77. Bersama Teman - Teman

607 36 1
                                        

SELAMAT MEMBACA READER KESAYANGAN KU💗🤩

•••💗•••

Hampir setengah waktu dari 24 jam yang ada, Raga dan Fay habiskan dikamar berduaan. Mau bagaimana lagi? Kunci kamar hilang begitu saja dan baru ketemu saat matahari sudah tenggelam di langit-langit berawan itu. Kunci itu ternyata ada di tong sampah, entah bagaimana bisa masuk ke dalamnya. Yang jelas, sekarang Fay dan Raga sudah bisa keluar kamar itu. Meski nyatanya, terkurung berdua di kamar bukan hal buruk untuk keduanya.

Namun sekarang, di ruang tamu sudah ada seseorang yang bertamu di malam hari seperti ini. Bella datang seorang diri setelah menelpon Fay, karena telah mendapatkan izin, ia pun rela malam-malam datang ke rumah ini. Juga turut senang mendengar kabar bahagia dari teman akrabnya itu. Tetapi, ia datang tidak membawa kabar gembira.

"Jadi, lo beneran korbanin perasaan sendiri?" tanya Fay menatap Bella.

Bella mengangguk setelah meneguk segelas es sirupnya. "Iya, mau bagaimana lagi kalau itu pilihan terbaik?"

"Memang pilihan lainnya apa?"

"Banyak, resikonya juga beragam."

"Sebutin," perintah Raga yang juga ikut nimbrung.

Bella melirik Raga, menghela napas sejenak. "Pilihan pertama, gue balas perasaan Aditya, tapi gue nyiksa perasaan gue sendiri."

"Lo beneran nggak ada rasa sama temen gue itu?"

"Teman lo yang mana? Dua teman lo suka gue, kalau lo lupa."

"Widih! Berasa keren lo ya," balasnya sembari sedikit tertawa.

Hal itu membuat Bella berdecak kesal, Fay yang melihat itu memberikan tatapan sinis pada Raga. Memberi isyarat agar tidak bertingkah. Raga pun dengan kesalnya menurut saja, ia mengubah raut wajahnya menjadi serius lagi.

"Teman gue, yang namanya Aditya," lanjutnya.

"Nggak ada."

"Ok, pilihan kedua?"

"Gue balas perasaan Aknan, artinya perasaan gue juga terbalas. Tapi kasihan Aditya."

Raga manggut-manggut, "bagus! Lo nggak egois dengan perasaan sendiri."

"Maka itu, gue memilih memendam perasaan gue ke Aknan. Kubur dalam-dalam. Dan nggak ada gue pilih antara dua teman lo itu."

"Kok bisa lo naksir modelan Aknan?"

Kening Bella berkerut sedikit kesal, "modelan Aknan? Sembarangan, lo ngeremehin banget!"

"Loh? Gue salah ngomong kah?"

"Mentang-mentang Tuan Muda Ragatama."

"Emang songong dari dulu," sahut Fay ikut berbicara.

Raga menoleh pada gadis di sampingnya, ia mengalungkan lengannya di pundak Fay. "Iya, dong. Istrinya Tuan Muda juga harus belajar sombong."

"Untung ga jadi mantan istrinya tuan muda ya," ledek Bella.

Fay yang mendengar itu lantas tertawa bersamaan dengan Bella. Yang kini giliran ditertawakan, membuat ekspresi kesal dengan kening yang mengkerut.

"Pulang lo, brisik aja!" usirnya dengan kesal.

"Dih? Gue mau nginep sini."

"Nggak ada, pulang sekarang."

"Gue mau tidur sama Fay. Amel juga mau nyusul. Girls time, bro!"

Bella pun tersenyum miring sembari mengedipkan sebelah matanya. Dengan angkuh ia berdiri, berjalan santai menaiki tangga, hingga punggung itu menghilang di lantai atas sana. Mata Raga berganti menatap Fay dengan tatapan sendu, ditatap seperti itu membuat Fay tersenyum geli.

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang