Aku, seorang anak dari Dewa Kehidupan, harus menjalani reinkarnasi ke Alam Peri dan hidup sebagai seorang putri di sana. "Hah... pasti merepotkan," ujarku dengan nada malas.
Bagaimana kelanjutan hidup anak Dewa Kehidupan ini? Apa yang membuatnya sel...
Saat ini, Banny, Vidi, dan Volentia sedang berada di ruang kesehatan untuk memulihkan kondisi mereka. Akibat kejadian sebelumnya, mereka harus melewatkan pelajaran pertama di akademi.
"Vidi, apa kau sudah sadar?" tanya Volentia yang menyadari Vidi mulai membuka matanya.
"Ukh... kepalaku sakit," rintih Vidi sambil memegang pelipisnya.
"Sekarang aku ada di mana?" tanyanya bingung, menatap sekitar.
"Kita di ruang kesehatan. Kau tadi pingsan setelah peri yang menindas kita menggunakan kekuatannya untuk menyerangmu," jelas Banny. Vidi terdiam sejenak, lalu mengangguk, mengingat kejadian yang baru saja mereka alami.
"Wah, kau sudah sadar ternyata! Menutup pendarahan pada manusia itu cukup sulit, tapi syukurlah aku berhasil melakukannya. Huh, lega rasanya," ucap petugas kesehatan yang tiba-tiba muncul dengan senyuman lebar.
"Terima kasih," ucap Volentia dan Vidi bersamaan.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini memang tugasku untuk merawat siapa pun yang menjadi bagian dari akademi ini," balas petugas itu dengan ramah, senyumnya makin merekah.
Namun, Banny tiba-tiba bertanya, "Ada satu hal yang membuatku penasaran. Aku tidak merasakan darah peri dalam dirimu, tapi kau bisa menggunakan sihir penyembuh. Sebenarnya, siapa kau?"
Petugas itu tertawa kecil. "Hahaha, kau memang peri yang cukup peka ya! Khem... sebenarnya aku ini manusia biasa, seperti dua temanmu. Aku mendapat surat rekomendasi untuk belajar di akademi ini. Karena tertarik pada bidang kesehatan, aku menjadi murid penjaga ruang kesehatan dan kini bekerja sebagai asisten di sini."
"Mmm... bolehkah aku tahu namamu?" tanya Banny lagi.
"Namaku Angelica. Senang berkenalan dengan kalian!" jawabnya hangat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ah, rupanya kita kedatangan tamu," suara lembut seseorang tiba-tiba terdengar dari arah pintu, membuat mereka refleks menoleh.
"Ah, Master! Selamat pagi," sapa Angelica.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Selamat pagi. Aku Luna. Sepertinya kalian sudah berkenalan dengan asisten ku, ya?" tutur Luna, suaranya begitu menenangkan.
"Apa kalian sudah merasa lebih baik?" Luna memeriksa kondisi mereka satu per satu.
"Ya, kami merasa jauh lebih baik berkat perawatan dari perawat Angel," jawab Vidi sambil tersenyum.
"Ah, jangan panggil aku begitu. Panggil aku 'Kakak' saja, ya!" kata Angelica, sedikit tersipu.
"Hmm, sepertinya kemampuan penyembuhmu semakin hebat, Angel. Aku yakin sebentar lagi kau bisa melampaui aku," puji Luna dengan bangga.
"Terima kasih, Master. Semua ini berkat bimbingan Anda," jawab Angelica malu-malu.
"Oh ya, untuk kalian bertiga, aku punya pil obat ini. Obat ini berguna untuk menghentikan pendarahan dan mempercepat pemulihan," ujar Luna sambil memberikan beberapa pil kepada mereka.
KRING KRING KRING
Bel istirahat berbunyi.
"Sepertinya waktu istirahat sudah tiba. Sebaiknya kalian mengisi perut sebelum pelajaran berikutnya dimulai," kata Luna lembut.
"Iya. Terima kasih sekali lagi," ucap mereka bertiga serempak sebelum meninggalkan ruang kesehatan.
❄️
Di Kantin
Begitu memasuki kantin, Vidi dan Volentia langsung waspada, mengamati sekeliling untuk memastikan Fay tidak ada di sana.
"Vidi, Vo," panggil Banny.
"Ah, iya, Banny," jawab Volentia.
"Ayo kita ambil makanan," ajak Banny. Keduanya mengangguk, mengikuti langkah Banny.
Setelah mengantri sebentar, mereka berhasil mendapatkan makanan pilihan masing-masing dan mencari meja untuk duduk. Namun, tiba-tiba...
DUUKK!
"Ahh!" Volentia terjatuh, dan makanannya tumpah ke lantai. Ia hanya bisa menunduk, mengetahui siapa yang menabrak bahu nya sampai membuat makanan yang dia pegang tumpah ke lantai.
Vo pun hanya bisa menunduk dia sudah tahu siapa pelakunya tapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa dihadapan orang itu
"Oh, maaf, aku menyenggolmu ya," ucap Fay dengan senyum licik di wajahnya.
Volentia kini terduduk di lantai, kepalanya menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa dia selalu mengganggu kita?" lirih Volentia dengan suara hampir tak terdengar.
"Itu karena kalian adalah orang-orang rendahan," cibir Fay sambil mencengkeram dagu Volentia dengan kasar, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Dua manusia rendahan dan satu peri lemah. Sungguh, kalian ini benar-benar tidak berguna," lanjut Fay sebelum melepaskan dagu Volentia dengan gerakan kasar yang membuat gadis itu terhuyung.
'Ukh... Aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa...' batin Banny, merasakan kekalahan dalam dirinya.
Namun, tiba-tiba Vidi maju. Dengan pisau kecil di tangannya, ia mendekat ke arah Fay.
"Jangan pernah mengganggu kami lagi," ucap Vidi tegas, suaranya penuh keberanian. Pisau itu diarahkan ke leher Fay, membuat peri sombong itu terkejut.
"Apa-apaan kau ini?" bentak Fay, berusaha menggunakan kekuatannya untuk menyerang balik.
PENGUMUMAN: FAY PERI SEGERA MENUJU KANTOR KEPALA SEKOLAH.
"Ukh... Awas saja kau!" ancamnya dingin sebelum meninggalkan kantin dengan langkah cepat.
"Vo, ayo bangun. Semuanya sudah selesai," ucap Vidi, menunduk untuk membantu Volentia berdiri.
"Kau boleh makan punyaku. Toh kita memesan makanan yang sama, kan?" tawar Banny, wajahnya tetap datar seperti biasa.
"T-tapi..." Volentia tergagap, merasa tidak enak.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Ayo kita cari meja makan," potong Banny. Ia segera menarik tangan Volentia, diikuti Vidi yang membawa makanannya sendiri.
Mereka bertiga pun mencari tempat duduk, berharap bisa makan dengan tenang meskipun insiden barusan masih membekas dalam hati mereka.