"Bayangkan dunia yang tanpa kita, karena kita tiba-tiba menghilang. Bayangkan pula bahwa itu terjadi besok," tulis Alan Weisman dalam buku yang paling mengubah pandangan hidupku, The World Without Us.
Membayangkan sebuah dunia tanpa manusia sama sekali dalam sekali waktu, adalah perenungan paling indah yang pernah aku temui.
Sebuah paragraf yang terdapat pada halaman-halaman bab Sebuah Teka-Teki Monyet, menjadi kalimat panjang yang paling bergema dalam kesadaranku;
"Coba perhatikan sekitar Anda, di dunia masa kini. Rumah Anda, kota Anda. Daerah di sekitar Anda, jalanan yang Anda injak, dan tanah yang tersembunyi di bawah mereka. Biarkan semuanya di tempat masing-masing. Cuma manusia yang hilang. Hapus kita semua, kemudian lihat yang tersisa. Bagaimana kira-kira reaksi alam ketika tiba-tiba dibebaskan dari tekanan yang selama ini kita berikan kepadanya dan kepada organisme-organisme yang selama ini menemani kita? Berapa lama kira-kira iklim akan kembali ke keadaan semula seperti sebelum kita menghidupkan motor-motor kita?"
Kalimat panjang berbentuk paragraf ini, telah mempengaruhi perjalanan filosofisku dan kebuntuan perdebatan ekologis yang selama ini tak bergerak kemana-mana.
Dalam khayalan Alan Weisman, aku menemukan apa yang tak sanggup dibayangkan oleh Nietzsche. Aku mendapatkan apa yang tak berani dipikirkan oleh Richard Dawkins. Dalam dunia yang tak ada lagi manusia di dalamnya. Tak akan ada lagi seorang manusia, seperti misalnya Carl Sagan, yang memikirkan kemungkinan adanya kehidupan lain di luar sana. Seperti yang dipikirkannya dalam buku terkenalnya Kosmos. Atau keberadaan peradaban yang begitu banyaknya di berbagai sistem galaksi seperti yang diperbincangkan Isaac Asimov dalam Extraterrestrial Civilization.
Dalam bukunya itu, Isaac Asimov menulis, "Kita tidaklah sendirian."
Ada banyak peradaban di luar sana beserta segenap makhluk hidup yang memiliki kecerdasan tinggi. Sebuah khayalan lainnya, yang aku tolak beserta segenap akan kemungkinan kehidupan lainnya, yang akhirnya tertuju pada perbincangan dunia paralel.
"Gagasan multiverse menarik," tulis Michio Kaku dalam Parallel Worlds. Begitu juga lubang cacing, perjalanan waktu, dan dunia paralel itu sendiri.
Revolusi kuantum dan multiverse bukanlah manusia yang akhirnya memotong jaring-jaring atau tali-temali yang menggerakkannya layaknya boneka. Menjadi bebas, tak lagi dikuasai dan ditentukan oleh yang lain. Tapi lebih tepatnya, bagiku, multiverse kuantum adalah dunia yang jauh lebih mengerikan dari pada dunia yang ditemukan oleh Charles Darwin.
Dunia tanpa ujung dan tanpa akhir. Sebuah dunia di mana tak ada kehidupan yang mati dan nyaris terus berulang walau dalam ciri khasnya yang berbeda.
Apakah dunia semacam itu yang diinginkan oleh para astronom yang bahkan gagal dan tak peduli dengan kehidupan yang ada di bumi?
Atau bahkan apa yang diandaikan oleh Alan Weisman sendiri di akhir bukunya, "Pancaran dari otak-otak kita, seperti gelombang-gelombang radio, pasti juga merambat -ke mana? Ruang angkasa sekarang digambarkan sebagai sebuah gelembung yang terus memuai, tetapi arsitektur seperti itu masih teori. Bersama lengkung antar bintang misteriusnya yang besar, barangkali tidak musykil andai kita berpikir bahwa gelombang-gelombang pikiran kita akhirnya menemukan jalan untuk kembali ke sini."
"Atau bahkan bahwa pada suatu hari-lama setelah kita pergi, setelah rindu yang tak tertahankan kepada dunia indah yang dengan begitu bodoh telah kita sia-siakan sendiri-kita, atau kenangan kita, barangkali akan pulang melalui gelombang elektromagnetik kosmik untuk menghantui bumi kita tercinta."
Seperti itulah Alan Weisman menutup khayalannya akan sebuah bumi tanpa manusia. Yang masih menyisakan banyak hal. Seperti halnya para pemikir dan ilmuwan dewasa ini.
Dan aku, mencoba untuk tak lagi menyisakan semua kemungkinan-kemungkinan itu. Menjauh dari romantisme bumi dan kehidupan yang telah banyak dipegang oleh para enviromentalis, ilmuwan, dan filsuf paling keras sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Nonfiksiapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
