KEDIKTATORAN MILENIAL

32 3 0
                                        

Anak-anak muda yang usianya tak jauh berbeda dengan diriku. Yang dahulu belum terlihat jelas akan seperti apa mereka kelak jika mengambil kekuasaan. Kini, mereka mula menunjukkan gaya yang terlihat kian otoriter.

Sejak awal memasuki kampus dan melihat bagaimana orang-orang yang usianya sebaya denganku hidup. Aku sudah melihat kemungkinan bagaimana negara ini kelak akan berjalan. Jadi, untuk kondisi sekarang ini aku sangat tak kaget atau heran. Aku sudah melihatnya sangat jelas antara sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu.

Aku menyebutnya sebagai kediktatoran milenial.

Sebuah generasi yang lahir dari cacatnya reformasi, idealisme yang nanggung, medioker secara ilmu pengetahuan, dan mengalami banyak kekecewaan saat tahu bahwa tanpa uang yang cukup banyak, privilege, dan kekuasaan. Hidup menjadi sangat berat untuk dijalani.

Sebelum gen Z mengalami periode sulitnya kehidupan dan kebingungan akan banyak hal. Gen Milenial lebih dulu mengalaminya. Itulah kenapa gen Milenial dan Z hampir mirip.

Pertanyaan kritisnya, kenapa gen Milenial malah berubah menjadi kian diktator dan anti kritik? Tidak hanya saat mereka menguasai pemerintahan dan mengisi jabatan-jababatan penting di sektor publik. Mereka juga kian anti kritik dan menunjukkan sikap kediktatorannya di ruang kerja, di perusahaan atau saat menjadi pemilik suatu usaha.

Bahkan di dalam rumah tangga.

Ada mereka yang baik, enak dijadikan rekan, punya kemampuan mentorin, masih sedikit idealis, dan mudah diajak berteman dan pikirannya sangat terbuka. Tapi aku sedangkan membicarakan gen Milenial yang berubah menjadi diktator, anti kritik, dan merasa paling hebat dan benar sendiri.

Jika orang-orang semacam itu masuk ke dalam kekuasaan. Apa yang akan terjadi dengan sebuah negara? Sementara kita tahu, berapa banyak sih di antara mereka yang benar-benar ahli di bidangnya? Sangat sedikit.

Jika sebuah negara diambil alih oleh sebuah generasi yang rusak, susah disentil perasaannya karena memiliki banyak trauma emosional, dan jarang yang ahli di bidangnya dan tak pandai untuk berdiskusi dan mencari jalan tengah bersama. Masyarakat semacam apa yang akan terbentuk? Negara macam apa yang akan berjalan?

Gen Milenial gagal dalam mengembangkan bakat dan potensi atau keahliannya sampai puncak karena mereka lahir di kondisi dan tempat yang salah. Mereka diabaikan, tak dibiayai, tak didukung, dan layu satu persatu. Mereka dirusak oleh para orangtua mereka sendiri dan mereka yang kini usianya sudah lanjut usia.

Pada akhirnya, tujuan akhir gen Milenial setelah gagal, marah, dan kecewa dalam banyak bidang yang paling mereka inginkan hanyalah sekadar menjalani hidup dengan makmur sambil bertahan sekuat tenaga dengan rasa sakit dari banyaknya trauma psikologis dari keluarga hingga percintaan.

Menikah dengan pasangan yang dicintai, layak atau menikah bahkan tanpa perlu perasaan. Memiliki usaha atau karir yang bagus. Menjadi kaya atau makmur secara ekonomi. Menjadi sedikit terkenal. Hanya semacam itu. Setiap hari hanya semacam itu. Inilah titik tumpu gen Milenial kebanyakan walau bukan semua.

Mereka pernah mengalami bagaimana hancurnya sebuah keluarga. Perselingkuhan yang terjadi oleh orangtua sendiri. Bagaimana ditinggalkan pasangan saat masih miskin atau kurang kaya. Mereka tahu rasanya harus membiayai banyak orang dengan ekonomi pas-pasan. Mereka tahu, bahkan lahir di keluarga yang kaya raya dan memiliki semuanya. Mereka masih tetap dipenjara oleh keluarga dengan banyak aturan sehingga mereka gagal menjadi apa yang mereka inginkan.

Mereka juga tahu, mau lahir di keluarga miskin maupun kaya. Jika mereka tidak bisa mengamankan kekayaan mereka sendiri. Hidup mereka di masa depan akan mudah goyah dan kacau. Untuk bisa mengamankan pernikahan saja. Seseorang harus mapan terus-menerus dan berkelanjutan.

Mereka sadar telah hidup di masyarakat yang menjadikan uang adalah segalanya. Juga kekuasaan.

Tak peduli seber bakatnya mereka. Sejenius apa pun mereka. Jika mereka tak memiliki uang. Mereka akan dihina oleh keluarga sendiri. Oleh anggota keluarga lainnya yang perusahaannya lebih sukses. Yang anaknya dari paman atau bibi jauh lebih kaya dengan karir yang sangat bagus. Mereka akan dibandingkan dan ditatap dengan kejam saat pertemuan keluarga besar. Atau oleh lingkungan sekitar dirinya hidup.

