INDONESIA TELAH SELESAI

34 1 0
                                        

Tan Malaka memilih tidak berkeluarga karena pada waktu itu, memiliki keluarga hanyalah penghambat dan momok dari setiap gerakan radikal dan membuat revolusi akan susah tercapai jika banyak orang begitu ketakutan dengan keamanan keluarganya masing-masing.

Terkadang atau malah terlalu sering, keluarga dan adanya anak-anak menjadi masalah pelik dari kepengecutan politik dan gerakan sosial yang terjadi di negara ini. Keberadaan keluarga menjadi penghambat politik yang lebih radikal dan brutal. Yang lebih berani dan tak takut dengan kematian yang akan dianggap hina oleh negara dan masyarakat sekitar.

Begitu juga dengan kekayaan dan hidup enak.

Sebuah keluarga yang makmur, hidup enak, dan menikmati kemewahan dalam taraf tertentu akan cenderung untuk menjadi pasif, menolak perubahan politik skala besar dan biasanya tak peduli. Saat mereka yang miskin dan anak muda kaya yang masih punya empati sosial berbaris turun ke jalan. Mereka yang berkeluarga dan makmur lebih memilih bekerja dan bersenang-senang dengan keluarganya tanpa peduli apakah negara yang ditinggali mengalami kebangkrutan politik secara luas.

Begitu juga keluarga miskin atau kelas menengah bawah yang lebih takut keluarganya menderita dan dicemooh masyarakat sekitar jika ada salah satu anggota keluarganya menjadi narapidana politik. Mudah ditekan oleh mereka yang lebih berkuasa karena tak memiliki apa pun dan terlalu lemah dalam banyak hal.

Keluarga, dalam perpolitikan Indonesia modern menjadi penghambat tidak adanya para teroris individual dan yang berkelompok yang memiliki tujuan politik menghancurkan sistem negara atau membunuhi para pejabat korup layaknya para teroris radikal -dalam segala macam ideologi- yang ada di belahan lain dunia.

Tidak adanya teroris individual -yang bukan dari kalangan beragama- dalam wacana politik Indonesia modern adalah hal yang sudah sangat aneh sejak dahulu kala. Tak adanya kelompok kecil yang mencoba melakukan gerilya kota atau berpindah dari hutan ke hutan -kecuali apa yang terjadi di Papua- juga menjadi hal yang perlu dipertanyakan. Kenapa masyarakat Indonesia hari ini tak mampu atau tak memiliki kemauan untuk bertindak mandiri dan melakukan pemberontakan radikal seperti yang pernah dilakukan oleh mereka sebelum adanya kemerdekaan?

Jawabannya mudahnya; beberapa di antaranya adalah politik penjinakan dengan wacana gerakan anti separatisme yang berbau Komunisme dan negara yang terlalu lama berada dalam kediktatoran. Juga, masyarakat yang mulai mementingkan diri sendiri dan keluarga menjadi jauh lebih penting daripada masyarakat umum secara luas. Mereka juga masih merasa nyaman dan hidupnya belum terganggu secara luas dan berlarut-larut.

Berapa banyak perempuan yang menginginkan suaminya turun ke jalan untuk berdemonstrasi? Berapa anak yang mendukung ayahnya melawan negara, yang mungkin nantinya berakhir dipenjara? Apakah ada mertua yang ingin menantunya menjadi pemberontak dan teroris yang mengincar sistem negara secara politis?

Untuk apa turun ke jalan dan memperjuangkan keadilan jika hidup enak itu menyenangkan dengan adanya anak, istri, dan suami yang ada di rumah? Dalam skala kecilnya saja, banyak orang lebih memilih keutuhan rumah tangga dengan uang bulanan yang lancar daripada membela kebenaran dan menentang atasan dan kolega kerja yang korup.

Dalam pernikahan modern, kekayaan dan hidup enak jauh lebih penting daripada kebenaran dan keadilan sosial. Dampaknya?

Pernikahan modern dan keluarga yang terbentuk oleh pernikahan itu, kebanyakan terdiri dari anggota-anggota keluarga yang pengecut dan lebih mementingkan keutuhan keluarga mereka sendiri. Jika keluarga semacam itu jumlahnya dominan dalam masyarakat. Gerakan politik yang radikal, kuat, dan mampu bertahan lama akan susah terjadi.

Demontrasi hanya akan berlangsung sebentar dan dilakukan oleh segelintir orang dari banyaknya populasi warga negara. Setelah itu, kepala keluarga harus kembali bekerja untuk mengurusi rumah dan kembali bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga. Sedangkan para mahasiswa harus kembali ke kelas jika mereka masih ingin lulus, bekerja, dan menjalani hidup normal pada umumnya.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang