Aku ingat, kisah seorang Darwin yang mengalami kesepian dan perasaan sakit yang luar biasa saat harus menahan diri untuk tidak mempublikasikan temuannya selama berpuluh tahun. Begitu juga dengan para pemikir lainnya, yang menderita oleh pikiran-pikiran mereka yang tak terpuaskan, ditahan, dan coba dipendam sekian lama.
Saat seseorang bisa hidup hampir satu abad lamanya dalam kondisi masyarakat yang stabil, politik yang cenderung lebih damai, dan ekonomi makmur tanpa banyak guncangan yang berarti. Pemerintah dan masyarakat secara luas ingin kondisi damai itu bertahan begitu lama. Hal-hal yang mengganggu kedamaian dan mengancam keutuhan masyarakat secara luas akan cenderung disingkirkan. Inilah mengapa, satu abad bisa dengan mudah terlewati tanpa adanya kemajuan yang berarti dalam bidang pemikiran.
Saat satu abad terlewati dan negara masih dalam kondisi baik dan damai. Maka, abad berikutnya, jika keadaannya masih sama. Maka dua abad pun terlewati dengan begitu mudahnya. Terus semacam itu sampai beberapa abad, sebuah negara tertentu, tak melahirkan pemikir besar sama sekali.
Para pemikir di dalamnya cenderung menghindari konflik atau sebisa mungkin tak ingin berurusan dengan polisi atau masyarakat yang kejam. Maka para penulis dan pemikir di sebuah negara akan cenderung menulis dan bersuara netral atau menjauhi hal-hal besar yang mungkin akan mengancam dirinya. Semua orang yang memiliki kecenderungan luar biasa, jenius, memiliki pemikiran aneh dan menarik. Mereka semua menyensor diri sendiri tanpa perlu disuruh.
Apalagi lingkungan yang tak mendukung, masyarakat yang tak mendukung, budaya intelektual yang tak mendukung, dan kebijakan politik yang tak mendukung. Ditambah tak ada dukungan pendanaan dan dukungan struktural dari lembaga mana pun. Membuat siapa saja yang sudah terjebak dalam keingintahuan ilmu pengetahuan yang berlebih, dipastikan akan menderita.
Mereka yang terpesona dan terpikat pemikiran-pemikiran aneh dan unik pun pada akhirnya terjebak sekadar menjadi pembaca. Karena lingkungan yang menarik bagi para pemikir sudah punah. Kita pun menjadi pembaca dalam diam. Di kamar kita masing-masing. Di perjalanan kita masing-masing.
Atau jika mereka berani bersuara. Mereka akan dihujat oleh masyarakat dunia maya dan berakhir di kantor polisi seperti yang banyak kasus dalam sepuluh tahun ke belakang.
Hari ini, masyarakat luas begitu sangat brutal. Tekanan hidup mereka terlalu banyak. Sakit emosional mereka nyaris tak tertahankan. Luapan emosi terbaik yang bisa mereka lakukan adalah menghujat siapa saja di media sosial. Menyakiti perasaan orang lain lalu kabur. Tak merasa bersalah menyebar aib orang lain. Menggunjing dengan tambahan bumbu-bumbu ketidakbenaran. Dan pembulian ada di mana-mana.
Rasa sakit emosional yang meluas berdampak pada orang-orang yang begitu kejam di berbagai media sosial dan dunia nyata. Merundung dan menghancurkan perasaan orang lain telah berubah menjadi terapi bersama. Terapi emosional dari perasaan tertekan di dalam rumah, kerjaan, atau lingkup sosial seseorang bertahan hidup.
Ekonomi perlahan naik dan stabil. Tapi semua itu harus ditukar dengan kerusakan emosional di sana sini.
Kita hidup di abad semacam ini. Abad yang cukup mengerikan. Terlebih bagi para pemikir atau orang-orang yang memiliki gagasan-gagasan atau penemuan-penemuan yang cenderung mengguncang tabu, struktur sosial, kepercayaan, dan nilai-nilai masyarakat. Begitu juga para ilmuwan yang tersingkir oleh politik sejawat yang tak sehat dan budaya sains yang begitu buruk. Ditambah pendanaan yang terlalu mengerikan dan politik pendidikan yang tak mendukung.
Tanpa adanya lingkungan yang tepat dan penuh gairah. Para pemikir dan ilmuwan, siapa saja mereka, yang hidup di negara ini, akan tersiksa secara mengenaskan.
Baik para pemikir, ilmuwan, dan orang banyak pada umumnya, menjadi sama-sama sakit secara emosional dengan kisah mereka masing-masing.
Banyak dari kita dilindungi ekonomi yang masih baik, lingkungan yang cenderung stabil, negara yang cukup tenang walau banyak korupsi dan masalah. Kestabilan politik dan ekonomi membuat kegilaan yang terjadi di masyarakat masih tak berbahaya. Jika tidak, kondisi emosional masing-masing orang yang bermasalah akan meledak menjadi kejahatan yang meluas.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Não Ficçãoapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
