"Lo mahal, Fay. Dapetin lo mahal."
"Contohnya dengan mahar helikopter dan sejenisnya. Mahal anjir, istrinya tuan muda," lanjut Raga.
•••🖤•••
Tentang Tuan muda yang bernama Ragatama, yang kabur saat ditunjuk menjadi CEO oleh ayahnya. Pergi dari ayah...
"Katanya, lo butuh gue buat jajanin lo. Butuh gue buat rawat kucing bareng. Butuh gue buat bikin anak." Raga melirik Pak Rangga. "Yaudah, aku kabulin deh, om."
Fay semakin melotot lebar mendengar pernyataan yang dilontarkan Raga. Badannya panas dingin, degup jantung nya tidak normal. Apa itu? Kenapa kuping Fay mendengar seperti itu? Tidak salah kan? Raga benar-benar mengatakan hal itu?
Melihat bagaimana senyum jahil Raga, mata yang menyorot yakin. Raga benar-benar mengucapkan itu? Raga benar-benar akan melakukan nya? Benarkah?
"Raga, tarik ucapan lo." Raga menggeleng dengan santai, kembali duduk dengan tenang. Memberikan senyum hangatnya.
"Nggak. Gue serius." Pak Rangga masih terbengong dengan raut terkejutnya, masih mencerna.
Fay langsung kembali duduk, wajahnya sudah panik. "Ga, Papa cuma bercanda. Lo jangan tanggepin."
"Apa salahnya?" tanya Raga membuat decakan kecil dari Fay yang sudah terlihat frustasi. Pak Rangga baru tertawa kecil, bertepuk tangan pelan, baginya hal kecil yang perlu diapresiasi.
"Papa emang bercanda, tapi kalau Raga anggap serius ya bagus." Raga kembali tersenyum lebar, mengangkat jempolnya mendapatkan persetujuan itu. Fay membulatkan mulutnya, ia kehilangan kata-kata.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hidup lo aman sama gue." Raga menepuk-nepuk pundak Fay, langsung ditepis dengan kasar oleh Fay.
"Gue nggak mau. Papa bilang Papa nggak maksa kan?" Fay masih protes, hal ini tidak mungkin ia setujui dengan mudah. Mengingat ia sudah memiliki Arnav, dan lagi, ia tidak menyukai Raga.
Pak Rangga mengangguk singkat. "Papa nggak maksa. Terserah kalian. Papa cuma memberikan pendapat kalau Papa cocok sama Raga dan Papa memberikan persetujuan. Terlepas kamu mau atau nggak, itu hak kamu."
Fay sedikit bernapas lega, setidaknya Papa nya tidak benar-benar memojokkan dirinya. Ia bisa menolak, sekeras mungkin. Sekeras apa Fay menolak, sekeras itu juga Raga berusaha.
"Nikah sama gue keuntungannya banyak loh," ucap Raga memberikan tawaran. Fay melengos malas.
"Nggak butuh." Raga tersenyum miring, membungkuk kan badannya sedikit maju ke Fay. Menjauh dari wajah Raga, menjaga jarak.
"Lo bisa nolak, tapi kenalin cowok lo dulu." Raga memberikan serangan pada Fay, yang jelas-jelas Fay akan kalah. Fay hanya bisa diam, mau bagaimana lagi?
Tersenyum sinis, Raga menjauhkan wajahnya, bersender kembali sembari melepaskan kancing jas nya. "Kalau lo ada pacar, kan lo nggak butuh gue."
"Ada pacar lo yang jajanin lo. Ada pacar lo yang bantu rawat kucing lo. Ada pacar lo yang nantinya bantu lo kasih Om Rangga cucu." Fay meneguk ludahnya, tahu bahwa semua itu sulit ia lakukan dengan Arnav.