Sebagian orang, tidak ingin dilahirkan. Tidak pernah ingin ada di dunia ini. Dan tak pernah berharap untuk melanjutkan hidup lebih lama lagi.
Jika ada pilihan, mereka tak pernah sama sekali ingin ada. Dilahirkan di dunia ini tanpa persetujuan dan dipaksa untuk ada, adalah semacam kejahatan yang tak bisa ditebus oleh apa pun.
Jika seandainya aku bisa berbicara dan memilih sesaat sebelum berada dalam rahim. Aku, akan memilih untuk tidak berada di rahim mana pun.
Bagiku, dan juga, bagi sebagian orang, kelahiran adalah masalah. Masalah paling utama bagi kehidupan dan bagi makhluk mana pun yang memiliki akal dan perasaan.
Memutuskan untuk tidak dilahirkan. Menolak untuk dilahirkan. Dan menuntut agar tidak lahir adalah hal paling penting bagi sejarah manusia ke depan dalam arus pendangkalan dan filsafat hidup masa bodoh.
Beberapa orang mungkin hidup nyaman dan berbahagia. Tapi, saat kebahagiaan tak lagi menarik dan segala kemakmuran serta kasih sayang dan perhatian tak lagi sanggup mengusir perasaan bosan dan hilangnya nafsu akan dunia ini. Kehidupan mendadak menjadi semacam kutukan.
Beberapa orang, sudah tak lagi menganggap hidup itu menarik sejak saat mereka masih kecil dan remaja. Yang lainnya, hidup dalam kesengsaraan terus menerus sehingga berharap tak pernah dilahirkan sama sekali.
Sayangnya, sekali kita dilahirkan. Tak akan ada jalan untuk kembali. Kita harus terpaksa melanjutkan hidup atau memutuskan untuk mati lebih cepat.
Bagi mereka yang terpaksa harus melanjutkan hidup sambil menahan perasaan menyebalkan akan betapa lamanya hidup ini. Berharap, tak ada lagi anak-anak kecil yang kelak akan dewasa dalam kenyataan eksistensial masing-masing.
Kenyataan bahwa, masa kecil adalah ilusi yang diciptakan oleh para orangtua dalam ruang tertutup yang benar-benar dijauhkan dari kenyataan yang keras dan mengerikan.
Saat masih kecil, kita telah ditipu oleh orangtua kita masing-masing. Dalam pandangan masa kecil kita yang aman dan didipelencengkan. Kenyataan orang dewasa dan dunia sekitar mendadak lenyap.
Kita dijauhkan dari dunia ini dan dikutuk mengalami kenyataan saat beranjak dewasa. Taman indah masa kecil tak lebih dari surga yang penuh dengan pembohongan.
Agar apa? Agar kita masih ingin melanjutkan hidup.
Jika setiap anak kecil dipaksa tahu dan memahami kenyataan dunia sehari-hari. Kemungkinan besar, banyak dari mereka akan tak menaruh minat melanjutkan hidup lebih lama.
Setiap anak kecil yang memahami kenyataan dunia sehari-hari di sekitar mereka dan mengalami kedewasaan yang begitu cepat, bisa melihat di balik tatapan nanar mereka, sebuah dunia yang bahkan para orangtua mereka benci dalam diam maupun sembunyi-sembunyi.
Itulah sebabnya, aku berpikir, tidakkah kita berharap menolak setiap kelahiran baru dan mulai berpikir akan tidak lagi menciptakan orang-orang macam kita lagi?
Menolak memiliki adik. Menolak memiliki anak kepada pasangan. Menolak setiap jenis kelahiran yang mungkin dan akan.
Dalam dunia nyata dan kehidupan yang sudah terlanjur ada ini. Hanya ini yang bisa kita lakukan. Tapi, seandainya ada semacam roh atau diri sebelum masa rahim dan memiliki kesadaran diri.
Tidakkah mereka, bisa berharap menolak untuk dilahirkan dan bahkan menolak untuk ada? Bahkan hak untuk dimusnahkan dan tak ada kemungkinan ada lagi, adalah hal yang harus kita renungkan kini.
Seandainya, mendadak kita mati dan roh kita berada dalam semacam reinkarnasi. Kita ditawari untuk hidup kembali entah di dunia yang mana. Kita, berhak menolak tawaran itu.
Dan jika itu aku, aku akan menolak dan memilih agar tidak dilahirkan kembali untuk selama-lamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Sachbücherapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
