Saat aku masih mahasiswa, aku selalu terpikat oleh seorang pemikir yang begitu lurus di masa mudanya, yang begitu keras kepala, kaku dalam berpolitik, terlalu jujur dan blak-blakan mengemukakan pendapat, dan pada akhirnya mati di usinya yang cukup belia dengan idealisme dan pikiran-pikirannya yang masih belum tuntas terselesaikan.
Laki-laki yang agak kurus kering dengan mata sipitnya itu adalah seorang yang sampai hari ini, masih menyisakan ikatan yang begitu sangat intim dengan perkembangan intelektualku. Darinya-lah aku tumbuh dan terkadang, memiliki kepribadian dan cara pandang intelektual yang keras dan tak suka basa-basi seperti dirinya.
Sewaktu masih sangat muda dulu. Aku merasa nyaris seperti dirinya. Menjadi laki-laki yang pada akhirnya tak pernah nyaman berada di antara orang-orang yang tak bisa jujur terhadap dirinya sendiri. Bahkan jika itu juga adalah diriku.
"Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan," begitulah ujarnya. Kredo singkat yang sampai sekarang ini, masih menyisakan gema yang begitu dalam, bagi sejarah kehidupan singkat yang selama ini aku jalani.
Dia adalah Soe Hok-Gie. Pemikir keras kepala yang telah membentuk sejarah kehidupan begitu banyaknya anak muda yang tertarik dengan idealisme menggebu-gebu dan yang pada waktu itu, masih cukup naif dan hijau dalam melihat kehidupan, masyarakat, dan apa itu kata yang bernama "rakyat".
Hari ini, dengan kekecewaan yang mungkin sama dengan dirinya dulu. Aku begitu sangat tepat digambarkan seperti apa yang pernah ia tulis dalam tulisan berjudul Sebuah Generasi yang Kecewa, "Sebagian besar dari pemuda-pemuda ini pada akhirnya berkompromi dengan nilai-nilai lama tetapi sebagian kecil mencoba mencari kebahagiaan dengan berpaling pada diri sendiri."
Kekecewaan melihat dunia sehari-hari dan bagaimana manusia hidup membuat aku kehilangan kepercayaanku kepada diriku sendiri, orang-orang, dan bahkan dunia ini.
Dari seorang yang mengawali kehidupan politiknya dengan menyakini humanisme universal sebagai acuan dalam melihat hubungan sosial antara manusia. Lalu tertekan oleh kenyataan yang terjadi di antara manusia nyaris setiap harinya. Semua kejadian itu pada akhirnya membuat diriku mengeras menjadi seorang penganut pesimisme yang sangat nihilistik. Dan laki-laki yang kini memilih menjadi seorang yang lebih egois, individualistik, dan menyeberang ke gagasan hedonisme.
Aku pun tak lagi tertarik dengan gagasan untuk orang banyak. Membuang kata "rakyat" menjadi sekedar sampah yang tak lagi layak dipikirkan. Bertahun-tahun lamanya aku menghindari politik dan tak ingin bersinggungan dengannya. Dan sekarang ini, setelah melihat betapa buruknya sebagian rakyat berperilaku dan menjalani kehidupan mereka. Betapa buruknya mereka dalam berpolitik dan menjadi pengikut dari orang-orang yang buruk. Aku pun memutuskan untuk mengawali gagasanku dalam hal politik sekaligus mengakhiri ketertarikanku terhadap politik itu sendiri dan kaitannya dengan kata "rakyat" yang selalu mengikutinya.
Anti-Politik. Begitulah aku menyebutkannya. Kata ini telah lebih dulu ada dan dipakai oleh sekian banyak pemikir dan penulis dengan maksud yang berbeda-beda. Tapi untuk diriku, Anti-Politik adalah sikap menjauhi segala hal yang berbentuk perpolitikan dan hal-hal yang berbau politik secara langsung. Tak terlibat dengannya. Tak peduli. Dan tak mau tahu. Menghindarinya sejauh mungkin yang bisa aku lakukan.
Mundur total dari idealisme kemanusiaan dan keadilan. Tak lagi ingin terlibat lagi dengannya. Dan akhirnya, mencoba sedikit menikmati kehidupan bermasalah yang susah payah aku jalani selama ini.
Daniel-Lev, teman dari Gie pernah berkata seperti ini kepadanya, "Soe, kau adalah seorang pemikir. Orang-orang seperti itu selalu menanyakan tentang nilai-nilai dari masyarakat. Mereka tidak akan pernah akan berbahagia, dan tak akan pernah puas. Terimalah kenyataan ini."
Mungkin, suara itu, suara yang pernah keluar dari mulut laki-laki setelah peperangan besar manusia berakhir dan pertumpahan darah masih belum terlalu mengering di sana sini. Masih saja menyentuh perasaan mereka yang pernah terlalu sensitif terhadap pencarian akan kebenaran dan kebaikan sesama manusia.
Seolah-olah, itu layaknya kutukan yang harus dihadapi oleh mereka yang tak bisa lepas dari jerat pikiran-pikirannya sendiri. Seorang yang seperti Soe Hok-Gie dan juga yang seperti diriku.
Saat Homo Deus, sebuah buku milik Yuval Noah Harari terbit dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Sewaktu aku pertama kali membacanya dan menemukan kalimat mengenai perang dan peperangan yang tak lagi menjadi agenda manusia masa depan. Aku langsung menolaknya. Bagiku, selama aku melihat sejarah singkat manusia di masa aku hidup, peperangan akan kian bertambah dan para diktator atau pemimpin otoriter pada akhirnya naik satu persatu dengan persetujuan orang-orang yang membelanya dengan memenangkan banyak dukungan bahkan dalam pemilihan umum yang paling demokratis sekalipun.
Beberapa dari mereka pun, tak segan-segan untuk menciptakan perang dan bukan malah menghindarinya.
"Apa saja proyek-proyek yang akan menggantikan kelaparan, wabah, dan perang di puncak daftar agenda kemanusiaan di abad ke-21?" Begitulah Harari menulis dengan cukup optimis dan keyakinan besar mengenai kemungkinan perang besar yang tak lagi terjadi dan yang baginya hanya sekadar menjadi peperangan kecil di sana sini.
Sekarang ini, berbagai perang terjadi sekaligus di bumi yang sama selagi aku kini sibuk membayangkan masa depanku sendiri. Beberapa perang nyaris tak pernah terlesaikan bahkan di saat aku masih kecil. Malah, kemungkinan perang berskala besar terjadi dan para pemimpin politik yang buruk menguasai berbagai macam jenis pemerintahan di sana sini. Siapa yang harus disalahkan? Siapa yang telah memilih para pemimpin buruk semacam itu? Yang lebih menyukai konflik dan kerusakan daripada perdamaian dan negosiasi?
Mereka adalah rakyat. Orang-orang yang hidup dalam sebuah negara yang memilih pemimpin untuk diri mereka sendiri. Dan akhir-akhir ini, kata "rakyat" semakin sering mengarah pada orang-orang bodoh, buruk, bengis, haus darah, tak tahu malu, dan tak terlalu suka menggunakan otaknya untuk kebaikan mereka sendiri.
Aku sendiri lahir dan menikmati masa kecilku di masa seorang diktator bernama Soeharto sedang berada pada masa terbaik pemerintahnnya. Lalu melihatnya jatuh dan mengundurkan diri di layar televisi yang hitam putih. Saat aku masih remaja dan awal muda. Aku secara tak langsung menjadi anak-anak hasil dari pergolakan reformasi dan terpengaruh dengan masih maraknya pertentangan berbagai keyakinan dan ideologi yang ada di kampus-kampus.
Hanya saja, aku termasuk dalam kategori generasi yang prematur. Tak pernah benar-benar matang dalam keyakinan, idealisme, dan ideologi. Lalu tersiksa oleh kenyataan hidup setiap harinya.
Anehnya, aku melihat para orang tua yang ingin mengembalikan demokrasi yang rapuh saat ini, yang telah aku nikmati beberapa dekade terakhir, ke arah otoritarianisme. Mereka didukung oleh banyak kalangan. Dari orang biasa hingga kaum berpendidikan tinggi dan terpelajar. Dari mereka yang miskin hingga mereka yang sangat kaya raya. Mereka bersuka cita dalam memilih dan mendampingi para pemimpin buruk untuk meraih kekuasaan.
Apakah orang-orang yang hidup dalam masa internet dan teknologi yang begitu maju dan terdiri dari banyaknya orang terpelajar adalah orang-orang bodoh jenis baru? Ataukah mereka pada dasarnya sangat menyukai dipimpin oleh seseorang yang mungkin akan menjadi diktator?
Yang paling buruk dari semaunya adalah anak-anak muda yang masuk dalam perpolitikan, yang sebagiannya mewakili generasiku. Kini mereka malah menjadi bagian yang tak jauh berbeda dengan orang-orang korup yang pernah mereka benci dan hujat.
Melihat betapa nyaris tak masuk akalnya orang-orang yang hidup di abad ini memilih para pemimpin yang buruk terus-menerus membuatku berpikir ke arah para pemilih itu sendiri. Orang banyak yang disebut rakyat. Yang menjadi pemain utama dari sebuah dunia yang hari ini aku tinggali.
Rakyat yang buruk akan menghasilkan pemimpin yang buruk. Masyarakat yang sakit akan menghasilkan negara yang tak kalah sakitnya.
Mungkin aku cukup beruntung bisa lebih awal menyadari betapa rusaknya masyarakat di masa aku hidup daripada orang-orang yang hidup di abad yang sama denganku. Saat melihat betapa kotor dan buruknya perpolitikan di negara ini dan bagaimana para politikus berebut kekuasaan. Aku merasa biasa saja dan tak terkejut.
Karena aku telah lama melihat manusia dan memilih menghindari hal-hal yang berhubungan dengan politik. Aku pun menjadi manusia yang Anti-Politik.
Seorang yang hanya sekadar menjadi pengamat dan lebih menikmati proses bagaimana orang-orang nanti kecewa dan menderita di sana sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Não Ficçãoapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
