Jika kamu sering membaca majalah National Geographic Indonesia, terutama edisi khusus 20 tahun perayaan organisasi di halaman kedua terdapat kalimat semacam ini, "Kami meyakini kekuatan ilmu pengetahuan, penjelajahan, dan cara bertutur yang mengubah dunia."
Di bawah kalimat itu ada struktur organisasi atau posisi pekerjaan, yang salah satu di antaranya memegang posisi managing editor yang juga ada di halaman pertama majalah dengan tulisan khusus dari editor yang bernama Mahandis Yoanata Thamrin.
Aku mengenal Mahandis sudah cukup lama di media sosial (facebook) dan sesekali bertukar komentar di sana. Kami juga pernah bertemu sekilas saat di pameran Bentar Budaya Jogja kalau tak salah. Kami tak pernah benar-benar akrab. Tapi setidaknya waktu itu, saat generasi milenial dan yang di atasnya bertemu di media sosial Facebook yang masih didominasi orang-orang terpelajar, para intelektual, sastrawan, seniman, akademisi, profesor dan orang-orang terkemuka dalam ilmu pengetahuan yang terlalu ceria dalam menemukan ruang baru untuk bertukar sapa, berdebat, berpolemik, dan saling unjuk gigi dalam berargumen dan memamerkan keilmuan mereka. Dia masih sering membalas komentar dan terkadang ada diskusi yang menarik di situ.
Itu adalah masa-masa yang agak nikmat karena semua orang begitu antusias untuk ingin tampil, ikut serta, dan menjadi bagian dari diskusi apa pun. Dari komik, film, buku sastra, filsafat, beragam ilmu pengetahuan, debat agama hingga teori konspirasi dan bahkan kebatinan.
Semua komentar memiliki dunianya masing-masing. Selalu ada komentar-komentar panjang dengan bobot argumen yang mempertaruhkan kredibilitas seseorang. Itu adalah suatu masa di mana saat seseorang yang tak memiliki argumen yang baik dan benar-benar layak. Ia akan malu dan menjadi bahan tertawaan dalam komunitas atau grup yang diikuti.
Sayangnya, waktu semacam itu sudah tak lagi ada. Facebook yang jadi awal dari generasi milenial untuk menikmati dunia mereka dan yang lebih tua untuk bisa bertukar pikiran dengan mereka yang lebih muda. Kini diambil alih oleh para ibu-ibu yang tak berpendidikan atau yang terlalu tradisional, dan bapak-bapak yang nyaris tak jauh berbeda. Juga, diambil alih oleh anak-anak muda acak yang memiliki pola pikir yang kolot.
Jika kamu melihat Quora hari ini. Itulah Facebook di masa lalu dengan intensitas interaksi Facebook yang jauh lebih meriah dan terbuka. Atau X yang jauh lebih dangkal tapi memiliki semangat yang hampir mirip.
Waktu itu, Mahandis masih suka berkeliaran ke sana kemari dan sering memosting foto-foto yang berkaitan dengan pekerjaannya di National Geographic Indonesia.
Masih ada banyak interaksi di sana. Masih banyak orang-orang yang berkomentar, saling sapa, dan kadang bertukar pikiran. Tapi sekarang ini, semuanya terasa sepi. Orang-orang mulai kehilangan semangat untuk terhubung. Termasuk diriku.
Yang menjadi menarik adalah bagaimana seseorang semacam diriku tidak manfaatkan orang semacam dirinya, yang suka berpetualang, memiliki banyak wawasan dan memegang posisi yang penting di bidangnya untuk aku bisa gali dan ambil ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Entah karena segan atau pada waktu itu, generasi milenial semacam diriku tengah berada dalam retakan awal antara semangat ingin terhubung juga perasaan terasing dan ingin menyendiri.
Retakan itu menjadi kian besar dan membuat banyak orang di generasiku kehilangan kemampuan untuk terhubung lagi. Demi menyelamatkan diri sendiri dan mendamaikan berbagai konflik yang ada dalam diri kami. Banyak dari kami mengabaikan orang-orang hebat yang harusnya bisa kami pelajari dan manfaatkan keilmuan dan pengalaman hidupnya
Itu adalah masa yang cukup menakjubkan di mana banyak orang hebat dan ahli di ranahnya masing-masing bisa membumi dan sangat mudah didekati.
Waktu itu, Gen Z masihlah kecil atau belum lahir ke dunia. Sebagian orang mendapat manfaat dari gegap gempita ruang virtual semacam itu. Yang lainnya, kemungkinan yang terbanyak, menjadi cikal bakal generasi setelahnya yang hanya fokus untuk menyenangkan dan menyelamatkan diri sendiri.
Ketidakmampuan memanfaatkan orang-orang hebat yang ada di sekitar dan yang kita kenal menghambat tidak hanya perkembangan keilmuan kita, ekosistem perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri tapi juga hubungan kita dengan orang lain. Sekarang ini, semua orang hebat dan ahli di bidangnya masing-masing dianggap tak terlalu penting kecuali dia influencer atau terkenal dalam kacamata media sosial. Alhasil, banyak orang dan mereka yang lebih muda terkesan meremehkan semua orang. Padahal mereka tengah sibuk menjaga perasaan mereka yang rapuh dan tengah kebingungan dengan diri sendiri sehingga tak ada waktu untuk memikirkan yang lain. Bahkan untuk mempertahankan obrolan yang cukup lama saja mereka tak mampu.
Itu adalah tanda egoisme yang muncul dari diri yang rapuh dan perasaan yang mudah tersakiti. Yang terjadi, pertukaran ilmu menjadi gagal dan kecenderungan orang tak lagi ingin bertukar gagasan kecuali jika itu menguntungkan atau tak terlalu menyakitkan bagi perasaan.
Mahandis juga sama. Dia berada di bidangnya. Memiliki banyak wawasan dan ilmu pengetahuan di bidangnya. Seharusnya banyak orang yang mendekatinya dan ingin bertukar pikiran dengannya. Kenapa hal itu tak terjadi?
Pada akhirnya, kelelahan terjadi di kedua belah pihak. Dia mungkin juga mulai lelah terhubung dan hanya ingin menikmati apa yang bisa dirinya nikmati. Orang lain mungkin juga sudah lelah dan hanya ingin menikmati dirinya sendiri.
Itulah awal mula kematian pertukaran pikiran yang menghibur di media sosial bernama Facebook.
Setidaknya, aku menghormati orang-orang yang melahirkan National Geographic dan bekerja untuk komunitas itu. Aku sering sekali membeli majalah National Geographic Indonesia, yang waktu itu harganya sudah cukup dianggap mahal bagi banyak pihak.
Aku membeli majalah National geographic Indonesia cetakan baru atau memburu yang lama. Membacanya. Mengumpulkannya. Dan selalu menunggu majalah yang terbit bulan berikutnya. Tak banyak orang yang bisa memiliki, membeli, atau berlangganan majalah dengan sampul atau pinggiran kuning itu.
Aku memiliki keberuntungan tertentu karena masih sangat menggebu dengan berbagai macam ilmu pengetahuan. Mendadak saja, di tahun entah kapan, aku tak membaca majalah itu sama sekali. Itu adalah saat aku kehilangan semangat hidup, mengalami kondisi yang buruk, dan kehilangan gairah untuk mencari ilmu baru.
Aku rasa, aku masih mengikutinya saat masa-masa Covid menyerang. Setelah itu, aku kehilangan informasi mengenai majalah itu.
Sekarang aku mencoba memulainya lagi. Bernostalgia. Membeli edisi khusus 20 tahun dan setumpuk (ada dua puluh majalah) majalah National Geographic Indonesia edisi 2022-2023. Menutup ketertinggalan dan kondisi abai akibat kehilangan semangat intelektual. Setelah itu, aku akan mengumpulkan edisi 2024 hingga 2025.
Setidaknya, dengan begitu, aku sedikit menghargai orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan hal-hal yang menarik di dalamnya. Sedikit perasaan dari dunia yang berubah cepat dan ilmu pengetahuan yang kini menjadi berat untuk dijalani.
Aku rasa, mereka yang berada di National Geographic juga mengalami situasi yang sulit dan tengah mempertanyakan keberadaan mereka sendiri. Sama halnya dengan diriku. Juga ilmu pengetahuan yang kian surut.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Saggisticaapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