Tak ada yang peduli dengan pencapaian intelektual dan karir akademisi mereka. Tak ada yang peduli, mau kamu memiliki bakat dan keahlian yang bagus di bidang yang kamu inginkan. Jika kamu tak kaya dan berhasil menurut pandangan orangtua, keluarga besar dan masyarakat. Kamu akan dianggap gagal.

Bakat menyanyimu tak akan dianggap. Bakat tari, dansa, balet, memainkan alat musik dan sejenisnya tak akan dianggap serius. Beragam bakat kesenian mu tak sebanding dengan urusan usaha atau perusahaan keluarga. Mau kamu jenius di bidang matematika, fisika, sains yang lain hingga bakat dalam bidang olahraga. Semuanya itu kurang penting. Apalagi jika bakatmu ada di bidang sastra dan dunia pemikiran.

Memang, ada beberapa orang yang bisa melakukannya. Menjadi ilmuwan, musisi, seniman, perancang busana, model, pengembang game, komikus, sineas, atau olahragawan yang berhasil. Tapi itu hanya sedikit. Jumlah yang gagal terlalu banyak. Mereka yang tak bisa memenuhi impiannya berserakan dan susah dihitung.

Gen Milenial adalah kumpulan orang-orang sakit yang gagal memenuhi impian besar mereka karena lahir di keluarga dan lingkungan yang salah. Penuh rasa sakit dan trauma. Masa pencarian intelektual dan mengasah bakat sudah habis dan berakhir. Lalu apa yang tersisa?

Mengamankan kekayaan dan kekuasaan. Bersembunyi di balik keluarga dan anak-anak. Mengubur semua impian lama dengan menumpuk barang hobi dan mencoba membeli apa pun yang bisa dibeli. Mencoba mengamankan setiap kesenangan yang mungkin bisa diraih dan dipegang selama mungkin.

Gen Milenial yang awalnya penuh keterbukaan, ide-ide menarik dan jiwa yang memberontak kini berakhir sebagai penjaga gerbang kesenangan dan kedamaian untuk diri mereka sendiri dan keluarga.

Sebagian dari mereka pun menjadi diktator dan tak berperasaan.

Hidup masihlah panjang. Sedangkan rasa sakitnya hidup hanya bisa diredam oleh kekayaan. Membangun keluarga juga butuh kekayaan. Agar tidak ditinggalkan pasangan juga butuh kekayaan.

Gen Milenial pun berubah menjadi korup.

Apalagi jika mereka sejak awal hidup dalam tata cara keluarga yang penuh dengan orang dalam. Saling melindungi dalam kesalahan besar. Atau mereka yang lahir dari orangtua politisi dan pengusaha yang gerak geriknya sangat anti demokrasi.

Mereka diajari bagaimana menjadi korup dan memanfaatkan kekuasaan oleh para orangtua mereka sendiri. Bagaimana menjinakkan para karyawan yang hari ini mentalnya lemah dan ragu-ragu karena segala kebutuhan menghimpit kepala. Bagaimana pula menjinakkan orang banyak, yang bernama rakyat, yang mau ditindas seperti apa pun. Mereka hanya berteriak kecil dan setelah itu tak melakukan apa pun.

Yang paling berbahaya dari gen Milenial adalah mereka yang lahir di jantung kekuasaan. Yang sejak kecil diajari oleh keluarga sendiri bagaimana caranya menjadi korup. Mereka diberi jalan. Dibiayai. Dibimbing. Diarahkan. Dan dilindungi dengan sangat ketat hingga waktunya nanti tiba mereka mengambil alih kendali.

Masalahnya terbesarnya, para orangtua itu jarang mengajari anaknya kebijaksanaan dan keahlian yang mumpuni untuk mengurus negara, jabatan publik, atau perusahaan. Apa yang terjadi setelahnya?

Jika mereka ingin melahirkan seorang Tiran. Merek tak melahirkan tiran yang jenius, pintar, dan ahli di bidangnya. Para orangtua itu sudah cukup dengan memuluskan jalan anaknya yang kurang ahli dan tak bijak ke kursi kekuasaan saja.

Lihatlah saja Ukraina. Mereka yang miskin dan kaya hancur bersama-sama. Itulah yang aku lihat di masa lalu dan menjadi hari ini dan sebentar lagi nyata di masa depan.

Saat orang miskin dan kaya nya tak berbuat sesuatu saat negara telah dikuasai pihak tertentu. Ukraina cerminan dari sikap masa bodoh massal yang dilakukan secara sadar oleh rakyatnya sendiri.

Dan masa depan, mungkin apa yang hari ini kita lihat, akan berubah menjadi perang saudara dan perpecahan di sana sini. Tak perlu ada diskusi. Kita hanya butuh senjata dan orang-orang yang mengamuk menurut bendera kepercayaan dan ideologinya masing-masing.

Juga, menurut pembagian kekayaan dan harta dari kekacauan yang menguntung pihak-pihak tertentu.

Seorang Milenial yang berkuasa, akan mengawali jalan kediktatoran bagi beberapa generasi selanjutnya.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang