Kita, sejak awal, tak pernah tahu orangtua mana yang akan melahirkan kita dan di mana kita akan tumbuh berkembang. Kebutaan akan tujuan yang sejak awal digariskan ini, adalah peristiwa terburuk dalam sejarah manusia.
Kita, tak pernah diijinkan memilih orangtua dan tak pernah bersepakat tentang orangtua seperti apa yang cocok dan kita inginkan.
Bagi banyak bayi atau anak yang sudah lebih dahulu lahir. Keberadaan mereka ada, lebih baik kita tanyakan pada orangtua yang telah melahirkan mereka.
Apakah pernah, para orangtua memikirkan masa depan sang anak secara keseluruhan bahkan sebelum masa melahirkan?
Bagi beberapa orangtua yang nyaris tak pernah berpikir sama sekali dan hanya sekedar melahirkan anak mereka dengan serta merta dan optimisme yang buta. Kita, berhak menolak orangtua semacam itu. Kita berhak, jika kelak saat menjadi lebih dewasa dan sadar diri, menolak untuk mengakui bahwa mereka adalah orangtua kita.
Hak untuk memilih orangtua dan menolak orangtua yang tak cocok dengan apa yang kita harapkan, adalah hal yang harus diperhatikan mulai sekarang.
Mungkin, pada usia tertentu, saat kita sudah mulai sadar diri, kita berhak menuntut kepada orang yang melahirkan kita, dunia semacam apa yang harus mereka berikan kepada kita. Jika tuntutan itu terasa sulit dan tak mungkin mereka sepakati. Kita bisa menolak mereka dan mencari orangtua baru yang lebih cocok dengan dunia yang kita butuhkan dan angankan.
Keterikatan secara genetik telah menjadi kurungan nilai dan moral dari mitos kelahiran dan hubungan anak dan orangtua. Hanya karena kita ini dilahirkan secara langsung atau secara genetik segaris dengan mereka. Lalu mereka berhak mengklaim kita sebagai anak mereka. Sebagai barang milik. Sebagai benda. Sebagai keberadaan yang layaknya properti yang dimiliki dan tak bisa dilepas.
Saat usia tertentu, kelak, kita berhak memutuskan apakah kita ingin bersama orangtua yang melahirkan kita atau tidak. Apakah kita masih mengakui keterikatan dan hubungan orangtua anak atau tidak.
Hak untuk memilih apakah kita masih mau mengakui dan bersama orangtua kita atau memilih untuk pergi dan menghapus semua ikatan, harusnya berlaku saat usia tertentu diputuskan bersama sebagai batasan di mana hak untuk memilih diberikan.
Bagi beberapa orang yang masa kecilnya berbahagia dan memiliki orangtua penyayang. Mungkin akan memilih terus bersama orangtua mereka sepanjang hidup. Tapi bagi mereka yang dilahirkan dalam keluarga berantakan, tak ada kasih sayang, yang ada hanya kekerasan, pengucilan, teror, kemiskinan, kecemasan, dan perlakuan yang berat sebelah. Maka, mereka berhak memutuskan hidupnya. Mereka berhak keluar dari keluarganya dan tak lagi kembali.
Mereka berhak untuk tidak mengakui keluarga dan orangtua mereka sama sekali. Memutuskan total semua ikatan dan membangun kehidupan baru yang diinginkannya tanpa gangguan dari keluarga yang tak membuat dirinya hidup dan bahagia.
Selama ini, ikatan genetik atau sedarah, telah menjadi kutukan bagi orang-orang tertentu yang ingin keluar dan menghapus sejarah masa lalu keluarga. Beberapa orangtua menuntut hak untuk diperhatikan anak-anaknya. Anak-anak yang mereka tak sayangi dan mereka lahirkan dengan asal-asalan itu. Dan para orangtua itu, menganggap bahwa anak adalah milik mereka selamanya. Menginginkan kepatuhan anak dengan menekan sang anak dengan nilai sosial dan agama mengenai surga dan kepatuhan.
Bahkan, beberapa orangtua berperilaku nekat dan tak tahu malu, merusak anaknya yang ingin hidup aman dan tenang demi egoisme pribadi. Membuat ketenangan sang anak, dengan memamerkan hubungan darah yang dipolitisi di depan publik.
Hal-hal semacam ini, membuat hak untuk menolak orangtua menjadi penting. Tidak hanya secara filosofis tapi secara hukum, moral, dan nilai sosial yang ada. Agar anak-anak yang memutuskan meninggalkan orangtua mereka yang tak layak, tidak lagi dikutuk oleh masyarakat yang tak tahu menahu sejarah kehidupan yang dilalui sang anak itu sendiri.
Saat para orangtua kita dengan seenaknya melahirkan kita tanpa persetujuan sama sekali. Kita, saat sudah mulai tahu kehidupan dan berpikir, berhak memikirkan ulang, apakah orangtua kita layak disebut orangtua yang harus kita terima dan setujui.
Untuk apa, kita hidup dengan orangtua yang kejam dan mengerikan dan dengan gila masih menganggap mereka sebagai orangtua? Untuk apa, kita mengakui orangtua yang melahirkan kita dalam kemiskinan dan perasaan iri setiap hari? Dengan cacat dan penyakit menyedihkan? Dengan segala kebobrokan yang ditampilkan di depan kita, dan mereka masih berharap kita panggil orangtua?
Kita tak pernah ingin dilahirkan. Saat kita dipaksa untuk lahir oleh mereka. Maka, kelak, kita berhak menentukan, apakah mereka layak kita akui sebagai orangtua atau tidak.
Kita berhak menolak orangtua kita masing-masing secara lembut maupun keras.
Kita berhak menentukan hidup kita sendiri tanpa ikatan darah yang mengganggu dan terkutuk itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
