Kenapa masih berdebat dan berbincang dengan Goenawan Mohamad, perihal banyak hal. Terlebih filsafat? Cukup seperti diriku, yang menikmati bagaimana ia menulis, Rupa, Kata, Obyek, dan Yang Grostek, dan buku-buku miliknya yang lain. Cukup nikmati saja. Tak usah ditanyakan. Dipermasalahkan. Atau berdebat lagi.
Kita sama-sama tahu, bahwa Goenawan hanyalah sosok akhir dari dilema kaum absurd. Hanya itu. Tak pernah mau menjawab dengan jelas. Segalanya mungkin. Dan juga, tak pernah ingin serius bunuh diri dan mengakhiri manusia bukan?
Lucunya, Lukas Luwarso menanggapi tulisan Goenawan dengan panjang lebar. Untuk apa lagi mempertanyakan Goenawan Mohamad saat kita semua sama-sama tahu, Goenawan Mohamad akan terus di posisi semacam itu.
Mati tidak mau. Terus hidup dengan pertanyaan-pertanyaan. Juga, melanjutkan hidup dan sebisa mungkin menikmatinya, walau fisik dan batin menderita.
Kita bisa meringkas Goenawan Mohamad semacam gabungan antara terlanjur harus meneruskan hidup dan manusia yang dibebani pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Lalu, mengambangkan semua tulisan dia dan pertanyaan-pertanyaan dia sendiri. Tak berani mengambil keputusan tegas. KIta sudah melihat rupa sains hari ini dan sebagiannya ada dalam kedirian Goenawan Mohamad selama ini.
Sekabur apa pun tulisan Goenawan. Ketidaktegasannya akan kembali ke kehidupan. Meneruskan hidup. Suka atau tidak suka.
Dan sains juga sama saja. Semacam alat atau sarana agar manusia terus hidup, berkembang biak, dan bahkan berekspansi, entah ke dunia yang jauh, luar angkasa yang entah itu.
Apa filsafat mati? Filsafat tak akan mati sampai kapan pun. Filsafat hanya ditolak untuk dipikirkan dan diterapkan di dunia nyata secara keras. Karena tak seluruh penemuan filsafat berujung menyenangkan.
Selama ada manusia. Filsafat akan terus ada. Entah sebagai metode atau sekedar pertanyaan-pertanyaan kuno yang tak pernah terselesaikan dan muncul kembali berulang-ulang.
Sampai kemunculan para robot yang mulai mempertanyakan diri sendiri, siapa yang menciptakan mereka, dan untuk alasan apa mereka hidup.
Karena mayoritas besar manusia tak ingin menyelesaikan penemuan-penemuan filsafat. Dan karena sebagian penemuan filsafat itu tak menyenangkan. Maka, sains secara tak jujur dan terus terang, mengambil nilai-nilai filsafat yang mendukung kehidupan. Filsafat yang berguna. Filsafat yang mendukung keberlangsungan umat manusia. Yang menghasilkan jenis para filsuf-sains yang tak berani beranjak jauh. Mereka akan disingkirkan dalam perebutan mencari nama, kekuasan, penghargaan, uang, dan kekayaan. Mereka akan disingkirkan kalau secara sungguh-sungguh mengutarakan pemikirannya.
Ateisme modern yang beranjak pada sains hari ini. Itulah contoh nyata dari pada sains yang tak lebih dari pada salinan dari Goenawan Mohamad. Para ateis yang takut mati. Masih ingin hidup lama. Menikmati dunia. Dan bersama-sama membangun sains untuk meneruskan kehidupan.
Para ateis pun masih sangat memuja dan memelihara kehidupan dengan dalih sains dan kemanusiaan. Padahal, mereka hanya orang-orang yang tak mau menerima kenyataan pahit atas penemuan mereka sendiri. Mereka berhenti berpikir dan aman dalam cangkan sains yang didorong untuk terus membiakkan manusia.
Para saintis menolak filsafat karena filsafat bisa sangat merusak kehidupan mereka. Merusak kehidupan sosial mereka. Pencapaian mereka. Kejayaan mereka. Ekonomi mereka. Dan ketidakinginan dikucilkan dan disingkirkan.
Mereka sangat tahu, filsafat dan sains adalah gabungan yang menakutkan jika benar-benar diterapkan. Karena semua penemuan saintifik adalah dukungan yang luar biasa menyakitkan bagi pertanyaan-pertanyaan filosofis.
Karena itu menakutkan. Tak banyak yang siap. Kebanyakan masih ingin hidup dan menikmati kemewahan dunia. Para sainstis membatasi diri. Jumlah filsuf-saintis akhirnya tak banyak. Dan mereka juga seringkali tersingkir dari publik secara luas.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
