SELAMAT MEMBACAA MAAF JARANG UPDATE YA
•••🖤•••
Hari sudah mulai redup, adzan telah berkumandang merdu di seluruh penjuru, menandakan waktu sholat Ashar telah tiba. Bergegas, semuanya yang tengah menunggu Fay di ruang ICU menunaikan ibadah nya. Kecuali mereka yang non-muslim, seperti Aknan. Selang dari itu, semuanya kembali lagi ke ruang ICU masih belum ada tanda-tanda Fay sadar.
"Yang belum makan, sana makan dulu, saya yang tanggung biayanya," ujar Pak Raymond tanpa peduli ia juga lapar. Tapi semuanya menggeleng, tidak ada yang selera makan.
Arnav menghela napas, "pesawat Raga delay, Om."
"Gapapa, suruh dia jangan panik dan tetap berdoa," sahut Pak Rangga.
Arnav menurut lalu mengentikan balasan pada Raga, bisa merasakan bagaimana cemasnya Raga saat ini. Ia yang di dekat Fay saja sepanik ini, apalagi Raga yang tengah jauh dari Fay.
Dari keheningan itu, suara pintu terbuka bersamaan langkah kaki membuat semuanya langsung berdiri menunggu dokter keluar. Menunggu dengan penuh harap, dan senyum dokter itu menenangkan.
"Dok, putri saya sudah sadar?" Bu Nadin yang pertama kali bertanya, sudah tidak sabar lagi.
"Untuk saat ini belum," jawab nya membuat semuanya terlihat lesu kembali.
Pak Raymond bertanya. "Lalu bagaimana kondisi mantu saya, Dok?"
"Seperti yang diketahui, ada racun dalam makanan yang ia konsumsi. Racun arsenik ini sangat mematikan dan hanya perlu 200 miligram saja, atau setara dengan satu tetes hujan, untuk membuat seseorang mati dalam dua jam."
Penjelasan itu mampu membuat semuanya langsung lemas, terbengong-bengong dan menutup mulutnya terkejut.
"Tapi ini sudah hampir dua jam, dok," protes Arnav.
"Memang benar, tapi bersyukur pasien segera mendapatkan penanganan. Hingga resiko kematin itu dapat dihindari."
Dokter itu melanjutkan, "Orang yang terkena racun ini biasanya mengalami muntah, kejang-kejang, dan kemudian meninggal dunia. Namun pasien masih bisa bertahan karena pertolongan yang cepat."
"Alhamdulillah," lirih mereka yang kembali mendapatkan secerca harapan.
"Proses cuci darah atau hemodialisis bisa membuang arsenik dalam darah, tapi hanya efektif jika arsenik belum terikat pada jaringan. Selain itu, pasien bisa menjalani terapi khelasi dengan obat-obatan succimer atau dimercaprol untuk mengikat zat arsenik dalam darah agar kemudian bisa dibuang melalui urine."
Pak Rangga mengangguk, "lakukan apapun yang terbaik, dok."
"Kami akan usahakan, diiringi dengan doa kalian semua."
"Boleh saya masuk, dok?"
"Boleh, tapi satu-persatu saja ya," ujar dokter itu memberi izin pada Bu Nadin. "Saya permisi dulu."
"Terimakasih, dok."
Bu Nadin mengusap air matanya, menatap Pak Rangga yang masih menggenggam tangannya terus. Memberikan senyuman hangat dan sedikit anggukan, mempersilakan istrinya masuk dahulu.
Bergegas Bu Nadin masuk, ke ruang ICU itu. Melihat putri kesayangannya, terbaring tanpa sadar di ranjang dengan beberapa infus dan alat-alat lainnya. Hatinya terasa sakit, sesak di dadanya, dan tangisnya kembali menghujani pipinya.
Ibu mana yang kuat melihat anaknya seperti itu? Rasanya, sungguh hancur.
"Sayang, ayo bangun yuk. Banyak drama Korea on going loh, BTS juga mau konser kan? Ayo bangun, nanti nonton konser ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan Muda: Ragatama
Roman pour Adolescents"Lo mahal, Fay. Dapetin lo mahal." "Contohnya dengan mahar helikopter dan sejenisnya. Mahal anjir, istrinya tuan muda," lanjut Raga. •••🖤••• Tentang Tuan muda yang bernama Ragatama, yang kabur saat ditunjuk menjadi CEO oleh ayahnya. Pergi dari ayah...
