Aku mendokumentasikan kamar-kamar terakhir yang aku tempati di berbagai kota yang berbeda untuk mencatat aktivitas terakhir dari bagaimana aku menulis gagasan-gagasanku. Kamar seperti apa yang membuatku bisa cukup nyaman untuk menulis atau sekadar menenangkan diri.
Beberapa waktu yang lalu aku bertengkar dengan kedua orangtuaku. Kenapa mereka lebih memilih miskin dan bodoh di usia tua mereka padahal aku pernah berkali-kali mencoba membantu mereka tapi akhirnya menyerah dalam rasa marah dan kecewa. Mereka bisa makmur di usia tua mereka tapi entah kenapa, kemiskinan lebih terasa nikmat dan akrab untuk mereka.
Kenapa mereka tetap membela salah satu anaknya yang buruk (adik laki-lakiku), yang pengangguran, beban keluarga, menikah dalam keadaan miskin dan bebal, dan memiliki dua anak tanpa mau menggunakan otaknya tapi tetap dibela dan dicintai oleh orangtua yang katanya kasihan dan tak mau tegas dengan anaknya yang busuk itu.
Aku lihat sendiri, dalam keluargaku, bagaimana seorang ibu yang berkelamin perempuan menghancurkan dan melemahkan anak-anak laki-laki atas nama cinta dan kasih sayang yang busuk. Sejarah melemahnya laki-laki salah satunya bermula dari didikan orangtua yang semacam itu. Melindungi anak laki-laki yang buruk atas nama kasih sayang dan ketakutan-ketakutan.
Alasan kenapa lebih dari dua puluh tahun aku menjauh dari rumah. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan kini, di akhir usiaku sebelum tubuhku menyerah. Aku berpindah dari beberapa kota dengan membawa barang-barang yang membuat aku nyaman.
Membangun ruang untuk kenyamanan yang perlahan-lahan hilang diambil oleh kebosanan dan rasa sakit.
Beberapa hari ini aku hanya tidur di kamarku. Keluar hanya untuk makan dan mencoba membiarkan sakit yang ada di tubuhku memberi tekanan agar aku menyerah secepatnya.
Membiarkan sakit menjadi kian parah membuat seseorang yang mengalaminya tak ingin hidup lama. Tubuh dan jiwa yang baik-baik saja cenderung membuat orang menekan kecenderungannya untuk mati. Aku membiarkan tubuhku kian rusak agar aku bisa menyerah dan tak lagi memaksakan diri untuk terus menulis dan terpenjara atau tertahan oleh pikiran-pikiranku sendiri.
Berbagai kamar, ruang dan barang-barang yang selama ini menemaniku adalah pelarian dari ketidakinginanku hidup semenjak aku masih remaja. Semacam ruang kecil untuk dunia yang sudah lama hilang. Sedikit penenang dari kehidupan yang sudah tak menarik untuk waktu yang sangat lama.
Dalam berbagai kamar itu, aku memejamkan mata, bersantai, mengerami kebosanan dan menghambur ke luar untuk menulis dan berpikir.
Aku ingin menulis dengan perasaan marah yang tak perlu aku tekan. Kebencian dan kekejaman pikiran yang tak perlu aku simpan. Dan kelembutan diriku yang masih coba aku sisakan dalam puisi-puisiku.
Aku cukup beruntung bisa menghadirkan berbagai ruang kamar yang nyaman dengan skala yang cukup cepat untuk diriku saat ini. Itu sangat membantuku untuk sedikit meredam perasaan yang semakin kesulitan aku tenangkan.
Kebosanan tetap menjadi alasan utama kenapa aku tak bisa menikmati rasa senang dan nikmatnya hidup dalam jangka waktu yang lama. Setidaknya dalam kesendirian selama puluh tahun lamanya. Aku masih bisa menatap diriku sendiri. Bayangan di kedua kaki. Bagaimana aku masih hidup sampai sejauh ini dengan segala macam kerusakan yang menumpuk dalam diri satu orang manusia.
Seorang laki-laki yang ingin berakhir dengan cara yang diinginkannya. Aku ingin mati di usia yang hampir sama dengan Van Gogh. Kematian setelah menghasilkan karya begitu banyaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
