Aku, seorang anak dari Dewa Kehidupan, harus menjalani reinkarnasi ke Alam Peri dan hidup sebagai seorang putri di sana. "Hah... pasti merepotkan," ujarku dengan nada malas.
Bagaimana kelanjutan hidup anak Dewa Kehidupan ini? Apa yang membuatnya sel...
Di dalam kamar Banny Peri, hawa dingin menyebar perlahan dari tubuhnya, memenuhi seluruh ruangan.
"Kenapa aku seperti ini? Hari ini sikapku benar-benar berlebihan. Padahal biasanya aku tidak seperti ini, kan? Apa aku tidak ingin Kakak pergi? Seharusnya dia pergi saja, aku tak perlu peduli padanya. Lagi pula, selama ini meskipun kami dekat, sikapku padanya selalu acuh... Tapi kenapa? Kenapa aku merasa seperti ini?" pikir Banny dengan hati yang penuh gundah.
Bulir bening mulai menggenang di matanya, hingga akhirnya jatuh menjadi butiran mutiara yang menghantam lantai kamarnya. Banny mulai terisak, suara tangisnya memenuhi ruangan, sementara butiran mutiara terus berjatuhan dari pipinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌻❄️
Satu minggu berlalu, namun Banny belum juga keluar dari kamarnya. Keadaan itu membuat para peri di istana menjadi sangat khawatir.
"Aine, dia masih belum keluar juga. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aorora cemas.
"Aku takut dia melakukan hal-hal yang berbahaya," gumam Psyche pelan.
"Apa maksudmu, Psyche?" tanya Aorora dengan raut bingung.
"Seperti mencoba membuka portal ke gerbang sekolah itu, lalu mentransport dirinya ke sana. Atau, kalau dia benar-benar sudah kehilangan akal... mungkin ada hal-hal buruk lain yang bisa terjadi. Jangan lupa, dia lebih pintar dari yang kita kira," jelas Psyche dengan nada serius.
"Baiklah, aku akan menjenguknya sekarang. Semoga dia mau mendengarkan aku," ujar Aine, memutuskan untuk bertindak.
Di depan kamar Banny
"Banny, bisakah kau buka pintunya? Apa kau ingin mengurung dirimu terus seperti ini? Keluarlah, Ibu ingin bicara denganmu," bujuk Aine lembut. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Ibu akan siapkan makanan kesukaanmu. Keluarlah, ayo kita makan bersama," lanjutnya mencoba meyakinkan.
Dari dalam kamar, terdengar suara teriakan Banny. "Makan bersama? Apa maksudmu? Hah?! Dan ingat, kau sendiri yang memutuskan hubungan antara kita sebagai ibu dan anak!"
Kemudian suara tangisnya menggema dari dalam kamar. "Aku... aku tidak punya siapa-siapa di sini. Hiks... Semua... semuanya egois! Tidak ada yang mengerti perasaanku. Ayah dan Ibu... kedua dewa-dewi itu juga tidak peduli! Hiks... Begitu pula di sini, semuanya menyebalkan. Ketika aku mulai dekat dengan Kakak, kalian memisahkan kami. Aku... aku selalu merasa tidak berdaya! Hiks hiks..."
Aine terdiam mendengar semua itu, lalu menjawab dengan suara lirih, "Kami minta maaf, Banny. Kami tidak tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Jika kau sudah siap, keluarlah dari kamarmu. Ketahuilah, kami semua sangat khawatir padamu. Jangan pernah merasa sendirian, Banny. Kami akan selalu menunggumu siap untuk berbicara dengan kami."
Setelah mengatakan itu, Aine meninggalkan pintu kamar Banny, membiarkannya sendirian untuk sementara waktu.
Sementara itu Di dalam kamar, Banny masih memeluk erat bunga matahari yang diberikan kakaknya seminggu lalu. Isaknya perlahan mereda, tetapi matanya tetap basah. Ia memandang bunga itu dengan penuh kerinduan dan perasaan yang bercampur aduk.