Kehidupanku tak jauh berbeda dengan Fumio Sasaki, penulis buku Goodbye, Things, yang sekarang tengah aku baca. Ia menceritakan dirinya sendiri semacam ini; "Beberapa dari kalian mungkin berpikir bahwa aku adalah pecundang: orang dewasa yang belum menikah dan tak punya banyak uang untuk dibicarakan. Diriku yang dahulu mungkin akan sangat malu untuk mengakui semua ini. Aku dipenuhi dengan kesombongan yang tidak berguna. Namun jujur saja aku tak peduli dengan hal-hal semacam itu lagi. Alasannya sangatlah sederhana: aku sangat bahagia sama seperti diriku."
Kalimat itu merangkum bagian dari kehidupanku saat ini kecuali yang terakhir. Aku tak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan.
Aku juga tak pernah bisa merasakan kebahagiaan di dalam minimalisme maupun di tengah barang-barang yang berantakan dan mengepung tubuhku. Aku tak pernah benar-benar bisa menemukan kebahagiaan di tengah keduanya. Gaya hidup tanpa banyak hal maupun dengan banyak hal (benda).
Karena aku pernah mencoba semua itu dan hasilnya kegagalan.
Di tengah dunia ini, ada orang semacam diriku. Mungkin aku tak sendirian. Mungkin ada banyak orang semacam diriku di dunia ini. Tak menikmati kehidupan di antara keduanya. Lalu bagaimana menjalani kehidupan jika tak bisa berada di salah satu kutub?
Jika berkaitan dengan minimalisme yang pada akhirnya memengaruhi gagasan filsafatku saat ini. Aku ingin membicarakan mengenai beberapa gagasan terindah yang pernah aku pikirkan di saat aku masih cukup muda. Saat umurku di awal dua puluhan. Itu adalah gagasan indah yang pernah aku pikirkan dan tulis secara berkali-kali. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, aku belum pernah bisa menjadikan gagasan itu sebagai buku atau menjelaskannya secara lebih baik.
Gagasan-gagasan itu adalah semesta tanpa kehidupan. Suatu gagasan yang membicarakan bahwa semuanya akan baik-baik saja jika tak adanya kehidupan di alam semesta ini.
Tak perlu ada kehidupan di seluruh alam semesta ini. Tak perlu ada kehidupan lainnya. Tak ada apa-apa selain benda-benda mati tanpa penghuni dan kehidupan yang menyertainya. Sebuah dunia tanpa kehidupan sama sekali.
Inilah gagasan terindah yang pernah aku temukan. Gagasan yang mungkin juga para pemikir lainnya pernah temukan. Perbedaannya, aku menjadikan gagasan ini menjadi gagasan inti dari seluruh pencarian intelektualku. Aku menyebutnya sebagai nihilisme mutlak.
Gagasan itu menjadi seluruh inti dari pencarian intelektual di masa mudaku. Untuk menguatkan gagasan itu, aku menghasilkan gagasan-gagasan lainnya bahwa semesta tanpa kehidupan adalah cara yang paling mungkin dalam menjelaskan banyak hal yang terjadi di dunia manusia selama ini. Agar gagasan itu terjuwud. Aku memakai gagasan pendukung seperti kehidupan adalah penyakit, hak untuk bunuh diri, astro-terorisme, dan Tuhan yang bernama kehidupan.
Dan anehnya, aku menemukan gagasan lainnya yang berkaitan dengan minimalisme. Aku menyebutnya sebagai minimalisme semesta atau minimalisme kehidupan.
Memutarbalikkan minimalisme dengan cara yang paling aneh, semacam ini. Apa yang terjadi, jika bukan benda-benda yang membuat kita sakit, tak bahagia, dan tak menemukan ketenangan hidup? Bagaimana jika kehidupan itu sendiri yang harus disingkirkan agar kita bahagia?
Menyingkirkan orang-orang. Menyingkirkan hewan dan para binatang. Menyingkirkan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan. Kita menjadi sangat sakit karena kita dikelilingi oleh berbagai macam kehidupan dan ditekan oleh berbagai norma, nilai sosial, dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan.
Mari bayangkan, anggap saja semua kehidupan yang ada di dunia ini adalah benda-benda yang menumpuk di rumah dan kamar kita. Kita hanya perlu menyingkirkan semua kehidupan itu. Inilah yang aku sebut sebagai minimalisme kehidupan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
