SELAMAT MEMBACA
•••🖤•••
"Atau lo cemburu?"
Mata tajam Raga berubah lesu, energinya seolah melemah. Cengkramannya tidak sekuat tadi. Raut muka nya terlihat kebingungan, perasaannya juga tidak stabil. Pertanyaan yang baru saja terlontar membuat ia berpikir, atas dasar apa amarahnya ini? Apa benar karena kecemburuan?
Berdecih sambil memalingkan wajahnya, "bukan soal cemburu. Ini soal martabat lo sebagai seorang istri, jaga perilaku lo."
"Coba jelasin salah gue," pintanya.
Raga berbalik badan lagi, melipat kedua tangannya dengan tatapan datar.
"Lo pergi dari pagi tanpa seizin suami lo, lo ninggalin tanggung jawab lo di rumah. Pesan gue nggak lo peduliin, lo cuma baca tanpa mematuhi. Gue minta lo pulang tapi lo tetap lanjut pergi."
Fay diam, membiarkan Raga berbicara. "Oke kalau lo mau senang-senang, tapi caranya di benerin."
"Cara senang-senang versi lo gimana?"
Raga menghela napas berkali-kali, langkahnya maju, hingga punggung Fay menubruk diinding kamar. Tangan Raga masih terlipat dengan tatapan dalam.
"Sebagai seorang istri party bareng cowok lain? Nemenin cowok lain minum? Itu pantas?"
Degup jantung Fay semakin tidak stabil, jaraknya dengan Raga sangat dekat, ia sama sekali tidak bisa berkutik. Ia hanya mampu menggeleng.
"Gue nggak suka lo lakuin itu. Lo paham?" Kali ini Fay hanya mampu mengangguk.
"Lo party boleh, tapi sama gue. Lo mau main selama apapun boleh, tapi izin gue. Lo kemana aja boleh, tapi kasih tau gue. Lo belanja sepuasnya, semahal apapun itu boleh, tapi gue yang bayar. Bahkan lo sama mantan lo, boleh. Sekali lagi, tapi bilang ke gue dulu."
Raga mengusap rambutnya kasar, "gue minta tolong hargai gue sebagai suami lo."
Fay mendongak, "gue hargai lo. Tapi lo ngertiin gue ga?"
"Ngertiin lo gimana lagi?!"
"Oke gue salah, sejak pagi gue salah. Tapi lo ngerti nggak kenapa gue lakuin itu, kenapa gue cari ketenangan di luar sana? Ngerti perasaan gue ga? Ngerti mau gue ga? Ngerti emosi gue ga?"
Raga semakin maju, tangan kekarnya mengunci Fay di dinding itu. "Gue nggak ngerti, sekarang kasih tau gue semua tentang lo biar gue ngerti."
"Apa perlu gue selalu bilang ke lo? Kasih tau lo mau gue apa, gue ga suka apa, gue emosi, gue sedih, gue sakit hati. Semuanya harus gue kasih tau dulu biar lo ngerti?"
Mengangguk, "iya. Kasih tau gue semua tentang lo."
"Nggak perlu, udah basi."
Terkekeh, "mau lo apa sih? Minta dingertiin tapi lo nggak mau jelasin apa-apa tentang diri lo. Lo menuntut gue untuk paham dan ngerti semua akan lo!"
"Lo juga! Lo nuntut gue untuk selalu ngehargai lo, sedangkan lo sendiri?!"
Fay menunjuk-nunjuk dada bidang Raga. "Dalam hubungan itu harus saling, bukan paling!"
"Saling menghargai, saling mengerti, saling perhatian, saling percaya. Bukan paling!"
Raga terdiam, tangannya mengepal erat di depan dinding. Rahangnya mengeras, wajahnya mulai memerah. Emosinya meluap, tatapannya semakin tajam. Ia semakin tidak suka, mendengar nada tinggi dan tatapan sengit dari Fay. Sudah lama Fay tidak melemparkan tatapan sinis, dan sekarang ia kembali ditatap lebih sinis.
"Lo juga perlu tahu, saling terbuka. Lo gue minta ngomong tentang diri lo sendiri aja enggan," katanya mencoba menahan emosi.
"Harus ya gue jelasin? Dulu sama Arnav nggak perlu gue intro sedetail itu, tapi dia bisa ngertiin gue banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan Muda: Ragatama
Teen Fiction"Lo mahal, Fay. Dapetin lo mahal." "Contohnya dengan mahar helikopter dan sejenisnya. Mahal anjir, istrinya tuan muda," lanjut Raga. •••🖤••• Tentang Tuan muda yang bernama Ragatama, yang kabur saat ditunjuk menjadi CEO oleh ayahnya. Pergi dari ayah...
