DI ANTARA SENI DAN SENIMAN YANG SAKIT

42 3 0
                                        

Di dalam sebuah galeri yang ramai dan penuh dengan manusia yang entah. Lukisan dan karya-karya seni lainnya dipandangi sekilas lalu terlupakan sedemikian cepatnya. Orang-orang terlihat tertarik sejenak lalu yang tersisa adalah ketidakhadiran. Suatu keadaan yang mana, kenangan menjadi begitu rapuh dan tipis. Obrolan antar teman jauh lebih penting daripada seluruh karya seni yang ada di galeri kesenian itu sendiri. Atau seseorang yang pergi sendirian menuju pameran kesenian lalu berakhir pada kesendirian.

Tak ada apa-apa yang didapat. Kecuali kilasan rasa tertarik yang sebentar datang saat melihat karya seni tertentu lalu berakhir pada jeda yang berakhir menjadi perasaan sedih, gelisah, entah, dan renungan panjang dalam diam mengenai pahitnya hidup.

Orang-orang yang bukan seniman memasuki galeri seni tak lagi sebagai orang yang benar-benar menyukai seni. Mereka hanya menggunakan karya seni untuk lari dari kehidupan yang membosankan dan tekanan hidup dari dunia harian. Inilah sebabnya, para penonton seni tak lagi menjadi penikmat seni. Mereka sekadar kerumunan orang-orang yang hampir mati yang tak sengaja menemukan seni untuk sedikit memperpanjang hidupnya.

Mereka datang untuk mengelabui rasa sakit mereka. Dalam kesendirian atau dalam gerombolan orang-orang yang seolah-seolah saling asyik bercerita tapi setelah sampai ke kamarnya masing-masing. Mendadak saja, segala penderitaan datang kembali.

Karya seni dan sang seniman yang karyanya dipamerkan bukan lagi bagian penting dari mereka yang datang ke pameran kesenian. Bagi mereka, seni sudah tak lagi penting sebagai seni itu sendiri. Sebagai hal yang harus didekati dan dinikmati lebih dalam.

Seni tak lain bukan hanyalah kilasan singkat penghambat rasa sakitnya kehidupan. Distraksi dari kehidupan yang tak menyenangkan. Sebagai benda-benda yang didatangi untuk diperkosa demi kenikmatan sejenak lalu ditinggalkan sepenuhnya tanpa perlu menoleh kembali.

Secara kasar, karya seni dan galeri seni sekarang menjadi titik kumpul orang kaya dan berpendidikan sebagai bentuk hiburan dan pesta. Mirip semacam wahana bermain yang didatangi untuk bersenang-senang dengan cara menikmati suatu momen kebersamaan dengan yang lain tapi tak lagi tertuju ke karya dan seniman yang membuatnya.

Sangking tak pentingnya karya seni di abad yang penuh kegelisahan semacam ini. Para seniman dan karya mereka hanya mampu bertahan karena jejalin pertemanan, politik antar seniman dan pemilik ekonomi, dan orang-orang yang nyaris tak tahu apa-apa dengan seni yang membeli apa saja yang disukai matanya dengan adanya uang di tangan mereka.

Jika medan seni yang kokoh itu dihapus seketika dan nyaris tak ada. Nasib para seniman nyaris akan lebih buruk daripada penyair.

Sejujurnya di abad kita ini, para seniman menempati posisi yang
paling menyedihkan dari sekian banyak kasus yang terjadi di antara para pemikir, filsuf, ilmuwan, atau bahkan penyair yang lebih bebas, mandiri, dan cenderung bangga dengan keliaran dan keunikan mereka.

Sejak mereka memasuki dunia kesenian. Para seniman muda sudah dirantai dalam batasan-batasan. Mereka tak banyak dijinkan untuk memberontak. Mempertanyakan secara jujur apa yang ada di sekitar mereka. Mereka dikondisikan untuk diam dan melupakan kejujuran berpendapat. Mereka dieksploitasi sedemikian rupanya sehingga nyaris kehilangan kemampuan berpikir dan kebebasan bersuara.

Apalagi kebebasan membuat karya mulai menghilang dalam diri mereka.

Yah, di depan mataku, para seniman hari ini tak lain bukan adalah semacam budak yang dipelihara. Yang dibesarkan dan diberi makan secara terbatas oleh orang-orang yang jauh lebih kaya dan berpengaruh.

Sekadar untuk remah ekonomi dan kenyamanan hidup. Banyak seniman berakhir memenjarakan diri sendiri dalam aturan-aturan pemilik galeri, mereka yang memiliki uang, dan para pembeli yang cenderung buta.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang