HAPPY READING
•••🖤•••
Setelah beberapa jam terjebak dikemacatan lalu lintas, laju mobil Raga mulai berjalan lancar. Membawanya sampai di rumah mertua nya, meski sudah sedikit malam. Raga bergegas masuk ke dalam rumah dengan langkah santai, jelas saja terlihat santai karena sekarang statusnya adalah mantu di rumah ini.
Dengan langkah pastinya, dengan beberapa kantong plastik di tangan kanannya. Tersenyum hangat melihat keluarga Fay berkumpul di ruang keluarga, meletakkan bawaannya di atas meja lalu menyalami kedua orang tua Fay.
"Ma, Pa maaf baru datang," ucap Raga ikut duduk di samping Fay.
Bu Nadin memberikan senyum ramah, "udah biasa kejebak macet. Gapapa yang penting udah sampai sini."
"Yang lama itu juga beli ini, Ma."
Raga memisahkan beberapa plastik, ia berikan sekantong pada Pak Rangga, sekantong pada Bu Nadin dan dua kantong lainnya pada Fay.
Pak Rangga mengintip isi plastiknya. "Waduh, apa ini?"
"Biasa lah, Pa."
Pak Rangga semakin penasaran dan segera membuka plastik itu, tertawa senang melihat ada ikan di dalam botol yang berukuran sedang itu. Melirik Raga yang sudah memperlihatkan deretan giginya dengan senang.
"Wah wah, koleksi Papa nambah nih." Senangnya.
Raga terkekeh, "sekarang nambah terus, nggak dikurangi sama kucing aku, Pa."
"Haha kucingmu udah nggak di sini nyawa ikan Papa aman."
Ruangan itu terisi dengan tawa kecil, perhatian semuanya lalu teralihkan ketika Bu Nadin dan Fay membuka kantong plastik.
"Aduh Mama dibawain vas bunga, cantik banget ini, Pa lihat deh." Bu Nadin tampak antusias melihat itu, membuat senyum Raga semakin lebar.
Pak Rangga mengangguk-angguk, "vas Mama tuh udah banyak, ini jangan ditaruh kamar lagi loh ya."
"Yaampun, Papa. Pemberian mantu harus disimpan dengan baik, contohnya di kamar."
"Justru karena dari mantu, harus dipajang di depan biar semua orang lihat."
Raga tersenyum sambil menyangga kepalanya di sandaran kursi, menyimak perdebatan kecil itu. Tiba-tiba ia melirik Fay yang ada di sampingnya, yang masih diam saja sejak ia datang.
"Pa, anaknya kenapa diam aja tuh?" tanya Raga sambil mengadu.
Pak Rangga dan Bu Nadin menoleh, "iya nih, itu dikasih makanan kesukaan kamu kan, Sayang?"
Fay melirik sebox yang berisi ayam goreng dan juga beberapa jajanan Indomaret lainnya. Mengangguk - angguk saja, lalu memberikan senyum tipisnya.
"Fay cuma capek aja, Ma."
Bu Nadin mengelus pundaknya, "yaudah istirahat aja, Raga pasti juga capek. Eh, kalian nginep sini kan?"
Fay menolehkan kepalanya ke Raga, dengan senyum lebar dan anggukan pasti Raga menjawab. Membuat senyum senang itu merekah lagi di wajah Pak Rangga dan Bu Nadin.
"Bagus deh. Kalau gitu istirahat aja ya kalian," lanjut Bu Nadin.
Pak Rangga berdiri, "ke kamar aja, Papa mau urus ikan dulu. Istirahat sana."
Bu Nadin ikut berdiri, tersenyum lalu mengikuti langkah Pak Rangga. Fay dan Raga sama-sama mengangguk, lalu saling pandang.
"Ayo ke kamar," ajak Raga membawa plastik-plastik itu lagi.
Berjalan duluan diikuti oleh Fay, menaiki tangga dengan langkah perlahan. Bagi Raga, tangga rumah Fay ini adalah bagian terfavorit, karena di dinding samping tangga terpasang beberapa foto Fay dari bayi hingga sekarang. Seakan Raga melihat pertumbuhan Fay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan Muda: Ragatama
Teen Fiction"Lo mahal, Fay. Dapetin lo mahal." "Contohnya dengan mahar helikopter dan sejenisnya. Mahal anjir, istrinya tuan muda," lanjut Raga. •••🖤••• Tentang Tuan muda yang bernama Ragatama, yang kabur saat ditunjuk menjadi CEO oleh ayahnya. Pergi dari ayah...
