18. Lepasin Dia

722 34 0
                                        

SEMOGAA SUKAA^^

•••🖤•••

Dingin nan sunyinya malam telah Fay habiskan dengan merenung di kamar seorang diri. Mengosongkan pikirannya akan hal-hal lain, dan hanya fokus memikirkan hal yang sungguh membuatnya kacau. Hanya semalam, tapi dirinya terlihat tidak terurus.

Bahkan pagi ini Fay membolos jam kuliahnya, menghabiskan jam paginya dengan di kamar dengan keadaan tidak jauh berbeda seperti semalam. Hanya saja kali  ini ia ditemani Bella dan Amel yang ikut membolos.

Bella menarik selimut Fay, melipatnya dengan rapi. "Nggak bau ompol lo?"

"Si gila, yakali Fay ngompol," timpal Amel menanggapi Bella yang masih sibuk melipat selimut.

"Ngompolnya dari mata," lanjut Bella. "Turun lo, mandi sana. Gue rapiin kasur lo, jadi babu bentar nggak apa."

Fay tertawa kecil, melipat kedua kakinya dan duduk dengan tegap. "Bukan gue yang nyuruh loh ya."

"Biarin, Fay. Nanti kalau ngeluh cuekin aja." Fay terkekeh kecil mendengar tanggapan Amel.

"Turun juga lo, asik banget rebahan sambil makan apel." Amel menatap Bella sinis, lalu turun dari kasur bersamaan dengan Fay.

Fay berjalan menuju meja rias, mengambil karet rambut bermotif Cimmy BT21 lalu menggulung rambutnya. Menatap dirinya di cermin, "semaleman nangis, nggak skincare an, nggak mandi, kucel gini gue."

"Ur always beautiful bestie!" Fay melirik Bella dari kaca, senyumnya mengembang. Tapi setelahnya pudar lagi, senyumnya mulai hilang.

"Cantik sih, tapi bego." Fay tersenyum miris menatap dirinya sendiri. Bella dan Amel menatap Fay dengan diam. "Dibohongi bertahun-tahun haha."

Bella dan Amel saling lirik, keduanya lalu bergerak, Bella menaruh bantalnya yang ia rapikan, Amel menaruh apelnya. Keduanya mendekati Fay yang masih di depan kaca, memeluk Fay dari kedua sisi.

"Cowok itu yang lebih bego karena bisa-bisanya bohongin temen gue," ucap Amel mengelus-elus lengan Fay, dengan memejamkan matanya.

"Nyesel dia," lanjut Bella. Fay tersenyum lebar, menatap dipantulan kaca bagaimana kedua temannya memeluknya dengan erat.

"Kok bisa ya? Selama 5 tahun pacaran gue nggak tahu agama dia?" tanya Fay pada kedua temannya dan dirinya sendiri.

"Lo terlalu percaya sama dia," jawab Bella.

Fay mengangguk lirih. "Gue tahu dia sensitif bahas hal pribadi, sampai gue nggak mau kepo. Dan akhirnya gini kan."

Amel melepaskan pelukannya, memegangi kedua pipi Fay, menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut. Mengambil bedak dan lipstik, memoles nya di wajah Fay.

Fay mengerutkan keningnya heran tiba-tiba di dandani oleh Amel. "Apa anjir?"

"Katanya lo kucel, di lihat Raga lo diejek habis-habisan," balas Amel, Fay diam sejenak, mengingat sikap Raga membuat ia tersenyum lagi.

"Iya anjir, padahal gue cantik," balas Fay yang memuji dirinya sendiri sekarang ini. Bella dan Amel ikut tersenyum, senang Fay tidak sedih lagi. Sederhana saja.

Amel berjalan mengambil apelnya lagi, "mata Raga yang perlu dibawa ke cucian motor, biar bersih tuh."

Fay dan Bella tertawa hambar, Bella kembali berjalan merapikan kasur Fay. Tapi bunyi ketukan pintu membuat langkahnya terhenti. "Gue buka deh."

"Iya babu," balas Amel yang mendapatkan tatapan sinis dari Bella. Segera Bella membukanya, melihat kehadiran Mbok Asih.

"Hallo, Non. Itu di bawah ada temen," ucap Mbok Asih dengan senyum ramahnya. Bella balas memberikan senyum ramahnya.

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang