Tak ada yang lebih meresahkan, jika absurdisme, sebagai nilai dan filsafat, menjadi penjaga hidup dalam kegamangan tiada akhir. Saat satu kaki bergerak terlampau bebas dengan gemetar, dan kaki satunya berada di ujung batas dari yang tak ingin diakhiri. Maka, yang tersisa adalah waktu yang menelan waktu.
Ulangan abadi. Penyangkalan dan kegelisahan tiada akhir tanpa keinginan untuk menyelesaikan persoalan dasar yang paling penting.
Dalam hidup yang tak bermakna dan mungkin juga tak berguna. Manusia absurd menjejali jiwanya dengan pemaksaan akan hidup. Menolak mengakhiri. Membiarkan sang waktu menelan usia dan bergerak sangat lambat di jalan yang paling ujung.
Aburdisme tak lain bukan adalah pengetahuan yang ditolak oleh manusia absurd akan dunia yang sudah cukup dimengertinya. Tak ada jalan keluar. Bersuka ria dalam pembodohan atas diri sendiri. Dan menikmati kekosongan serta kehampaan layaknya masa lalu yang akan terus menjadi masa lalu.
Bunuh diri adalah kasus langka. Karena penderitaan dan menyakiti diri sendiri adalah bagian dari nilai-nilai yang dipegang oleh manusia absurd.
Di depan para absurdis, bunuh diri tak layak untuk diwujudkan. Bahkan jika itu bunuh diri perseorangan.
Entah sejak kapan filsafat menjadi nyaris berhenti dan tak memiliki apa pun untuk diberikan. Hanya menjadi salinan kasar dari eksistensialisme dan nihilisme yang malu-malu.
Dan filsafat yang semacam itu, menjadi begitu mengerikan karena begitu nyaman dengan segala jenis ulangan.
Bunuh diri perseorang juga tak akan menjadi jawaban karena tak berarti banyak. Sekedar riak sepele dari begitu banyaknya kelahiran dan pernikahan yang tiada henti.
Kematian massal atau bunuh diri massal pun, hanyalah bagian dar riak kecil lainnya. Kematian hanya sekedar kematian. Bunuh diri hanya sekedar bunuh diri. Sebanyak apa pun jumlahnya, jika manusia tetap memperbanyak diri, absurdisme akan menjadi bagian dan bahkan benteng bagi umat manusia.
Ada hal yang menarik dari kasus bunuh diri massal. Karena hal semacam itu semakin mendekati nihilisme yang tanpa jalan kembali.
Juga, perasaan akan kematian dan kehampaan hidup, yang menghampiri sekian banyak orang, seharusnya menuju titik paling akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
