Mungkin salah satu gagasan terbaikku selama aku masih cukup muda adalah menemukan kenyataan bahwa banyak pembaca adalah pembaca yang buruk dan bodoh. Para pembaca yang tak lebih dari pada parasit dan hidup dari tulisan orang lain tanpa mau mendukung si penulis dalam segi material dan penyebaran tulisan.
Aku sendiri benci pembaca semacam itu. Itulah sebabnya aku menjadi filsuf. Aku akan menentukan sendiri jenis pembaca yang aku inginkan. Jenis pertemanan semacam apa yang aku pertahankan. Sisanya aku bisa menghapusnya.
Aku termasuk jenis pemikir yang agak langka yang mau rela membalas satu persatu orang-orang yang berkomentar di akun sosialku. Yang berkomentar dan berkeluh kesah di akun menulisku. Yang mau diajak bertukar cerita dan mendengarkan beberapa keluh kesah seseorang saat aku sendiri tengah berjuang dengan kecemasanku setiap hari dan bipolar yang aku jalani. Masih mau membalas berbagai chat dan pesan masuk orang-orang saat kondisiku setiap hari nyaris tak baik-baik saja. Dan masih mau diajak berbincang saat orang-orang tak mau menunjukkan diri mereka dan lebih senang dengan akun sosial mereka tanpa wajah dan tanpa sejarah.
Filsuf yang tak sombong. Seharusnya itulah aku. Salah satu pemikir yang masih bisa kalian ajak bicara dengan santai saat banyak penulis tak serius di luar sana, begitu susah didekati dan merasa ingin menjaga jaraknya dari para pembacanya.
Tapi hubungan sosial semacam itu lama kelamaan tampak menjijikkan. Banyak pembaca ingin dihargai sebagai pembaca dan diberi sikap ramah tamah dengan hubungan yang khusus. Tapi mereka tak pernah bisa secara serius menghargai para penulis yang disukainya dan yang dianggap begitu dekat dengannya.
Aku sangat senang telah mengambil keputusan menjadi filsuf. Karena dengan begitu aku bisa tak butuh pembaca sama sekali di masa tertentu atau bisa menunggu jenis pembaca macam apa yang kelak aku inginkan.
Berbeda dengan para penulis yang sangat ingin bukunya laku, jadi lahan ekonomi bagi dirinya, atau ingin terkenal dengan cara menundukkan kepala kepada para pembaca mereka. Aku bukan jenis orang semacam itu. Aku hanya perlu menyingkirkan berbagai pembaca yang buruk atau menyingkirkan satu generasi yang aku anggap tak layak. Aku bisa tidak menerbitkan bukuku di masa mereka atau tak berusaha menjadi terkenal atau dikenali publik saat mereka masih muda.
Tapi aku akan terus menulis sehingga tulisanku pun menumpuk, mencetak beberapa di antaranya secara terbatas, diam-diam membuat buku yang kelak bisa diterbitkan secara luas, dan terus meyakini bahwa kelak aku akan menjadi besar.
Itulah sebabnya orang-orang yang menghargai tulisan-tulisanku, membeli buku-buku awalku, dan masih mau berteman dan bertukar sapa denganku di masa awalku merintis jalan intelektualku kelak tak akan aku lupakan.
Aku menghargai orang-orang yang menghargai diriku saat aku bukan siapa-siapa atau masih berada dalam tahap membangun. Tapi bagi kalian yang menghargai pertemanan denganku. Kalian pasti tahu bagaimana aku berhubungan dengan kalian dan sebisa mungkin mempertahankan hubungan itu dengan kondisi kejiwaanku yang berantakan.
Kalian yang yakin dengan potensi yang aku miliki. Yakin kalau aku agak unik dan berbeda. Yakin kelak aku akan jadi orang luar biasa di masa depan. Dan yakin bahwa aku akan tetap maju untuk mendapatkan itu bagaimana pun caranya.
Dan kalian yang masih mau membeli buku-bukuku. Masih mau bersusah payah berhubungan denganku. Menghargai perjuangan awal perjalanan intelektualku. Kelak kalian akan mendapatkan ruang khusus di buku memoarku saat aku mulai menua.
Para pembaca yang usianya tak jauh berbeda denganku atau agak lebih muda. Banyak dari mereka kelak akan menua dan mati terlupakan jika mereka tak menghasilkan sesuatu yang akan diingat. Tapi bagi para pemikir, filsuf, para orang kreatif dan pencipta. Karya mereka akan terus hidup dan mencari sendiri generasi yang tepat untuk bisa diterima. Bahkan saat kelak aku mati. Apa yang aku tulis tak akan mati.
Jadi aku tak perlu repot-repot harus menghargai para pembaca yang tak layak dihargai. Jarang sekali penulis di negara ini yang mau terang-terangan mencaci maki dan mengolok-olok pembacanya sendiri. Tapi aku berbeda. Aku punya alasan yang kuat dan bahkan bisa menulis satu buku penuh untuk mendukung pernyataanku itu.
Pada suatu saat, aku bisa tak membutuhkan satu pun pembaca sama sekali kecuali diriku sendiri. Inilah hal yang paling menyenangkan menjadi filsuf yang menganut individualisme dan kemandirian hidup.
Aku hanya perlu kaya. Menjauh dari orang-orang yang tak menghargaiku. Menghilang. Lalu muncul kembali sesuka hatiku.
Bagi laki-laki yang memiliki perasaan yang rentan dan emosi yang rapuh mengenai hubungan sosial. Aku rasa itu yang terbaik.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
