Setelah karya terbit selalu ada kekecewaan dan perasaan sedih. Kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh para penulis dan pemikir. Kesedihan yang begitu tak menyenangkan dan seringkali menjengkelkan.
Banyak dari kita sudah tahu, menghasilkan karya intelektual atau sastra tak membuat kita kaya. Biasanya jarang dari kita yang benar-benar makmur dari hasil menerbitkan buku. Apalagi bagi penulis pinggiran yang tak terkenal. Karyanya bisa dibeli beberapa orang saja sudah lumayan bagus.
Para pemenang penghargaan bergengsi saja nyaris kesusahan menjual karyanya. Apalagi para penulis dan pemikir pinggiran?
Di Indonesia, mengumpulkan uang jauh lebih menghibur dari pada mengumpulkan pemikiran. Kamu bisa membeli apa saja. Dari rumah, hobi, calon istri, sampai teman dan orang yang mengagumimu. Bahkan kamu bisa membuat tetanggamu marah, iri, dan depresi karena kamu lebih makmur. Dari pada menulis buku? Selain temanmu sendiri tak peduli. Hampir semua orang juga tak peduli.
Selesaikan semua tulisan penting yang kamu miliki sebelum berumur tiga puluh tahun. Selesaikan urusan ekonomi sebelun umur empat puluh. Dan setelah di atas empat puluh tahun. Kamu bisa fokus mencari uang, memakmurkan diri, dan sesekali masih menulis. Atau terus menulis sebagai bentuk pencarian intelektual tanpa banyak ambisi masa muda yang ingin dikenal, dikagumi, dan dianggap berbeda.
Atau setidaknya, selesaikan beberapa karya yang kamu anggap penting di umur sebelum 35 tahun. Setelah itu fokus mencari materi. Fokus mencari uang dan makmur.
Di negara kita ini, menjadi makmur jauh lebih berharga dan penting dari pada menjadi intelektual, seniman miskin atau sastrawan gelandangan.
Mau sebanyak apa pun karya yang kita miliki. Tak banyak orang yang akan terkesan. Terlebih orang-orang terdekat kita. Dan orang terdekat kita biasanya yang paling jarang menghargai karya-karya kita.
Di Indonesia, menjadi kaya jauh lebih menarik. Baru kemudian, kamu bisa menulis dan menghasilan karya sesuka hatimu tanpa harus peduli apakah ada orang yang akan membeli, membaca atau menghargai.
Setelah 2023 dan seterusnya, aku akan fokus ke ekonomi. Menikmati berbagai perjalanan. Membeli berbagai macam hobi. Dan menikmati sisa dari dunia yang membosankan ini.
Menjadi makmur. Memiliki pasangan hidup. Lalu menghilang dari orang-orang. Itulah cara terbaik bagi para sastrawan, seniman, penulis, dan para pemikir harus lakukan. Cara terbaik untuk melindungi diri agar masih bisa menikmati proses menua.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
