ARES 80

1K 68 12
                                        

Janji se-manis apapun pasti terasa pahit jikalau diingkari. Paras se-tampan apapun tiada berarti tanpa budi pekerti. Bibir se-ranum apapun tiada berarti jikalau dihiasi oleh butir-butir duri. Terlebih jikalau gemar menghina dan mencaci. Keanu adalah si begundal, tetapi mampu memberi rasa aman. Keanu adalah si bengal, tetapi mampu memberi cinta se-luas samudera. Keanu adalah si pembantah, tetapi mampu memberi hangat tatkala dingin menerpa. Se-sempurna itu? Salah!

Lalu, apa? Sebab sempurna bukan berarti tanpa celah atau noda. Se-bersih apapun baju se-putih gading, pasti ternodai jua secara sadar ataupun tidak. Usai beres-beres apartemen bersama; Keanu meminta sang permaisuri untuk duduk bersama ia di sofa ditemani oleh se-cangkir teh hangat tanpa gula. “Lu pengen ngobrolin apa?“ tanya Barra. “Gue cuma mo bilang kalo gue udah transfer duit ke rekening lu 15jt. Buat angsuran semester ganjil 14jt, trus 1jt-nya lagi buat keperluan lain. Misal ada yang kurang bilang aja, ya?“ sahut Keanu.

Barra tertegun atas perhatian nan besar dari sang calon suami untuk diri ia. Sungguh tiada terasa. Sebentar lagi hari di mana janji suci terucap pun akan segera tiba, dan acara resepsi akan diselenggarakan saat liburan semester-an nanti. “Lu se-cinta dan se-tulus itu ama gue, Ke?“ gumam Barra menatap Peanu dalam-dalam. Terulur lah tangan itu tuk mengusap pipi sang permaisuri. Peanu tatap ia penuh cinta. “Hm? Trus kenapa? Nggak boleh?“ ucap Keanu. Barra menggelengkan kepala. Keanu membetulkan posisi rambut Barra bagian poni. Padahal rambut ia sangat lah tertata rapi.

“Gue udah mo jadi istri lu, tapi gue nggak bisa masak,“

“Pfft, lu cemas, lu gelisah, cuman gegara lu nggak bisa masak?“

“Hm,“

“Dengerin gue, deh, Bar. Gue nggak bisa pungkirin kalo gue juga pengen makan masakan istri gue sendiri, tapi se-umpama lu belum bisa masak nggak papa. Lu bisa belajar. Entah dari internet—ato lu mo ikut kursus juga nggak papa, tapi gue pengen lu usaha. Itu aja, sih,“

Di saat seperti ini, entah mengapa; Barra selalu ingin ber-manja-manja. Setelah puas ber-cengkama; Barra dan Keanu memutuskan untuk mandi bersama. Barra juga mengerti jikalau mandi bersama di sini bukan cuma soal mandi biasa saja, lalu selesai. Pasti lebih dari itu. Dalam bathtub, tangan Keanu mulai menjelajah hutan belantara. Bulu-bulu halus di area rahasia itu membuat Keanu gemas. Barra? Tentu ia merasa sangat geli. Dalam genangan air se-tinggi dada itu; Peanu mengurut-urut si jagoan Barra hingga berhasil membuat ia menegang sempurna.

Satu hingga dua jari Keanu ber-sarang di dalam lubang itu, dan menari-nari mengikuti alunan lagu. “Nghhh,“ Barra mengerang sambil mengerutkan alis demi menahan rasa aneh, tetapi juga gemetar dalam diri. Barra pun memutar wajah ia sehingga saat pandangan mata itu saling bertemu—pun bibir saling menempel hingga saling melumat dengan lumatan nan lembut. Sementara dua jari Keanu di dalam sana ber-gerak-gerak. Barra menggenggam lengan Keanu demi menahan semua rasa ini. Keanu terus melumat bibir itu agar Barra melupakan rasa perih pada lubang itu.

Pada upacara hari senin, dan sebagai permulaan dari ulangan tengah semester; Dinda jatuh pingsan, sebab cuaca sangat panas dan terik. Ares otomatis menghampiri, dan meminta para anggota PMR untuk segera mengambil tandu. Ares mungkin bisa saja langsung menggendong Dinda menuju ruang kesehatan, tetapi ada hati yang harus ia jaga, yaitu Rakha. Keanu tertegun. Si bodoh bisa pinter juga?, batin Keanu. Keanu lupa jikalau Ares adalah si cerdas, dan juara umum di sekolah.

Keanu pun muncul dari balik pintu. Dinda pasti mencoba mencari-cari kesempatan tuk bisa berdua-dua-an dengan Ares. “Biar gue yang gantiin lu jagain Dinda. Lu out aja,“ ucap Keanu datar. Ares menghela nafas. Sungguh hati ia ragu meninggalkan Dinda bersama Keanu. Bagaimana jikalau dia berbuat macam-macam seperti saat di kantin kala itu? “Lu udah dicariin. Cepetan sana!“ ucap Keanu lagi. Ares pun beranjak dari kursi. Ia menatap Dinda sesaat. “Cari gue kalo lu butuh bantuan,“ ucap Ares. “Gue nggak janji,“ sahut Keanu sambil tangan ber-sedekap di dada. Ber-bicara dengan Keanu sama saja sedang menguji emosi diri sendiri.

Ares [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang