54. Menerima Kekalahan

504 27 1
                                        

BISMILLAH HAPPY READING GUYSS

•••🖤•••

"Kamu bersedia menanggung resikonya?"

"Saya yakin kasus ini akan teratasi dengan baik, Tuan muda."

"Pertanyaannya, kamu siap menanggung resikonya?"

"Tentu siap, Tuan muda."

Raga mengangguk sekali, "bagus. Taati kata-katamu."

Raga terlihat tersenyum puas dengan jawaban Vita, mungkin ia merasa bangga dengan sektretaris nya yang siap mengorbankan diri seperti itu. Di lain sisi, Vita menyembunyikan rasa gugupnya, perbincangan serius ini sedikit menyulitkan nya. Tapi ia, terus saja melanjutkan.

"Lalu, bagaimana tindakan selanjutnya? Siapa pelakunya?"

Vita masih ingin menuntaskan rasa penasarannya, hal itu yang menjadi sorotan orang-orang sekarang. Gelak tawa sudah berhenti, ruangan yang mendadak sunyi, sorot perhatian terarah pada pertanyaan Vita. Semuanya juga ikut penasaran, bertanya-tanya siapa pelakunya?

Dan satu orang yang tahu jelas pelakunya, hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Tatapannya tenang, mengarah ke depan penuh fokus.

"Pelakunya di depan mata saya," katanya lantang tanpa ragu.

Susunan kata yang dilontarkan Raga, mampu membuat orang-orang di sana melebarkan mulutnya, menganga terkejut. Seakan jantungnya ingin lepas, karena rasa keterkejutannya itu. Terlebih Vita, orang yang berada tepat di depan Raga, objek yang berada di bola mata hitam Raga. Dirinya, langsung diam dengan tidak percaya. Kalimat yang tidak bisa langsung mendapatkan kepercayaan murni.

Fay menarik tubuh Raga menghadapnya. "Jangan bercanda, Raga. Kita lagi serius dengernya."

"Lo nggak ragu sama gue kan?" Raga balik bertanya, pertanyaan yang sebenarnya adalah jawaban akan keraguan semua orang yang ada di sini. Menjawab, keterkejutan mereka.

Fay mengerjap-ngerjap bingung, menatap Raga penuh harap. Tatapan itu selalu meyakinkan nya, tidak ada keraguan sedikitpun. Tapi benaknya, masih belum bisa mempercayai itu. Raga tiba-tiba menggenggam tangannya, memberikan kepercayaan.

Tatapannya beralih pada Vita yang masih terdiam. "Kenapa diam? Saya sudah menjawab pertanyaan kamu."

Tubuh Vita tergunjang, lamunannya juga buyar, wajahnya kebingungan ditambah rasa terkejut itu. Kepalanya dengan pelan menggeleng, mengekspresikan bagaimana ia sangat terkejut dengan jawaban Raga.

"Tuan muda, bukan jawaban seperti itu yang seharusnya. Tolong, jawab dengan jawaban fakta."

Seringain sinis terlukis di sudut bibir Raga, matanya melengos acuh. Decikan yang menandakan ketidak sukaannya, pada perkataan Vita.

"Pembelaan bodoh," desisnya. "Kamu bertanya padahal kamu sendiri tahu fakta jawabannya."

Raga semakin gencar, penuh keyakinan. Meski orang-orang di sana masih dengan kebingungannya.

Arnav angkat suara, "atas dasar apa lo membuat pernyataan seperti itu?"

Arnav juga tidak ingin main judge begitu saja, ia juga perlu bukti akurat untuk mempercayai apa kata Raga. Meski, Arnav tahu Raga tidak akan mungkin sembarangan menuduh. Tapi untuk lebih meyakinkan, diperlukan pernyataan bukti.

Raga menoleh pada Arnav, "lo juga udah tau latar belakang keluarga dia kan? Anak dari siapa dia ini."

Kalimat-kalimat Raga yang semakin membingungkan semua orang, tapi Arnav dan Bayu paham. Tentunya, Vita semakin tegang dengan situasi ini, tapi ia mencoba tetap terlihat tenang. Sekarang, lirikan Raga yang disertai seringainya, membuat Vita meneguk ludahnya.

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang