68. Kiriman Surat

598 31 1
                                        

Waktu terus berjalan seperti semestinya, meski beberapa jarum jam mungkin terhenti. Namun tetap saja, tak ada yang dapat menghentikan waktu. Sebagian orang mungkin menginginkan waktu berhenti sejenak, ia terlalu lemah dan tak ada daya sekedar untuk melanjutkan hidup. Seakan semesta tak peduli akan hal itu. Semesta akan tetap berputar sesuai porosnya. Walaupun banyak orang yang tinggal di semesta nya, menginginkan semuanya segera berakhir. Begitu juga dengan salah satu gadis yang sedang terpuruk, dunia nya sedang tidak baik-baik saja. Taoi ia tetap harus menjalani aktivitas nya. 

Sekarang pun ia tengah berusaha untuk mencari Raga, ia harus menemui cowok itu untuk menyelesaikan permasalahan nya. Sudah beberapa jam ia terus berkeliling mencari keberadaan Raga, setiap tempat sudah ia kunjungi. Mulai dari kantor, tongkrongan, kafe favorit nya juga kampus nya. Namun masih saja nihil hasilnya. Bahkan ponsel cowok itu pun tak bisa di hubungi,  Fay seakan sudah pasrah. Tapi tetap saja tekat nya masih kuat. 

Fay menghela napas, duduk di taman kampus Raga. Peluh di pelipisnya perlahan mulai menetes, punggung tangannya ia gunakan untuk mengusap nya. Ia mulai mengeluh. "Ah, capek banget."

Keringat yang mulai bercucuran di wajah nya, menandakan betapa lelah nya ia. Sejak pagi terus berkeliling mencari Raga, bahkan ia belum sempat makan. Fay berpikir untuk pulang saja, tapi teman-teman Raga yang melihat nya, tiba-tiba menghampiri. Mereka merasa kasihan dengan kondisi Fay saat ini.

"Udah lo pulang aja, dia baik-baik aja pasti," ucap Aditya menghampiri.

Fay menoleh, "nggak mau. Gue mau menyelesaikan masalah ini."

"Itu bukan bocah hilang, nggak perlu lo cari-cari," imbuh Bayu. 

Fay terdiam sejenak, ia menunduk kan kepala nya lelah. Apa yang Bayu kata kan benar, ia juga tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk mencari Raga. Tapi tiba- tiba, Kamal menepuk pundak nya membuat ia mendongakkan kepala nya.

"Lo udah cari ke rumah nya?" tanya Kamal.

Fay mengengerut kan kening nya, lalu menggeleng kan kepala nya pelan. "Belum."

"Nah!" Kamal menjentikkan jari nya dengan antusias. "Bos mungkin ada di sana, coba dicari ke sana."

Sejenak Fay terdiam untuk berpikir, mungkin ada benar nya juga Raga ada di rumah Ayah Bunda nya. Namun, rasa nya Fay tidak mungkin ke sana. Jika ia ke sana, masalah ini akan sampai ke keluarga besar mereka. Fay tidak mau semakin membesar, ia ingin menyelesaikan nya sendiri dulu dengan Raga.

Fay menggeleng, "nggak mau."

"Loh? Apa salah nya?"

"Nanti ayah bunda tanya-tanya, kenapa gue cari Raga. Nanti mereka tahu masalah nya."

Mendengar penuturan Fay membuat ke empat cowok itu menghela napas. Kini Bayu menepuk pundak Fay gantian, menatap Fay penuh keyakinan.

"Coba dulu, nggak papa."

Fay menatap teman-teman Raga yang mencoba memberinya dukungan. Tapi rasanya ia sudah lelah dan hampir putus asa. Ia pun menepis pelan tangan Bayu dari pundak nya, kemudian berdiri dengan gelengan kepala lesu. Semangat nya sudah mulai lenyap.

"Gue pulang aja," kata nya.

Melihat raut sendu dan kelelahan di wajah Fay, membuat ke empat cowok itu merasa iba. Tidak tega dengan keadaan teman nya yang seperti itu. Tapi mereka juga tidak tahu harus berbuat seperti apa.

Aditya mengangguk, "iya lebih baik lo pulang aja dulu. Jangan terlalu dipikirin."

"Enggak mikirin juga kepikiran."

"Mikirin gue aja," sahut Kamal diiringi bercanda dan kekehan kecil.

Fay ikut terkekeh pelan sembari geleng-geleng kepala, "iya nanti gue pikirin lo."

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang