HAPPY READING^^
•••🖤•••
Sudah beberapa menit berlalu, menikmati waktu bersama di ruangan kucing. Bermain bersama kucing-kucing itu, menghabiskan makanan yang dibawa Raga, juga menikmati gerimis yang kembali turun. Memalingkan wajahnya dari jendela, menatap Fay yang sedang membereskan bungkus-bungkus makanan itu.
Raga memperhatikan saja, tidak berniat membantu. Membaringkan tubuhnya di karpet, mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi game. Asik dengan dunianya sendiri tanpa peduli Fay yang tengah membersihkan ruangan. Setelah membuang bungkus-bungkus itu, giliran menyapu.
Menatap Raga yang sekarang tengkurapan, jemari-jemarinya lincah memainkan game nya. Menggeram, Fay memukul pantat Raga dengan sapunya. "Pulang sana kalau nggak guna."
Raga berdesis sembari mengelus-elus pantatnya, kembali dengan posisi telentang. "Apa sih? Mau dibantuin?"
"Mau." Raga terkekeh kecil melihat bibir bawah Fay yang maju-maju, mengulurkan tangannya ke arah Fay. "Bantuin," ucap Raga.
Fay menatap sinis, segera menggegam tangan Raga. Menariknya sekuat tenaga, tapi Raga sama sekali tidak mau gerak. "Raga, bangun. Gerak kek, lo berat."
Raga diam-diam tersenyum jahil, perlahan ia bergerak. Iseng menarik tangan Fay, malahan membuat Fay jatuh, hingga lutut Fay menginjak keras perut Raga tanpa sengaja. Alhasil, Raga sendiri yang kesakitan karena ulahnya.
"Arghh aduuh!"
Raga menggeram kesakitan, terinjak lutut Fay cukup keras dan sakit. Fay menutup mulutnya, "astaga bukan salah gue ya. Lo yang narik."
"Aturannya lo jatuh ke pelukan gue. Bukan perut gue keinjek," omel Raga masih memegangi perutnya, meski rasa nyerinya sudah mulai mereda.
Fay berdesis, menepis tangan Raga yang terus memegangi perutnya. "Sakit banget emang? Kayaknya biasa aja deh."
Raga menoyor kepala Fay, membaringkan kepala dan kakinya lagi, tidak jadi duduk. Raga menarik tangan Fay, lalu membuka sedikit bajunya. Menaruh tangan Fay di atas perutnya, dengan sengaja.
Fay melotot tajam dan segera menarik tangannya. Sudah siap berteriak mengomel. "Anjir, Raga! Apaan banget sih? Dosa banget lo!"
Raga tertawa lagi, melihat wajah Fay memerah, gadis itu malu, apalagi terus memegangi tangannya yang barusan menyentuh perut Raga. Fay mengubah rautnya menjadi biasa lagi, memalingkan wajahnya.
"Lo salting ya? Cuma pegang perut doang," goda Raga menusuk-nusuk lengan Fay dengan jarinya. Fay mendesah kesal, berdiri dan mengambil sapunya, tanpa menatap Raga lagi.
"Tutup perut lo itu, nggak usah pamer," ucap Fay lanjut menyapu tanpa peduli pada Raga yang masih berbaring.
Raga melihat perutnya, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring dan menyangga kepalanya dengan telapak tangannya. "Kenapa? Abs gue menggoda ya?"
"Gue sumpelin juga puser lo," desis Fay. Raga tersenyum jahil, mengubah posisinya menjadi duduk. Memandang ke arah jendela, melihat rintik hujan yang mulai mereda.
"Keluar mau nggak?" ajak Raga mengalihkan pandangannya pada Fay.
"Hujan, Ga."
"Udah enggak. Mau jajan nggak?"
"Baru selesai makan kita, Ga. Ini aja belum selesai beresin," jawab Fay masih serius menyapu ruangan.
"Mau jajan lagi nggak?" tawar Raga sekali lagi dengan sabar. Fay menoleh, menggigit bibir bawahnya, tersenyum malu dengan mengangguk kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan Muda: Ragatama
Roman pour Adolescents"Lo mahal, Fay. Dapetin lo mahal." "Contohnya dengan mahar helikopter dan sejenisnya. Mahal anjir, istrinya tuan muda," lanjut Raga. •••🖤••• Tentang Tuan muda yang bernama Ragatama, yang kabur saat ditunjuk menjadi CEO oleh ayahnya. Pergi dari ayah...
