan dari si brengsek Zero. Percikan beling itu mengenai pipi Zero dan melukai pipinya sedikit.
Durahman menatap Zero dengan tatapan benci dan sangar. Bahkan, Durahman meludah di wajah Zero. Tapi, entah mengapa Zero tidak bisa marah. Ia pun bangkit dan kembali ke dapur mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk. “Gue sama kek lu, Du. Sama-sama jalanin perintah dari atasan. Nggak peduli bener ato nggak. Tapi, Du, seenggaknya kalo lu gue lepasin nanti, lu gemukan dikit. Kalo lu kurus lu bakalan bikin bonyok lu tambah khawatir.“ ucap Zero menatap Durahman penuh arti.
Kata-kata Zero juga ada benarnya, batin Durahman. “Gue nggak bakalan marah lu mau kek gimana aja jahatin gue. Mau lu ludahin gue ato gimana pun terserah lu. Tapi, plis, lu makan ya?“ ucap Zero. Durahman diam tidak bergeming sama sekali. “Lu makan aja sendiri. Gue nggak mau makan.“ ucap Durahman ketus. Ia juga menghindari tatapan mata Zero. Cih! Nggak sudi banget gue, batin Durahman. Zero pun menghela nafas. Sepertinya Zero harus menggunakan cara lain yang lebih ampuh.
Zero memutar wajah Durahman supaya keduanya bisa saling bertatapan. Zero pun langsung mengulum bibir Durahman dan mentransfer sesuap nasi itu dari mulutnya sendiri ke mulut Durahman. Durahman membelalakkan mata kaget. Ia kontan mendorong badan Zero. “Lu ngapain bangsat!“ seru Durahman marah. “Nyuapin lu makan. Abisnya lu bandel sih nggak mau makan.“ sahut Zero. “Gue bisa makan sendiri!“ ucap Durahman lagi. Zero pun terkekeh.
Seluruh keluarga besar sibuk mempersiapkan pernikahan Ami dan Irfan. Perut Ami kian hari kian membesar. Sudah seharusnya Irfan menikahi Ami secepat mungkin. Namun, masalahnya kini adalah, keluarga Ami sedang bermasalah. Hubungan Yudi dan Zada semakin memburuk. Sebagai seorang suami yang baik Yudi juga tidak ingin membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Setiap hari Yudi mengunjungi Zada dan mencoba berbicara baik-baik. Namun, kalian tau bagaimana tanggapan Zada? Dia mengusir Yudi dari rumah seperti mengusir seekor binatang. Zada mendorong tubuh Yudi dan kadang Yudi jatuh tersungkur ke lantai. Sungguh miris memang.
“Zada.. Tolong buka pintunya sayang.. Zada.. Zada..“ ucap Yudi berteriak dari luar. Huh, Yudi menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Jujur saja ia tidak tau lagi harus berbuat apa. Pernikahan Ami tinggal menghitung hari. Sebelum itu Yudi ingin menyelesaikan semua masalah yang ada. Jangan sampai tiba di hari H masalah ini belum jua selesai. Sebaiknya aku pulang dulu, batin Yudi.
Ini adalah hari kedua tanpa Rakha. Uh, rasanya amat sangat membosankan sehari saja tanpa didampingi oleh suami. Di rumah Ares uring-uringan. Ia rebahan disana-sini. Duduk disana-sini mencoba mencari posisi ternyaman untuk bersantai. Tapi, nihil, bosan bosan dan bosan, itu saja yang Ares rasa saat ini. Jujur jari-jemari Ares gatal sekali ingin mengirimi Rakha pesan beruntut. Tapi, Ares takut, kalau-kalau Rakha sedang sibuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ares [BL]
Romance[TAMAT] Cerita ini ngambil latar belakang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Seumpama cerita ini nggak sesuai dengan ekspektasi kalian-atau kalian nganggep cerita ini jelek, karna banyak typo, nama tokoh ketuker, dan banyak tokoh di mana-mana. Darip...
![Ares [BL]](https://img.wattpad.com/cover/278638466-64-k530654.jpg)