Biarkan perempuan yang menikahiku. Jika mereka memang menginginkanku. Jika tidak, biarkan mereka meninggalkanku dan memilih orang lain. Itulah yang akhirnya aku sadari selama aku mencoba bersabar, memahami, dan mengalah di saat kondisiku kian memburuk. Membutuhkan kasih sayang yang lembut. Dan harus segera ditolong dengan komitmen yang tinggi.
Jika tidak, kondisiku akan terus menurun. Ekonomiku akan hancur. Dan kematian mungkin adalah jalan yang harus aku pilih.
Aku tak lagi siap menghadapi kehidupan yang melelahkan para perempuan modern. Mungkin, egoisme mereka, kebingungan mereka mengenai hidup, kekeraskepalaan mereka, ilusi mereka terhadap kemampuan untuk mandiri tanpa rasa sakit emosional, pendidikan mereka yang tinggi membuat mereka menjadi sangat pemilih dan ragu-ragu terhadap banyak hal, ketidaksiapan mereka atas resiko, ketidakselarasan kenyataan hidup yang tak sejalan dengan khayalan-khayalan mereka, ketidakmampuan mereka mengambil sikap yang krusial, tuntutan mereka yang terlalu banyak terhadap diri sendiri dan orang lain, dan juga candu kehidupan nyaman yang membuat mereka tak siap dengan kehidupan yang berat. Membuat segala hal menjadi sangat sulit bagi diri mereka sendiri dan bagi pasangan yang mereka miliki.
Sebagai orang lemah. Aku melihat sebagian perempuan Milenial dan Gen Z seperti yang telah barusan aku jelaskan. Terlebih Gen Z. Aku tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi mereka. Sebagai teman. Sebagai kekasih. Atau mungkin, sebagai suami. Jika pada akhirnya aku menikahi salah satu dari mereka.
Mungkin, perempuan-perempuan itu lebih cocok untuk hidup sendiri. Tak usah memiliki pasangan. Atau menjadi hebat dalam karir mereka masing-masing. Tapi tidak dalam percintaan dan rumah tangga.
Atau, biarkan saja mereka untuk para laki-laki yang kuat, mandiri, dan tak mengalami kerusakan di sana sini. Laki-laki yang mapan. Makmur. Sekaligus berani mengalah untuk istrinya karena cinta.
Tapi bagi laki-laki lemah semacam diriku. Para laki-laki yang telah jatuh. Jenis laki-laki yang selama ini telah aku jelaskan dalam banyak tulisanku. Aku tak siap menghadapi kerumitan hidup dan keinginan-keinginan perempuan Gen Z. Menghadapi mereka begitu sangat melelahkan bagiku.
Dan mencintai mereka begitu sangat membingungkan.
Mereka ingin selalu dimengerti. Mudah merasa terluka dan tersakiti pada hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja. Terkadang tak suka dituntut hal yang sama seperti saat mereka menuntut ini dan itu ke pasangannya. Memiliki standar ganda penilaian. Hal sepele bisa jadi masalah emosional besar buat mereka. Seringkali merasa paling benar dan tak bersalah. Mengelak atas kesalahan mereka sendiri dan jika laki-laki yang berbuat salah akan terus diingat entah sampai kapan.
Tak bisa dibentak oleh laki-lakinya sendiri tapi mereka bisa membentak laki-lakinya. Tak mau didebat dan dikomentari secara terang-terangan. Kalau bisa, demi ego mereka, laki-lakilah yang harus mengalah.
Saat perasaan sakit dan merasa terluka mereka begitu menumpuk. Menjalani kisah cinta dengan mereka menjadi kian tak menyenangkan karena mereka terbiasa memendam amarah dan perasaan dendam atau tak bisa melupakan apa-apa yang mereka anggap sebagai rasa sakit. Yang terjadi, mereka biasa mengungkit hal-hal sepele yang harusnya bisa dengan mudah dilupakan tapi bagi mereka itu menjadi rasa sakit.
Mereka ingin diperlakukan dengan lembut seperti ratu. Dibujuk rayu bahkan jika mereka yang salah. Ingin dituruti keinginannya dan harus diperlakukan dengan hati-hati.
Sebagian dari mereka tak siap dalam kemiskinan. Sebisa mungkin ingin kepastian berupa kemapanan dan keadaaan yang jauh dari kata miskin dan menuntut pasangannya untuk bisa memenuhi tanggung jawab mereka tanpa benar-benar membantu dan menemani. Tidak suka diatur dan jika disuruh akan protes dan merasa dianggap sebagai babu. Pemalas dan suka menunda-nunda hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat. Setidaknya semacam itu lah yang banyak diinginkan dan dilakukan perempuan modern perkotaan, yang akhir-akhir juga mulai menjangkiti para perempuan desa dan mereka yang dari keluarga biasa saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Nonfiksiapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
