55. Hanya Maaf

570 27 8
                                        

BISMILLAH PLEASE SUPPORT AKU, CAPEK BANGET SAMA TUGAS SEKOLAH SAMPAI GA SEMPET NULIS. BTW, INI BELUM AKU REVISI YAA, JADI BANYAK TYPO ATAU SALAH PENULISAN. 

•••🖤•••

Setelah kejadian tadi yang membuat terkejut semua orang, terlebih Fay yang masih tidak menyangka. fakta yang tidak pernah ia duga sebelumnya. fay tidak tahu jika persoalan bisnis akan sekejam ini, apalagi rela mengorbankan nyawa orang. menghela napas sambil memijat keningnya, terasa sangat pening, tubuhnya seakan kembali drop karena masalah ini. 

Seketika, tangan hangat seseorang megusap rambutnya, perlahan ia mendongak. Dilihatnya senyum penuh kelelahan di wajah Raga. 

"Lo pulang aja, gue nanti nyusul," katanya sambil mengelus rambut Fay. 

Fay menatapnya dalam, dengan kerutan di dahi, "lo mau ke mana?" 

Raga tersenyum sejenak, menggeleng pelan degan elusan halusnya. "Lo pulang ya, hati-hati."

Menghela napas, fay tahu raga tidak akan memberitahunya mengenai apa yang akan ia lakukan. Fay tahu, raga pasti memiliki urusn penting yang masih bersangkutan dengan masalh ini. Dan yang fay tahu, Raga tidak ingin membahayakan atau membuat dirinya khawatir. fay hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan Raga pergi dengan urusannya. 

Raga tersenyum, "dikawal temen gue kok, lo aman." 

Fay mengernyit dengan raut heran, "lo kenapa jadi manis gini ke gue?"

Helaan napas terdengar, memperlihatkan kelelahannya menghadaPi Fay. Raga langsung menarik pelan hdung Fay. "jangan ngeledek, Fay."

Fay meringis mengelus hidungnya, "enggak, enggak ngeledek." 

"terus apa?" 

"kan cuma tanya." 

"Gue cuma nyuruh lo pulang aja." 

Fay menunjuk wajah Raga dengan telunjuknya, rautnya ditekuk cemberut, tapi melihat tatapan sengit Raga membuat ia menarik jarinya. Raga terkekeh pelan, "udah, pulang istirahat aja. Tunggu gue di rumah."

"Nggak mau."

Raga mengernyit, "dih! Awas ya nanti malam gue hukum."

Sejenak keduanya sama-sama terkekeh. sebelum Raga pergi duluan. yang entah kemana, Fay tidak tahu.

•••

Laju kencang mobil pajero membelah rame nya jalanan di sore hari, lajunya mengiringi sang surya yang hampir tenggelam. Membuat suasana langit dari warna jingga berubah menjadi gelap. Di tengah suasa menjelang magrib, Vita pulang dengan mobil pajero yang mengantarnya. Meski pulang ke rumah megahnya, tidak ada senyum di rautnya.

Sejak kakinya turun dari mobil itu, melangkah pelan mendekati pintu tinggi yang masih tertutup erat, Vita tetap tertunduk lesu. Bahkan, sekedar memencet bel rumah saja tangannya lemas.

Hingga, pintu itu dibuka lebar untuknya, pelayannya mempersilahkan ia masuk dengan hormat. Menatap sejenak bangunan megah itu, lalu kakinya mulai menjelajah. Menuju tempat yang ia ingin kunjungi, dimana ada seseorang yang menjadi tujuan kedatangannya.

Matanya menatap nanar sesosok laki-laki yang tengah duduk di sofa. Suaranya lirih memanggil, "ayah ..."

Menoleh, ketika telinganya menangkap panggilan lirih dari suara yang ia kenali. Lelaki itu tersenyum lebar sambil berdiri merentangkan tangannya, menyambut putrinya pulang dengan pelukan.

Vita mendekat, menarik napas dalam-dalam kemudian ia menerima pelukan dari ayahnya. Memeluk ayahnya begitu erat, ia rasakan elusan lembut di punggungnya.

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang