05. Perbincangan Kecil

982 41 4
                                        

HAPPY AND ENJOY, BABY📍

•••🖤•••

"Lo selalu butuh gue, duit dan tubuh gue? Ya kan?" goda Raga ikut-ikutan, ingin membuat gadis itu selalu sinis padanya. Melihat raut sinis itu, dengan bibir bawah yang selalu maju beberapa senti saat badmood. Raga memperhatikan nya.

Fay menatap senyum dan wajah cowok itu, senyum jahil yang beberapa kali cowok itu tampilkan di hadapannya. Fay berdesis, mendorong wajah Raga agar menjauh darinya, memalingkan wajahnya. Raga terkekeh lagi, suka melihat wajah kesal itu.

"Ayah, mereka tatap-tatapan tuh," ucap Sasa cepu pada Ayahnya. Otomatis perhatian semua orang kembali teralihkan pada 2 orang tersebut. Yang ditatap hanya saling lempar tatapan sebal.

"Mulutnya cuma buat ngeluh sama ngadu," cibir Raga pada adiknya. Sasa hendak membalas, tapi tepukan lembut dari Bunda nya membuat ia meredup kan emosinya. Jika bukan di rumah orang mereka sudah adu mulut.

Lagi-lagi keduanya kembali digoda, dengan tawa-tawa jahil. Fay rasanya ingin lari ke kamar, melanjutkan rebahan bersama playlist musik yang memasuki gendang telinga nya dengan merdu. Sedangkan Raga memutar-mutar bola matanya, mengamati tiap sudut rumah Fay.

Meneliti barang-barang yang terpajang di sana, dari mulai lukisan, vas bunga, foto dan beberapa barang lainnya. Foto masa kecil Fay, yang sangat menarik untuk Raga. Keningnya berkerut, mengamati lekat-lekat foto itu, sangat teliti.

"Raga kalau mau meminang anak saya, silakan aja kapan. Fay nggak bisa lakuin itu sendiri haha," tawa Pak Rangga masih melanjutkan pembahasan yang tadi. Raga mengalihkan pandangannya dari foto Fay, menyingkirkan raut herannya dan kembali tersenyum malas.

"Nggak, om. Anak om jelek," ucap Raga dengan santainya, merentang kan tangannya di kursi. Pak Rangga dan yang lainnya tidak tersinggung, malahan terus terkekeh. Yang dibicarakan tentu tersinggung, sudah melototkan matanya.

Raga balas menatap Fay tajam, sebelum gadis itu berbicara Raga membuka mulutnya. Menunjuk foto masa kecil Fay. "Dekil, gendut, hitam. Jelek banget lo."

Fay semakin melotot kesal, melempari Raga dengan bantal yang ada. "Itu kecil gue belum tau skincare. Lihat sekarang."

"Sama aja lo jelek," ejek Raga yang tidak mau mengakui kecantikan Fay. Memang nyatanya Fay kecil itu seperti yang dideskripsikan Raga, tapi sekarang Fay dewasa bak Dewi.

"Fay skincare nya mahal, Raga. Tante sampai pusing," adu Bu Nadin memberi tahu, dengan geleng-geleng heran.

"Denger, gue skincare an. Tau glow up nggak lo?" balas Fay, Raga menggendikan bahu acuh.

"Nggak kenal glow up, gue cakep dari lahir sih," balas Raga dengan bangganya. Fay semakin berdecih kesal, menyenderkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya dengan kesal. Bibir bawahnya semakin maju.

"Ih, nggak mau sih gue punya suami modelan lo," ketus Fay.

"Bukannya lo mau punya suami sultan? Kan gue," ucap Raga masih sombong dan percaya diri.

"Bukan lo. Perhitungan, sombong, body shaming lagi," omel Fay menatap Raga dari atas sampai bawah lalu menggelengkan kepalanya keras. Raga ikut melipat kedua tangannya di depan dada, mendekat menatap Fay. Seakan tidak peduli orang-orang di sana melihat mereka.

"Saya juga nggak mau istri kayak dia, om. Tukang jajan, skincare mahal, boros nguras duit, nggak mandi lagi, jadinya dekil," balas Raga yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya. Fay menggeram, menaikkan kakinya ke kursi dan melipat nya seperti tangannya, meski ia malu karena belum mandi. Ah sial!

Pak Rangga tertawa sembari merangkul putrinya yang sangat kesal. Menatap Raga, entah kenapa ia suka dengan Raga, seperti sudah menemukan sosok yang cocok untuk putri nya. Meski keduanya terlihat saling tidak tertarik.

Tuan Muda: RagatamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang