Demi mengisi waktu luang di hari libur, ARES bekerja di sebuah toko kue. Sepulang dari toko nanti baru ia kembali berjualan keliling. Ia melayani pembeli dengan sangat baik, sampai-sampai ia selalu mendapat pujian dari si pemilik toko.
Ini membuat beberapa orang yang bekerja disana hinggap rasa iri di hati mereka. Memang Ares tidak menerima upah lebih dalam bentuk apapun. Hanya saja interaksi Ares dan si pemilik toko yang nampak dekat seperti seorang sahabatlah yang membuat mereka iri.
Seperti biasa Ares mau secara suka rela disuruh membantu apa saja, termasuk membuang sampah ke tempat pembuangan khusus. ”Lu pake pelet apa sih?” seru Riki sarkasme. Ares tidak mengerti maksud Riki. Pelet? Pelet apa?
”Gue nggak ngerti maksud lu Ki. Gue gak pake pelet apa-apa.”
”Jangan ngeles deh lu Res. Gue tau lu pasti pake pelet, kan? Kalo lu nggak make mana mungkin si bos perhatian banget ama lu?”
”Gue gak tau ya Ki si bos baik ke gue karena apa. Yang jelas gue kesini kerja bukan buat cari perhatian.”
Saat Ares hendak berlalu, Riki malah mencegat pundaknya. Riki menatap Ares tajam. ”Mending lu keluar dari sini Res,” terdengar nada ancaman dari Riki. Ares tersenyum miring. ”Lu bukan siapa-siapa gue dan lu nggak berhak buat ngusir gue dari sini. Minggir.” sahut Ares tidak kalah ketus dan mengenyahkan tangan Riki dari pundaknya dengan kasar.
Si pemilik toko roti itu pun berdiri di balik tembok samping tokonya sendiri. Baru kali ini ia melihat seorang pegawai roti di tokonya sendiri memiliki mental baja. Sudah banyak pegawai-pegawainya yang mengundurkan diri, karena tidak kuat akan tekanan yang diberikan oleh Riki. Kalau bukan amanah dari orang tua, mungkin si pemilik toko roti itu langsung memecat Riki begitu saja.
Setelah selesai salat ashar, Ares bersiap-siap hendak pulang. Ia berpamitan dengan si pemilik toko juga rekan-rekan kerjanya yang lain. Kali ini Ares tidak jalan kaki, melainkan ia mengayuh sepeda. Beruntung kedua orang tuanya masih di kampung, sehingga Ares bisa menggunakan sepeda ini kemana-mana.
Rakha menunggu kepulangan Ares di teras rumah Ares. Ia duduk di kursi panjang yang ada disana. Sudah satu jam lebih ia menunggu Ares. Dari kejauhan terlihat seorang remaja mengayuh sepeda kemari. Itu Ares, batin Rakha. Ia pun langsung berdiri.
Sudah hampir satu minggu keduanya tidak bertemu. Ares diam menatap Rakha yang saat ini juga tengah menatap dirinya. Oh tuhan, Ares rindu sekali. Tidak. Ares tidak boleh memiliki perasaan apapun pada Rakha. Ia harus membuang perasaannya itu jauh-jauh. Ah iya, untuk apa Rakha datang kemari? Ada urusan apa dia?
”Kak Rakha? Nyari siapa?” tanya Ares berbasa-basi. Sesungguhnya Ares tau kalau kedatangan Rakha kemari, tidak lain dah tidak bukan ialah karena ia ingin bertemu Ares.
”Ngomong di dalem bisa?” seru Rakha. Ah, benar juga. Sangat tidak etis sekali kalau berbicara mengenai hal-hal pribadi di luar seperti ini. Ares pun membuka pintu diikuti oleh Rakha di belakang. Hap, Rakha langsung memeluk Ares dari belakang.
”Kak-kak Rakha.. Kakak ngapain?” tanya Ares.
”Maafin kakak.. Ini semua salah kakak.. Maafin kakak karena kakak udah bikin kamu salah paham sama sikap kakak..”
Keduanya saling diam-diaman beberapa saat. Rakha belum jua melepaskan rengkuhannya pada Ares. Bahkan ia memeluk Ares semakin erat seolah-olah Ares bisa lepas kapan saja. ”Tolong kasih kakak kesempatan Ares,” ucap Rakha kemudian memecah keheningan di antara keduanya.
Kesempatan? Kesempatan apa yang Rakha maksud? ”Saya nggak ngerti maksud kakak apa,” ucap Ares. ”Cukup sekali aja bagi kakak kehilangan orang yang kakak sayang. Kakak nggak mau kehilangan buat kedua kalinya lagi, Ares.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Ares [BL]
Roman d'amour[TAMAT] Cerita ini ngambil latar belakang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Seumpama cerita ini nggak sesuai dengan ekspektasi kalian-atau kalian nganggep cerita ini jelek, karna banyak typo, nama tokoh ketuker, dan banyak tokoh di mana-mana. Darip...
![Ares [BL]](https://img.wattpad.com/cover/278638466-64-k530654.jpg)