Apa yang masih bisa aku lakukan di saat tubuhku kian runtuh, tak lagi mudah untuk digunakan dan rasanya seperti aku bisa mati kapan saja -entah dalam tidur, perjalanan atau mungkin mati karena semacam kesepian. Kerusakan tubuh yang berawal dari kesepian yang terlalu lama.
Beberapa hari ini aku kesusahan untuk memejamkan mata. Tidur seolah menjadi teror terakhir dari keberadaanku di dunia ini. Tubuh mudah kelelahan. Tubuh ini rasanya seperti bisa jatuh kapan saja. Kepala yang mulai berat, sakit dan terasa tak nyaman layaknya seseorang yang kekurangan tidur. Seluruh tubuh bergetar dan semacam disapu oleh gelombang ketika berusaha memejamkan mata. Serangan terakhir dari kejang yang tak terlalu buruk tapi sudah cukup untuk merusak keberadaanku. Tanganku hampir tak lagi bisa berfungsi jika nantinya aku mengalami hal-hal semacam itu terus-menerus.
Entah kenapa aku enggan memeriksakan diri. Mungkin aku hanya ingin mati saja. Hanya saja, jika perjalanan menuju mati rasanya sangat tak menyenangkan, mungkinkah aku akan pergi ke rumah sakit dan memeriksa tubuhku?
Aku ingin mencari pulau yang indah dan mati di sana. Tapi untuk nanti. Lebih tepatnya sebentar lagi. Aku ingin bertemu untuk yang terakhir, orang-orang yang masih mau berteman denganku, para mantan kekasihku, orangtuaku dan lainnya.
Sejujurnya masih ada satu buku terakhir yang haruskah aku menyelesaikannya atau tidak. HAK UNTUK MEMBUNUH MANUSIA. Buku yang menandai akhir dari perjalanan nihilistikku.
Sekarang aku sedang menikmati buku milik Martin Suryajaya, Nihilisme dan nantinya akan membaca Meta-Estetika untuk menemaniku berkeliling beberapa galeri seni untuk yang terakhir.
Aku menghargai dan menghormati Martin dengan cara yang aneh. Aku membaca buku-bukunya dan melakukan sesuatu terhadap satu bukunya yang tebal sebagai bentuk penghormatan terakhir sebagai sesama orang yang berpikir dan terus menulis. Aku berharap, buku tebal miliknya itu bisa dibaca oleh semakin banyak orang karena buku itu memang sangat layak. Kelak, caraku menghargainya mungkin akan dipermasalahkan. Dikritik. Dihujat. Atau lain sebagainya. Tapi aku tak peduli. Penghormatan lainnya terhadap pemikir dan penulis yang produktif seperti dirinya adalah dengan juga menjadi sangat produktif dan terus menulis walau sangat terasing.
Kesepian. Rasa bosan. Fisik yang rusak. Jiwa atau mental yang hancur. Aku masih bisa mengatasinya walau sekarang sepertinya aku sudah mencapai batas seluruh yang ada dalam diriku.
Aku ingin berhenti mengada secepat mungkin. Mati di suatu tempat yang jauh. Yang berair. Yang indah.
Kembali membicarakan nihilisme adalah sesuatu yang harus aku lakukan. Aku tak ingin membicarakannya dengan cara yang rumit dan susah dimengerti. Nihilisme bagiku adalah kematian seluruh manusia di alam semesta ini atau setidaknya di bumi, sebuah dunia yang kita kenal. Biarkan semesta tetap di sana hanya manusia dan seluruh kehidupan yang bersama manusialah yang hilang tak kembali dan berakhir. Atau ketiadaan seluruh kehidupan atau tiadanya alam semesta itu sendiri.
Langkah pertama adalah dengan menghapus seluruh manusia. Suatu keadaan yang lebih mudah dilakukan daripada membayangkan mengakhiri alam semesta beserta isinya. Setelah manusia dihapus dari alam semesta yang kita ketahui. Apakah masih ada kehidupan dan keberadaan lain di luar sana itu tak lagi penting. Kematian seluruh manusia berarti ketiadaan total itu sendiri walau secara terbatas. Kesadaran terhadap yang lain, yang manusia menjadi titik tumpunya menghilang, itu sudah lebih dari cukup.
Aku tak ingin lagi membicarakan kemungkinan metafisika yang tak terbatas dan filsafat yang rumit. Akhir dari manusia itulah yang aku sebut sebagai nihilisme terakhir. Nihilisme yang aktif diperjuangkan untuk mengakhiri manusia.
Aku menjadi bagian dari apa yang dikisahkan Camus dalam Pemberontak dengan varian yang lebih modern. Apakah aku sendiri telah mencoba melakukan sesuatu yang penting atau tidak? Entah. Apakah ada yang baru yang bisa atau telah aku tambahkan ke dalam ragam perjalanan filsafat? Sekali lagi, entah.
Tapi aku percaya diri bahwa entah kapan, pikiran-pikiranku akan diterima bagaimana aku lebih memilih pikiran-pikiran itu daripada seorang perempuan.
Lebih baik aku menderita kesepian yang sangat buruk daripada harus terhenti dipelukan perempuan yang terlalu mudah sakit hati dan rewel. Aku lebih mencintai pikiran-pikiranku.
Sekarang, dengan tubuh yang terbatas dan waktu tenang yang kian sempit, aku harus melakukan hal terakhir yang masih bisa aku lakukan. Melengkapi gagasan nihilismeku agar mudah dipahami anak-anak kecil dan mereka yang muda dan mencari cara berpikir baru yang orang-orang sezaman denganku tak akan pernah berani untuk melakukannya.
Aku ingin memopulerkan efilisme dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan yang harus diakhiri. Mungkin, hal semacam itulah yang bisa aku lakukan. Sebagai pembeda dari mereka yang terlalu lembut, takut dan berakhir nyaman dalam kehidupannya. Para pemikir yang berhenti berpikir dan berakhir hanya sekadar menulis.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Nonfiksiapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
