PERANG SAUDARA ATAU REFERENDUM SERENTAK-PARSIAL

7 0 0
                                        

Kenapa banyak orang-orang kaya berpendidikan tinggi dan ahli di bidangnya bisa begitu bodoh dalam pengetahuan politik dan memilih para pemimpin bodoh, yang tak hanya tidak ahli di bidangnya tapi memiliki kecenderungan buruk di masa lalu?

Kita tidak hidup di abad yang kemarin, saat Hitler dan para pemimpin fasis lainnya mampu berkuasa dengan kemampuan orasinya yang luar biasa dipadukan dengan kekerasan dan tak jarang juga kemampuan mengelola negara yang juga hebat. Atau para penguasa Rusia dan Uni Soviet yang cenderung brutal tapi mereka sangat pandai mengatur negara dan juga dikenal sangat pintar.

Kenapa kita terlalu sering memilih pemimpin bodoh yang tak pandai mengurus apa pun padahal kita memiliki kekayaan di tangan, bernapas di abad kebebasan, ada banyak informasi yang mudah didapatkan, hampir semua dari kita bersekolah dan menikmati pendidikan tinggi, hidup dalam dunia internet yang begitu gampangnya mencari apa pun, dan kita tidak berada dalam masa peperangan atau berada di bawah junta militer yang menekan.

Kenapa banyak dari masyarakat Indonesia malah menjadi semakin bodoh dalam politik sewaktu mereka semakin makmur dan berpendidikan? Tidakkah luar biasa mengerikan, menjadi kaya dan berpendidikan tinggi tapi tak bisa menilai dengan baik dinamika perpolitikan di negara sendiri? Apa yang salah dalam diri bangsa Indonesia secara keseluruhan sehingga kekayaan, pendidikan tinggi, dan keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan, usaha atau pekerjaan malah semakin membuat banyak orang tak pandai menilai karakter para politisi yang ingin berkuasa.

Banyak orang semakin ahli dalam mencari uang dan kian pintar dalam bidang yang umum itu. Kenapa, kecerdasan politik tidak ikut serta? Kenapa, bahkan para ilmuwan dan pengusaha pintar dan cerdas di negara ini banyak sekali yang memilih para pemimpin buruk yang cenderung otoriter atau korup?

Sejak awal memang sudah ada yang salah dengan arah negara ini berjalan. Pasti ada yang salah, jika orang-orang berpendidikan tinggi yang lahir dari rahim kemakmuran terlalu sering salah memilih presiden dan tak becus menjadi penyeimbang kekuasaan yang kian membusuk. Mereka bukan orang miskin dan tak berpendidikan yang hidupnya sudah kacau dengan kehidupan sehari-hari. Mereka orang memiliki banyak hal. Sangat banyak. Kenapa? Kenapa itu bisa terjadi?

Pasti ada yang salah, kenapa kekayaan dan pendidikan tinggi cenderung melahirkan kebodohan massal seperti yang kita tahu sekarang ini.

Sayangnya itu sudah agak terlambat. Aku ingin membicarakan dampak lanjutan dari kebodohan massal yang akhir-akhir begitu terlihat semakin jelas. Tidak hanya bisa disaksikan sendiri lewat pemilihan umum, beberapa presiden yang terpilih beserta para menteri yang ada di belakangnya atau anggota dewan dan segenap orang korup yang memenuhi negara ini.

Aku ingin melihat kemungkinan akhir negara bernama Indonesia. Akhir yang bisa dicegah dengan mudah tapi tak banyak orang yang hidup di dalamnya tak berkepentingan untuk menyelamatkannya.

***

Mana yang kelak harus kita atau lebih tepatnya kalian pilih, antara perang saudara atau referendum serentak-parsial?

Sejarah kediktatoran di Indonesia selalu berlangsung cukup lama. Untuk menjatuhkan Soekarno, negara ini perlu banyak pemberontakan,  kudeta berdarah, banyak demonstrasi besar digelar, krisis ekonomi, sampai pada akhirnya perang sesama saudara sendiri yang melahirkan kekuasaan baru yang lebih otoriter dan bertahan jauh lebih lama.

Untuk bisa menurunkan Soeharto. Rakyat Indonesia perlu waktu sampai tiga dekade lamanya. Sewaktu diktator itu masih cukup muda hingga menjadi tua dan rambutnya memutih. Ada beberapa kali percobaan pemberontakan. Ekonomi negara yang memburuk. Banyak sekali demontrasi yang rusuh.

Para pemimpin otoriter bertahan sangat lama layaknya para raja di masa lalu.

Hal yang menarik adalah begitu banyaknya demonstrasi skala besar yang hanya berakhir dalam kerusuhan, mencabut satu dua hal kebijakan yang tak menguntungkan, dan lebih sering berhenti dalam kekalahan.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang