56. Obat Capek

683 29 1
                                        

Raga dan Arnav bersender di depan mobil Pajeronya, meneguk sebotol air mineral. Lelah dan kehausan setelah menyaksikan, adegan demi adegan drama keluarga tadi. Benar-benar cukup menguras emosional.

Tiba-tiba Arnav terkekeh, "Vita kayak gue, dihasut untuk jadi pengkhianatan. Miris."

Menoleh, ia ikut terkekeh. "Bodoh sih."

"Iya, kebodohan gue ngebuat gue kehilangan banyak hal."

Raga mengangguk, "sebut aja sahabat dan cewek."

Arnav tersenyum pilu, mengusap wajahnya kasar. Menoleh ke Raga, adu tatapan sejenak, sebelum keduanya sama-sama tertawa kecil sambil memalingkan wajah. Entah apa yang lucu.

"Kalau sahabat, masih bisa gue miliki lagi nggak nih setelah gue kehilangan dia?"

"Dikira gue mau," sahut Raga.

"Lah? Emang sahabat gue, lo?"

Raga menipuk kepala Arnav dengan botol. "Sialan!"

Arnav tertawa, lalu merangkul pundak Raga tiba-tiba. "Katanya konflik dalam persahabatan itu perlu, untuk mempererat hubungan persahabatan."

Raga melirik dari samping, mengamati Arnav dari atas hingga bawah dalam-dalam. Di rasa, situasi yang sangat aneh. Raga menjauh, menatap Arnav penuh heran sambil geleng-geleng kepala.

"Serius, gue merinding."

Giliran Arnav yang menimpuk kepala Raga dengan botol, ia berdecak kesal. "Ah, gue udah nyingkirin gengsi elah."

"Minta maaf bilang aja minta maaf," kata Raga langsung pada intinya.

Arnav semakin kesal, Raga merusak suasananya. Menarik napas dalam-dalam, "iya gue minta maaf atas pengkhianatan gue itu."

"Telat, aturan tiga tahun yang lalu."

"Gue baru tobat sekarang."

"Udah mau mati emang?"

Tangan Arnav terkepal erat, menahan emosinya. "Mending nggak usah jadi temen kita, Ga."

Sekarang Raga tertawa kecil, senang membuat kekesalan pada Arnav. Yang sebenarnya, ini cara mereka untuk kembali menjalin pertemanan. Obrolannya yang arahnya abstrak, seperti pertemanan mereka dahulu.

"Kenapa kebanyakan orang yang sahabatan deket, suka sama orang yang sama?" tanya Arnav.

"Biar ada konflik, katanya konflik mempererat hubungan persahabatan," jawab Raga seadanya.

"Jawaban gue di copy." Raga tertawa kecil.

"Terus, cewek gue yang hilang bisa gue miliki lagi nggak nih?" Arnav mencoba memancing kembali, dirasa Raga hanya menoleh sejenak. Terlihat santai.

"Minimal halalin."

"Sialan!" umpatnya lagi, malah ia yang terpancing kesal.

Raga tersenyum sinis, "ga lucu dong, lo ijab qobul di gereja?"

Arnav menghela napas, batinnya terus mengatakan sabar. "Lo ke Gereja masa nggak ada cewe yang nyantol?"

"Gue ke Gereja ibadah, bukan cari cewek."

"Itu dia, lo taat sama Tuhan lo. Dan Fay, akan gue imami untuk taat dengan Tuhan kita."

Dengan santai, Raga menepuk-nepuk pundak Arnav yang mulai lesu. Tapi sejenak, ia mengerutkan keningnya.

"Tapi lo kan nggak taat, kenapa lo nggak pilih Fay aja?"

Mata Arnav melotot, "maksud lo, gue ninggalin Tuhan gue?"

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang