Lihatlah rakyat secara lebih dekat. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Mungkin, kamu akan menjadi seperti diriku. Sudah tak lagi tertarik dengan apa itu rakyat.
Apalagi, setelah pemilihan umum selesai. Saat mereka salah memilih. Presiden yang mereka dukung menjadi buruk dan tidak jelas. Mereka diam saja. Lepas tangan. Seperti kebiasaan yang sering mereka lakukan di dunia nyata. Kebiasaan yang tanpa tanggungjawab.
Mereka mengutuki para aktivis. Tapi jika ada bencana, krisis ekonomi, masalah sosial dan politik. Mereka mencari-cari para aktivis. Saat budaya korupsi begitu jelas di depan mata. Mereka hanya saling berbisik dan mengutuk di media sosial. Tak bergerak. Menuntut orang atau pihak lain menyelesaikannya. Mereka ingin semua persoalan selesai dengan seketika tanpa harus ikut ambil bagian atau turun tangan sesekali saja.
Jika tak ada pihak lain yang mau menyelesaikannya. Maka, tak akan ada yang mau menyelesaikannya. Karena rakyat sendiri, yang berisi begitu banyaknya orang itu, tak merasa berkepentingan untuk menyelesaikannya.
Kian hari, rakyat layaknya parasit. Terus menuntut dan meminta hak. Tapi tak mau bertanggungjawab sebagai warga negara. Dari pemilihan umum sampai kasus-kasus besar yang tak pernah selesai. Hanya berani bersuara dengan kasus-kasus kecil yang mencuat. Kasus yang aman dan tak membutuhkan banyak usaha.
Cukup bersama-sama mengetik kalimat kebencian, mengutuki orang yang dituju, sambil rebahan atau bercinta. Itulah yang bisa dilakukan rakyat hari ini. Keberanian mereka hanya sebatas itu. Tentunya, serangan dan ujaran kebencian bisa dilakukan bersama-bersama kepada mereka yang tak memiliki kekuasaan besar. Atau pengaruh hukum yang kuat.
Jika ada kasus besar yang mendorong mereka dikeluarkan dari tempat kerjanya, menjadi buronan politik, kemungkinan dipenjarakan, harus berpeluh di jalanan, atau sekedar menghadapi teror setelah bersuara. Mereka tak akan memilihnya. Banyak rakyat, yang jumlahnya ratusan juta itu, tak akan memilihnya.
Mereka lebih memilih korupsi terus saja berjalan dengan biasanya sambil pura-pura mengutuki korupsi dan kemiskinan mereka sendiri. Mereka akan membiarkan saja walikota, gubernur, hingga presiden berlaku sesuka hati dan melakukan banyak sekali pelanggaran jabatan. Asalkan mereka aman dan masih bisa tidur nyenyak. Esok harinya, membuka media sosial, lalu mengutuki siapa saja. Mencemooh betapa kejinya pejabat negara ini. Tidur lagi. Dan kegiatan semacam itu terus berulang sampai anak-anak cucunya lahir.
Buruknya lagi, banyak di antara rakyat ini juga senang dengan perilaku korupsi, pembunuhan, perundungan, penipuan, kekerasan rumah tangga, penelantaran anak, pemerkosaan, pencurian dan krimininalitas lainnya, sangat tak bertanggungjawab sebagai orangtua, orang yang susah dipercaya, pandai berhutang tapi enggan mengembalikannya, serta banyak dari mereka sangatlah sombong.
Membela rakyat di abad semacam ini, saat dunia internet memperjelas kehidupan sehari-hari tiap individu warga negara. Sangatlah sulit. Apalagi, jika sebagian besar rakyat nyaris tak jauh berbeda dengan para pejabat yang mereka kutuk.
Apa yang harus dibela? Untuk apa lagi kita harus membela rakyat? Rakyat yang hari ini begitu manja dan penuntut. Yang anehnya, malah mencemooh, mengutuki, dan mencibir orang-orang yang tengah berusaha membela mereka.
Saat mereka tak mau dibela dan berbalik menentang pembela mereka sendiri. Maka, biarkan saja mereka sendirian. Biarkan mereka mengurus diri sendiri. Itu cara terbaik dan terindah yang bisa kita lakukan.
Lebih baik sekarang kita bekerja, mencari uang, menjadi makmur dan kelak, jika ada perang saudara besar berkecamuk layaknya di Timur Tengah. Kita bisa pergi secepat mungkin tanpa harus merasa bersalah sama sekali.
Biarkan mereka berjuang sendiri. Mengurus diri sendiri. Seperti orang-orang yang kini tengah berjuang menuju perbatasan Polandia. Atau orang-orang yang harus diam dan tak mengeluh, saat junta militer berkuasa dan mengambil alih pemerintahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
