Bayangkan, sebuah dunia tanpa anak-anak. Apa yang kemungkinan terjadi di sekitar kita? Dunia macam apa yang mungkin kita lihat? Dan apakah kita siap saat besok, mendadak saja semua anak-anak di seluruh dunia, terutama di sekitar rumah kita, menghilang tanpa jejak?
Apakah kita akan berbahagia, jika tak ada lagi anak-anak, di kehidupan sehari-hari kita?
Membayangkan dunia tanpa anak-anak mungkin akan sangat aneh, bagi sebagian orang. Tapi tidak denganku.
Hampir semua anak-anak dipaksa lahir oleh orangtua mereka. Sebagian ditolak. Sebagian lainnya, dipenjara dalam kurungan besar kasih sayang selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah dunia, yang mana hak melahirkan nyaris tak pernah ada. Para orangtua yang berpikir tak akan melahirkan anak dan mengulangi kesalahan para orangtua mereka terdahulu, berjumlah terlampau sedikit. Di dunia ini, para orangtua yang kecanduan anak-anak, begitu sulit disembuhkan. Dan yang lebih parah, para anak muda yang begitu sangat ingin memiliki anak, bahkan di saat mereka belum menikah.
Itulah sebabnya, sebuah dunia tanpa anak-anak, begitu sangat aneh jika kita memikirkan sebuah pandemi besar yang bernama "kelahiran".
Tapi, mari kita mencoba untuk tetap membayangkannya.
Sebuah dunia, yang seandainya benar-benar terjadi, akan menjadi kisah paling menarik yang pernah bisa kita bayangkan.
Pertama-tama, mari kita bayangkan, anak-anak yang ada di sekitar rumah kita menghilang secara misterius. Tiba-tiba. Tanpa ucap perpisahan sama sekali.
Jika satu dari anak itu bagian dari keluarga kita. Pertama-tama yang hilang adalah suara-suara. Kebisingan. Dan segala kemanjaan yang nyaris selalu dimiliki oleh anak kecil. Lalu polah tingkah mereka. Keseharian mereka. Lalu kenangan mereka. Seiring waktu, ia akan terlupakan.
Dan tentunya, semua anak di sekitar rumah kita juga akan menjadi kenangan yang menghilang di masing-masing rumah dan keluarga.
Tapi apakah itu mungkin? Apakah mungkin, sebuah keluarga bisa melupakan kenangan atas anak, saudara, dan bagian dari darah mereka, dengan begitu cepat dan mudah?
Mungkin, sebagian keluarga akan merasa kehilangan, terpukul, dan mengalami trauma. Tapi sebagian lainnya tidak. Dengan seiring waktu, semua keluarga akan menerima ketiadaan anak-anak di kehidupan mereka.
Dan mungkin, kelak, semua orang di dunia ini, akan tak lagi ingat, siapa itu anak-anak.
Orang-orang yang tersisa, hanya perlu menua. Menyelesaikan urusan-urusan mereka. Dan akhirnya mati. Berbahagia atau penuh kekecewaan. Setidaknya, dunia tak akan lagi menyaksikan bayi-bayi lahir, dan anak-anak yang tak lagi harus dipaksa untuk menua, sakit, dan menderita kemudian hari.
Hanya ada kita, para orangtua, yang berjuang sendiri tanpa harus bergantung pada siapa yang belum atau akan lahir.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
