Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ANDI PANGERAN: JATUHNYA ILMUWAN YANG SAKIT DAN PENUH LUKA EMOSIONAL

43 2 2
                                        

ANDI P HASANUDDIN

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ANDI P HASANUDDIN. Kami pernah mendirikan komunitas astronomi bersama semasa kami masih kuliah. Dia orang yang cerdas. Sangking cerdasnya, dia bisa membantu menyelesaikan tesis astronomi yang diperuntukkan bagi S2 saat dia sendiri masih berstatus mahasiswa S1. Punya keinginan besar dalam urusan ilmu pengetahuan. Dari filsafat, sains, ilmu sosial, sampai hal-hal yang berkaitan dengan beragam aliran kepercayaan yang mapan atau yang aneh.

Begitu juga dengan diriku. Karena semua itu menarik pada waktu. Masa-masa, dunia intelektual masih agak sedikit menyenangkan.

Sekitar sepuluh tahunan kemudian, ia menjadi ilmuwan dan makin condong ke agama. Sedangkan aku, menjadi semakin individualis, menjadi pemikir bebas, menikmati mempelajari psikologi dan mendeklarasikan diri sebagai filsuf.

Kami berdua sama-sama sakit oleh orang tua kita masing-masing. Tapi Andi mengalami sakit emosional yang berbeda. Kisah hidup yang jauh lebih mengerikan dan sangat tak menyenangkan. Tidak hanya mengarah ke gangguan kejiwaan seperti kecemasan dan lainnya. Tapi mengalami kemarahan yang tak terputus yang menjadi PTSD-pasca trauma, sejak ayahnya menghilang dan meninggalkan rumah sewaktu ia masih sangat kecil dan nyaris tak pernah kembali. Pukulan kuat bagi perasan dan mental dia yang tak pernah bisa ia sembuhkan hingga kini.

Sepertinya ia juga mengidap autisme sewaktu kecil dan terbebani oleh kedua orang tua yang sama-sama tak bertanggung jawab.

Kegagalan memaafkan ayahnya yang pergi mendadak dan ibunya yang aku anggap sebagai toxic dan tak bertanggung jawab juga. Membuat laki-laki yang awalnya pemalu itu, dan terlihat sangat lembut menjadi mudah marah dan depresi yang berkepanjangan.

Saat melihat raut mukanya, tatapan matanya, dan lingkar matanya yang menghitam. Kamu pasti akan tahu bahwa ia adalah orang yang sakit secara kejiwaan dan pikiran.

Ia harus menjadi tulang punggung keluarga sedari muda. Membayar kontrakan. Membiayai sekolah adiknya dari kecil sampai kuliah. Membayari keperluan hidup ibunya. Dan tak pernah bisa lepas dari genggaman ibunya sejak saat aku mengenal dia.

Rela tak makan saat kuliah demi menghemat uang atau saat tak ada uang, ia rela berjalan kaki puluhan kilometer dari kampus ke rumahnya. Atau tempat kami berkumpul sebagai satu komunitas pada waktu. Berjalan kaki antara 12-18 kilometer hanya untuk pulang. Karena kendaraan hanya untuk adiknya yang dicintai ibunya.

Keluhan dia sejak dulu selalu sama. Terbebani oleh perasaan tanggung jawab harus membiayai ibu dan adiknya. Tak bisa menjadi diri sendiri. Selalu merasa diikat. Tertekan oleh tanggung jawab yang harusnya itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Bukan dia sebagai anak yang sakit secara emosional dan masih harus menyelesaikan banyak hal yang dia sukai. Kadang ia bercerita bahwa ia merasa bahwa ia sebagai anak yang tak dicintai. Karena ibunya selalu saja lebih memanjakan dan membenarkan semua yang adiknya lakukan, inginkan, dan maui. Dia adalah anak pertama yang ditinggalkan oleh ayahnya dan tak dianggap oleh ibunya.

Hidupnya yang rapuh, tak bisa mandiri, mengidap banyak masalah emosional sedari dini. Membuat ibunya bisa memanfaatkan dirinya dengan mudah dan menjadi sumber ekonomi dari semuanya.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang