KEBOSANAN YANG BEGITU PANJANG

220 18 7
                                        

Yang paling menyakitkan hidup di dunia semacam ini adalah kebosanan yang bagai tiada akhir. Kebosanan akan segala hal. Saat segala sesuatunya sudah tak lagi menarik.

Saat pikiran mati. Gagasan-gagasan mati. Buku-buku mati. Suara-suara mati. Dan ruang publik tak lebih dari pada pekerjaan dan pekerjaan.

Tak mudah untuk hidup dalam kebosanan, bahkan bagi filsuf, yang melihat dengan jelas berbagai reruntuhan di depan matanya.

Kadang aku berpikir, dalam abad yang mana kedunguan menjadi jauh lebih  besar dari pada beberapa tahun terakhir ini. Ketika dunia yang bernama internet membuat dunia menjadi bodoh secara bersamaan.

Apa yang tersisa dari perbincangan yang bermutu? Apa yang masih bisa dilakukan seorang filsuf ketika para pedagang dan pengusaha yang enggan mengakui dirinya, menjadi begitu meluas dan mewabah sampai ke ujung kaki pemerintahan?

Ketika pejabat dan rakyat sama buruknya. Ketika penjahat dan orang baik nyaris sulit dibedakan.

Ketika semua orang diam di dunia nyata dan menjadi begitu banyak berbicara di dunia maya mereka masing-masing. Apakah yang masih tersisa dari kenyataan itu sendiri?

Kenyataan sehari-hari pada akhirnya hanyalah kebosanan yang ditahan dengan hal-hal yang berulang-ulang.

Saat ini, kebosananku dalam taraf yang diam. Suatu kenyataan yang menyakitkan saat dunia yang ramai ini sebenarnya telah mati dalam banyak hal.

Filsafat, menjadi begitu sekarat saat masyarakat awam menjadi jauh lebih brutal dari pada para filsuf.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang