Suara decitan burung-burung—pun ombak yang saling bertabrakan dengan pinggiran pantai—membuat suasana pagi itu terasa amat sangat penuh arti. Bermalas-malasan di ranjang? Uh, semua pasangan pasti akan seperti ini. Benar, kan? Kalian pasti juga seperti itu, kan? “Eungh,“ Ares menggeliat. Sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela. Ugh, Ares meringis, pinggulnya nyeri. Ini pasti gara-gara aktivitas ia dan Rakha tadi malam. Haruskah aku memarah-marahi Mas Rakha; saat dia bangun nanti?, batin Ares.
Rakha semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan deru nafas Rakha juga sangat terasa di permukaan kulit leher. Uh, tubuh Ares mendadak panas. Cuma deru nafas saja—sudah mampu membuat Ares bergairah di pagi hari? Uh, malu-maluin aja deh, batin Ares. “Met pagi sayang,“ gumam Rakha dengan suara serak—masih dengan mata terpejam. “Copot dulu dong mas,“ seru Ares saat ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Tentu saja karna Rakha masih membenamkan miliknya di dalam sana dari tadi malam.
Sejurus kemudian, Rakha pun menarik miliknya keluar hingga berbunyi sedikit. “Masih tegang, Res,“ goda Rakha. “Bukan urusan aku mas~ Mas keluarin aja sendiri di kamar mandi, aku capek,“ ucap Ares. Rakha pun merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dia masih lelah setelah beradu berjam-jam di atas ranjang tadi malam. Sprai kasur saja sampai meninggalkan noda bekas semburan cairan cinta itu. Bisa kalian bayangkan seberapa panasnya aktivitas ranjang Ares dan Rakha tadi malam?
Ares pun bangkit dari ranjang. Setelah memakai handuk piyama; ia pun membuka pintu kamar ini lebar-lebar; dan terpampanglah pemandangan nan indah dipandang mata. Ini seperti surga dunia, batin Ares. Hm, udara di sini sangat sejuk. Ares memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam—di pinggir kolam renang. Bagus juga sih liburan dua hari satu malam bersama suami tercinta. Terlebih besok Ares juga sudah mulai UAS.
Sayup-sayup Ares mendengar derap langkah kaki seseorang. “Mas?“ seru Ares hendak memutar badan. Tubuh Ares sedikit oleng. Lalu, dengan sigap Rakha pun meraih pergelangan tangan Ares. Namun, sia-sia saja, karna saat ini keduanya sama-sama tercebur ke dalam kolam renang. Entah mengapa basah-basahan bersama seperti ini, membuat Ares semakin deg-degan dan salah tingkah. Uh, wajah Ares mulai terasa panas.
“Uhm, ma-ma-mas, ka-kamu mau ngapain?“ gumam Ares gugup, saat Rakha semakin mendekat, dan menghimpit tubuhnya. Rakha pun tersenyum dan berkata, “Mas udah dapetin ruko buat kamu jualan nanti sayang,“. Hm? Rakha sudah menemukan ruko yang diinginkan oleh Ares? “Dan selamat ulang tahun ya, sayang? Love you,“ ucap Rakha tulus dari dalam hati sembari mengecup kening Ares lama sekali. Ares terharu. Kedua matanya juga mulai berkaca-kaca. Ah, benar, hari ini ulang tahun aku, batin Ares.
Ares terus saja menatap kedua mata Rakha lamat-lamat—yang di mana tangan Rakha juga bermain-main di rambut Ares. “Makasih sayang makasih,“ ucap Ares berterima kasih sembari memeluk Rakha dengan erat. “Jangan diteken, Res. Ngilu,“ seru Rakha. Kontan Ares pun langsung mundur. Uh, aku beneran nggak sadar, ampe nggak sengaja neken punyanya Mas Rakha, batin Ares benar-benar tidak tau.
“Kita musti cepet-cepet mandi sayang. Soalnya hari ini kita bakalan pergi kondangan,“ ucap Rakha. Benar, hari ini Ami dan Irfan menikah. “Mas.. Kamu nggak papa?“ tanya Ares cemas. Sejurus kemudian; Rakha pun tersenyum penuh arti; sebuah senyuman yang sangat jelas menggambarkan—betapa ia sangat bahagia tanpa terbebani oleh apapun. “Mas nggak papa sayang,“ sahut Rakha. Ares dan Rakha pun tertawa bersama penuh cinta. Kebahagian ini, Rakha berjanji dalam hati, akan selalu mengukirnya di setiap jalan kehidupan rumah tangganya—melewati duri-duri itu bersama-sama.
Ares dan Rakha mengenakan outfit yang sama, mulai dari: baju batik motif burung emprit jingga, jam tangan silver, celana hitam, dan sepatu hitam. Di luar dugaan, ternyata juga ada beberapa rekan kerja Rakha—yang datang ke sini. Ares cuma mendengarkan saja, karna jujur Ares juga tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan mereka. Kedua alis Ares berkerut. Ia melihat seorang pria di sebelah sana—yang di mana pria itu adalah orang yang hampir saja Ares tabrak kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ares [BL]
Romance[TAMAT] Cerita ini ngambil latar belakang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Seumpama cerita ini nggak sesuai dengan ekspektasi kalian-atau kalian nganggep cerita ini jelek, karna banyak typo, nama tokoh ketuker, dan banyak tokoh di mana-mana. Darip...
![Ares [BL]](https://img.wattpad.com/cover/278638466-64-k530654.jpg)