KEBOSANAN ITU BERNAMA KITA

1 0 0
                                        

Keindahan pada akhirnya mengulangi setiap yang letih pada diri kita. Seringkali berakhir pada kebosanan. Entah di masa yang kapan, kebosanan itu berubah menjadi rasa muak.

Bagaimana kita, manusia, bisa tahan dengan ulangan-ulangan yang nyaris sama dalam hidup kita?

Pekerjaan yang sama. Jalanan yang sama. Makanan yang sama. Orang-orang yang sama. Tempat dan ruang yang juga sama.

Kisah hidup kita jika dicatat dalam setiap harinya, secara rutin, akan terbentuk suatu pola yang begitu mudah terlihat. Banyak dari kita tak lebih daripada sekadar ulangan. Sedikit yang baru yang bisa kita tambahkan di dalamnya. Dalam banyak hal yang kita lakukan selama ini. Kita mungkin akan merasa malas melihat apa saja yang kita lakukan selama bertahun-tahun.

Dan hari ini, semua orang kecanduan menenggak keindahan sepuas hati mereka. Seolah-olah, hanya itulah hal terakhir yang bisa kita lakukan. Sedikit yang bisa menenangkan diri kita dari beban berat usia yang terasa panjang dan sesungguhnya tak lagi menarik untuk dijalani lagi.

Banyak dari kita kini begitu rakus dengan segala keindahan yang mungkin. Untuk menekan kelelahan diri. Kebosanan hidup yang menjerat leher. Tanggung jawab yang bagaikan tak pernah berakhir. Hal-hal yang terus memaksakan kita hidup walau semuanya sudah tak lagi menyenangkan.

Terpapar keindahan terus-menerus membuat seseorang bisa mati rasa. Rasa bosan yang datang dari keindahan yang menumpuk dan ditelan tiada henti biasanya adalah tanda seseorang telah mencapai batasnya.

Sudah tak banyak lagi ruang untuk keindahan lainnya. Semuanya menjadi kebisuaan yang penuh rasa letih. Kesendirian. Kehampaan yang tak lagi mampu diredam oleh jenis keindahan apa pun. Pada bisa terjadi, rasa muak akan hidup dan perasaan jijik terhadap omong kosong harian yang harus terpaksa kita jalani. Membawa suatu ketiadaan akan rasa senang dan hilangnya kebahagiaan dari hal-hal yang pernah kita kenal.

Kita dikutuk oleh keindahan yang kita buru. Keindahan pun berubah menjadi candu. Lalu penyakit yang bernama kehampaan.

Sampai kapan kita terus-menerus bergentayangan di kafe-kafe yang indah. Berkeliaran memburu keindahan di laut, gunung, bukit, lembah, danau, telaga, hutan, padang, sawah, jurang, sungai dan alam yang sebenarnya menampilkan bentuk keindahan yang nyaris sama.

Kapan kita berhenti untuk mengabadikan segala yang indah lewat fotografi dan nostalgia? Mencatat dan mendokumentasikan semua hal yang kita lihat dan lewati. Semua yang kita anggap indah. Semacam keinginan untuk merekam apa pun yang estetik.

Jalanan yang indah. Berkeliling di antara kota-kota untuk mencari keindahan. Terjebak berjam-jam di depan cermin hanya untuk mendapatkan keindahan diri setiap harinya.

Sampai kapan seseorang bisa merasa muak untuk terus merias diri?

Banyak dari kita yang memiliki tubuh kuat dan keuangan yang baik berakhir kecanduan dengan tempat-tempat indah yang letaknya jauh, sulit dijangkau, mengeluarkan banyak biaya dan sangat melelahkan. Yang lainnya, yang tak memiliki waktu dan uang yang memungkinan. Seringkali berakhir di kafe-kafe, ruang olahraga, atau sekadar berjalan santai menikmati suasana kota di sore hari sehabis pulang dari pekerjaan yang begitu menguras semua yang dimiliki manusia.

Kita mengonsumi segala yang indah di ruangan tidur kita. Rumah kita. Dapur kita. Kendaraan kita. Lingkungan kita hidup. Dan tenggelam dalam keindahan tiada henti ketika berjalan keluar dan menuju jalanan yang penuh makanan dan pusat perbelanjaan dengan kaca-kaca yang besar di segala sudut.

Secara tak sadar banyak dari kita mulai terbiasa dengan keindahan dan menganggapnya kebutuhan yang tak bisa disingkirkan dengan mudah. Keindahan membutuhkan banyak biaya untuk memasuki, melihat, memiliki atau merawatnya. Candu keindahan pada akhirnya mencekik kehidupan orang-orang kecil dengan ekonomi yang gagal dan merusak banyak mereka yang makmur dengan cita rasa manja yang tak mudah untuk disingkirkan lagi.

Sebuah abad di mana keindahan menjadi penyakit dan sumber dari rasa sakit bersama.

Kebosanan mengawali semua itu.

Kebosanan mengawali kebangkrutan dari keindahan yang dimamah terlalu sering dan berakhir sebagai rasa hambar yang sangat menyakitkan.

Puncak dari rasa sakit itu adalah ketika keindahan menjadi rasa muak terhadap semua hal dan kelesuan yang tak lagi bisa ditanggung. Seseorang yang sudah tak lagi terhibur dengan keindahan di luar sana dan berakhir mengurung diri di dalam rumah. Tak lagi ingin melakukan perjalanan. Berhenti membeli segala sesuatu yang disuka.

Banyak dari kita terhenti dalam kebosanan yang sejak awal kita tahu. Sadari awal. Berusaha keluar darinya terus-menerus. Sampai suatu ketika, kita mulai berpikir ulang terhadap sisa hidup kita yang rasanya percuma untuk diteruskan.

Mungkin, menjinakkan segala yang indah menjadi tugas mereka yang ingin hidup lama. Tantangan yang terlalu awal adalah kebosanan hidup yang terlalu dini.

Kita semua tengah berjuang dari itu. Rasa hambar yang menggerogoti hal-hal yang pernah kita senangi dan membuat kita sedikit terhibur.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang