Kelak jika kalian menderita dan sangat butuh pertolongan. Jangan mengikuti caraku yang seringkali menggunakan diriku sendiri sebagai eksperimen hidup agar bisa melihat kemungkinan yang terjadi di masa depan yang jauh atau dekat mengenai gambaran masyarakat macam apa yang kelak akan ada dan mungkin akan terwujud.
Bayangkan, aku sedang menderita, sangat cemas, ingin mati dan butuh pertolongan tapi aku malah mengusir hampir semua orang yang menolongku dengan berperilaku atau berpikir tidak sesuai yang mereka inginkan. Apa yang bakal terjadi? Empati yang coba mereka ulurkan surut begitu cepatnya. Empati manusia di masa aku hidup sangatlah selektif. Aku menyebutnya sebagai batas empati, sedikit berbeda dengan empati yang dikhayalkan, gagasanku yang lain.
Sejauh mana seseorang masih mau menolong orang lain dan seberapa lama durasi menolong yang bakal bisa mereka berikan? Seberapa jauh mereka bisa membantu saat orang yang ditolong di tengah jalan tidak sesuai dengan standar moral, agama, cara pandang hidup dan lain sebagainya. Apakah mereka masih akan membantu atau menarik dukungan dengan begitu cepatnya?
Masyarakat di mana aku hidup sangat tersiksa oleh kehidupan mereka sendiri. Mereka terjatuh dalam rasa sakit massal dengan hubungan sosial yang rusak di sana sini. Terlalu banyak trauma dan ketidakbahagiaan di antara mereka yang hidup. Kolamnya sudah terlalu keruh dan membusuk. Mereka harus berfokus pada diri sendiri lebih dulu agar bisa terus hidup dan berempati terhadap orang lain hanyalah pilihan kesekian. Jika mereka tidak menyelamatkan diri mereka sendiri lalu siapa?
Tak ada orang lain yang akan menyelamatkan mereka. Mereka pada akhirnya menjadi jauh lebih egois dan semakin berpusat ke diri sendiri.
Jika mereka, terlebih yang sudah berumur atau menua hidup di abad yang lalu mungkin mereka akan menjadi orang-orang yang sangat baik dan tak segan menolong mereka yang kesusahan. Orang-orang tua yang mencoba menolong dan berempati kepadaku adalah orang-orang tua yang ramah dan masih banyak sisa dari hati yang baik di antara mereka.
Sayangnya, mereka menua dalam masyarakat yang semakin buruk dengan politik, hukum, kebijakan dan pemimpin negara yang sama buruknya yang secara langsung mengikis banyak praktik empati dan kebaikan di masyarakat.
Hanya dengan kebijakan dan penerapan hukum yang buruk. Masyarakat yang baik semakin takut berbuat baik dan menolong orang lain. Salah satu contoh bagaimana penerapan nilai kebaikan menjadi rusak di masyarakat secara luas. Belum yang lainnya.
Apa yang tersisa dari generasi tua mengenai empati dan batasan yang mereka miliki?
Mereka sangat ingin menolong seseorang tapi sayangnya mereka sibuk dengan keluarga mereka sendiri. Dengan orang-orang yang sudah lebih dulu mereka bantu dan juga punya banyak masalah yang harus mereka selesaikan sendiri. Banyak dari mereka juga punya trauma dan sakit emosional yang menggunung. Tangan dan pikiran mereka sangat terbatas. Beberapa di antara mereka masih sangat baik. Beberapa lainnya sudah rusak oleh sejarah hidup mereka sehingga empati sosial mereka sudah tak lagi berfungsi. Bahkan sebagian dari mereka hidup dengan menjadi sumber masalah dan penyakit emosional bagi yang lainnya.
Mereka kelak tak akan ada di dunia remaja atau dewasa kalian karena banyak dari mereka sudah mati atau sudah terlalu tua untuk bisa memengaruhi dunia kalian. Atau bisa jadi mereka menjadi tempat ternyaman kalian daripada orangtua kalian sendiri yang bermasalah.
Daripada membahas para orangtua di masa aku hidup yang kelak menjadi tak penting di usia kalian yang sudah dewasa. Mari kita beralih ke mereka yang muda, yang memiliki umur tak jauh beda dengan diriku atau yang jauh lebih muda.
Membahas mereka ini jauh lebih penting karena mereka kelak akan menjadi ancaman bagi kebahagiaan kalian atau bahkan musuh dan sumber dari banyaknya rasa sakit hidup kalian.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
