MENCATAT MEREKA YANG PERNAH AKU TEMUI SEKILAS DALAM KAMERA

24 1 0
                                        

Aku mencatat orang-orang yang pernah aku temui sekilas dalam kamera dan terdokumentasi di media sosialku. Mungkin orang bertanya, kenapa aku melakukannya?

Pertama, aku ingin semua orang tahu, setelah kematianku benar-benar tuntas pada akhirnya. Ada seorang manusia, laki-laki, yang mengalami rasa sakit hidup yang tak tertahankan tapi tak ada bantuan nyata yang datang dari banyaknya orang yang pernah ditemuinya. Aku bagaikan tak ada. Apalagi di antara orang yang sekadar lewat dan tak saling mengenal. Aku benar-benar tak ada.

Dari banyaknya orang yang pernah aku temui secara nyata, dekat atau tak dekat. Aku harus berjuang untuk diriku sendiri. Inilah alasan di balik kenapa Hak Bunuh Diri itu menjadi salah satu gagasan yang penting, tidak hanya untuk diriku sendiri tapi mungkin juga banyak orang di luar sana yang juga mengalaminya.

Banyak orang yang kamu temui di dunia ini tapi tak akan ada satu pun yang mau menolong bahkan jika rasa sakit dan kegilaanmu terpampang jelas di depan mata mereka. Kamu harus menyembuhkan dirimu sendiri atau memilih kematian sebagai jalan terakhir yang mungkin. Aku bukti nyata selama berpuluh tahun untuk itu.

Bahkan jika aku minta ditemani, sekadar minta tolong untuk jadi teman bicara agar aku masih bisa bertahan hidup. Hanya ada satu dua orang yang mau menerima kondisiku dan mau bersusah payah berhubungan dengan diriku. Kebanyakan dari mereka memilih menjauh atau sekadar diam sebagai pengamat. Lucunya, orang yang aku anggap penting pun pergi dan memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Kedua, aku mencatat orang-orang yang pernah aku temui sebagai pengingat bahwa, jika kelak gagasan-gagasanku pada akhirnya diterima setelah kematianku. Mereka akan melihat diri mereka ternyata pernah ada di dekatku. Keberadaanku pernah mereka lihat sekilas sebagai keberadaan yang unik, aneh, menarik, tak penting, atau tak layak diingat. Tergantung bagaimana mereka melihatku waktu itu.

Pernah di dekat mereka ada sesosok laki-laki di dalam kafe atau entah di mana. Sibuk dengan buku-buku dan dirinya sendiri. Seseorang yang kalian lihat itu adalah laki-laki yang sedang bertarung dengan dirinya sendiri dan berusaha membangun pandangan filsafat yang tak akan pernah dipikirkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Laki-laki yang sangat percaya diri, memiliki keyakinan yang luar biasa bahwa kelak ia akan dimengerti pada akhirnya. Kelak dunianya akan diterima asalkan ada satu saja penerbit atau seseorang yang bersusah payah mengurus tulisan-tulisannya.

Laki-laki itu menganggap dirinya filsuf dan membangun banyak gagasan yang hanya dirinya lah yang bisa melakukannya.

Laki-laki yang kalian lihat sekilas itu. Yang setiap hari berjuang untuk hidup. Dia adalah laki-laki yang kelak akan dikenal banyak orang dan filsafatnya menjadi sangat penting walau saat masih hidup ia begitu sendirian dan ditolak oleh banyak orang di sekitarnya.

Kalian, atau kamu, pernah berada di dekat orang semacam itu, yaitu diriku sendiri. Kalian telah melihat laki-laki yang tengah membangun kebesarannya dalam kesendirian.







Ketiga, aku mencatat kalian hanya karena senang memandang diri kalian yang cantik, memesona, elegan, menarik, membuat aku betah untuk membaca dan menulis, atau sekadar sebagai keberadaan yang ada di situ dan berada di dekatku. Aku mengamati orang-orang yang lewat dan ada di dekatku, entah itu perempuan atau laki-laki. Menikmati mereka berbicara dan berbincang dengan teman-temannya. Melihat seorang yang sibuk belajar atau terpaku suatu hal. Atau hal-hal lainnya yang kadang menarik, yang membuat suasana ruangan menjadi hidup dan membuat aku merasa tak kesepian. Keberadaan kalian yang ada di ruangan itulah yang membuat aku bisa membaca, merenung, dan menulis dengan nikmat, nyaman dan menyenangkan. Kalian sangat berarti dalam perjalanan intelektual sebagai pengisi ruang yang membuat perasaanku menjadi tenang dan betah.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang