BEGITU LANGKANYA FILSUF DI TEMPAT INI

60 3 3
                                        

Dalam dua tahun, aku harus menyelesaikan lima gagasan dasarku. Satu di antaranya terselesaikan. Satu lagi hampir selesai. Tiga lainnya, harus selesai akhir tahun depan.

Akhir-akhir ini, selagi keadaan emosiku cukup stabil. Aku melakukan segala upaya untuk perlahan menuliskan sebagian isi pikiranku dengan cara yang singkat. Terlalu singkat. Tapi itu tak masalah. Walau aku sendiri sangat tidak puas dan apa-apa yang aku tulis.

Lima gagasan itu adalah Dunia Yang Membosankan; pembukaan dari serpihan kecil pikiran-pikiran pentingku. Hak Untuk Tidak Dilahirkan: suatu pembukaan mengenai mitos orangtua, betapa tidak pentingnya mereka, awal dari segala sumber masalah, dan tuntutan akan sebuah dunia di mana anak-anak boleh mati sesuka hati mereka tanpa harus perlu memikirkan orangtua masing-masing. Tentu saja, sebuah andaian mengenai sebuah dunia tanpa kelahiran dan anak-anak.

Gagasan filsafat paling penting yang ingin aku bukukan dalam diam adalah Semesta Tanpa Kehidupan; gagasan paling penting yang benar-benar harus aku selesaikan selagi aku masih mampu. Ini adalah gagasan masa mudaku, yang benar-benar membuat diriku takjub. Sebuah alam semesta tanpa kehidupan. Nihilisme mutlak dalam bentuk paling kasarnya.

Lalu ada Tuhan Yang Bernama Kehidupan; ini adalah gagasan yang akan menghancurkan pertahanan dan alibi manusia dalam bertahan hidup. Suatu kenyataan bahwa Tuhan kita bersama adalah Kehidupan. Kecanduan akan hidup dan pewarisan kehidupan yang tak akan pernah ada titik akhirnya. Sumber dari segala masalah dunia dan yang kita semua perdebatkan dengan sinting adalah kecanduan akan suatu Tuhan yang disembah bersama ini.

Ada gagasan yang sebenarnya aku sudah cukup malas untuk menuliskannya. Suatu gagasan yang berunsur politik dan cepat basi. Menunggu Perang Saudara; andaian dan khayalan apa yang akan terjadi jika keruntuhan ekonomi dan politik membawa negara ini pada pertumpahan darah antar sesama. Dalam masyarakat Indonesia yang diisi oleh para pejabat busuk, koruptor, hukum yang timpang, kelas elite yang masa bodoh, dan kaum bawah dan kelas menengah yang hanya bisa mengeluh saja; apa yang akan terjadi dengan Indonesia suatu saat nanti, saat perang itu terjadi? Ada keceriaan dalam gagasan mengenai ini karena aku akan menuliskan bagaimana sebuah masyarakat yang gila, yang setiap hari masuk berita kriminal, pembunuhan dan penyalahgunaan kekuasaan, mendadak saja kehilangan pijakan ekonomi, politik, dan hukum yang selama ini mengatur dan membatasi kecenderungan mengerikan mereka semua.

Ini adalah gagasan yang benar-benar menarik secara politik, sosial dan psikologis. Benar-benar menarik. Karena kenyataan dan faktanya ada di depan mataku setiap hari.

Ada banyak gagasan yang sebenarnya ingin aku selesaikan. Tapi aku harus menerima kenyataan yang aku hadapi. Aku hidup di sebuah masyarakat yang tak menarik secara intelektual. Jadi, aku harus memilih beberapa gagasan di antara gagasan-gagasan lainnya.

Memilih menjadi filsuf adalah langkah yang riskan dan penuh dengan ketidaknyamanan. Tapi aku memilih ini dengan sangat pasti. Karena ini adalah jalan hidup. Dan yang cukup menantang adalah, di negara ini nyaris tak ada satu pun filsuf. Nyaris tak ada.

Dalam artian, nyaris tak ada satu pun orang yang berani mengambil jalan menjadi filsuf dan menyelesaikan masalah-masalah filsafat secara serius. Aku, ingin menjadi orang pertama yang melakukan itu. Menuliskan begitu banyaknya gagasan dan andaian-andaian. Terlebih di kota ini. Yang dikelilingi oleh ribuan orang terpelajar, ribuan seniman, dan ratusan budayawan.

Jumlah mereka sudah terlampau banyak. Tak banyak tantangan serius untuk menjadi salah satu di antara mereka karena dunia mereka yang berkelompok sudah terbentuk. Lingkungan mereka berkarya dan berpikir sudah tersedia walau tak sebanyak lingkungan ekonomi. Tantangan emosional, ekonomi, sosial, dan psikologis mereka tak seburuk lingkungan yang harus diambil oleh mereka yang menamakan diri sebagai filsuf. Dalam artian, sebagai filsuf nihilis.

Sebuah tantangan yang luar biasa. Tantangan yang begitu menyenangkan dan seolah langka. Karena nyaris tak ada lingkungan yang tersedia bagi mereka yang memilih menjadi filsuf di negara dan kota ini.

Menjadi filsuf pertama yang menuliskan ratusan gagasan menarik dan tak menyenangkan selama aku masih hidup. Itu adalah suatu tantangan intelektual yang sangat-sangat menggairahkan. Itulah salah satu alasan kenapa aku masih mempertahankan kehidupanku.

Dengan sangat individualis, tak terikat dengan banyak orang, dan tak memiliki ikatan terhadap lembaga mana pun. Aku, akan terus menuliskan gagasan-gagasanku sampai mati. Tak peduli bagaimana para penerbit mengabaikanku. Tak peduli bagaimana aku mencoba tak diberi tempat di sini. Tak peduli jika banyak orang berusaha untuk tidak mengakui cara berpikir dan penemuan-penemuanku. Dan aku tak peduli jika aku tak memiliki pembaca saat ini.

Filsuf adalah orang yang percaya terhadap diri mereka sendiri dan akan menyelesaikan apa yang bisa mereka selesaikan walau mereka harus hidup sendirian dan tak memiliki tempat di sebuah masyarakat. Inilah perbedaan mendasar mereka yang menyatakan dirinya sebagai sastrawan, penyair, dan seniman. Mereka membutuhkan banyak orang untuk menghidupi mereka. Dan mereka berkarya dalam kecenderungan semacam itu. Itulah sebabnya mereka tak bisa melangkah jauh kecuali sekedar bagian dari ulangan-ulangan yang sudah ada.

Di kota ini, ada begitu banyak seniman. Ribuan seniman. Ratusan penulis dan sastrawan. Jumlahnya mereka terlampau banyak. Itulah sebabnya, banyak dari mereka tak istimewa dan cepat habis. Mereka berebut ceruk yang tipis dan terbatas.  Tapi setidaknya, mereka memiliki tempat dan lingkungan yang sudah tersedia. Dengan lingkungan yang sudah ada semacam itu, banyak dari mereka pun gagal dan sekedar menjadi bagian dari sejarah yang pudar sebelum mereka mati.

Jumlah filsuf sangat terbatas. Begitu terbatas. Dari jutaan manusia. Hanya satu dua orang yang benar-benar berani menggeluti dan menyelesaikan masalah filosofis. Membuat suatu sistem dan jejaring pemikiran yang kokoh atau setidaknya cukup kokoh dan menarik.

Aku sudah menua. Kepuasan intelektual telah memudar dalam diriku. Tapi setidaknya, keinginan untuk menyelesaikan gagasan-gagasanku tidaklah hilang.

Filsuf adalah keberadaan yang langka dan jarang orang yang berani mengambil keputusan untuk menjadi bagian dari keberadaan yang langka itu. Dan aku salah satu orang yang mengambil keputusan untuk menjadi bagian dari keberadaan yang langka itu.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang