PERNIKAHAN YANG DIHANCURKAN OLEH GENERASI ORANG TUA KITA

16 2 0
                                        

Kedua orang tua kita, lebih tepatnya semua orang dari generasi mereka, turut bertanggung jawab terhadap banyaknya perceraian, perselingkuhan, dan perseteruan atau kebencian di antara laki-laki dan perempuan di generasi kita yang lebih muda.

Selain peran media, kebijakan politik yang buruk, pemerintahan yang korup, budaya dan ideologi baru yang cenderung merusak dan lain sebagainya. Kedua orang tua kita, ayah dan ibu, yang menjadi salah satu alasan kenapa pernikahan di masa kita sangat rusak dan tak lagi menyenangkan untuk dijalani atau dipikirkan.

Mereka melahirkan kita sewaktu miskin, rusak, menderita, memiliki hidup yang berat, sakit secara emosional, tak memiliki teman dan hidup makmur tapi tak bahagia. Mereka, baik di pihak ayah atau ibu, tak mengajari anak-anaknya bagaimana menjadi manusia yang baik, yang bertanggung jawab, dan sadar dengan keadaan diri sendiri.

Mereka malah menciptakan atau mendidik para laki-laki yang dimanjakan -biasanya oleh para ibu- dan memperlakukannya layaknya raja kecil yang disayang, dibela, dipuja, dicintai, dan disuapi sepanjang waktu. Seburuk dan sesalah apa pun para-para laki-laki itu bakal tetap dibela orang tuanya tanpa tahu arti dari bertanggung jawab dan bagaimana harus menjalani kehidupan dewasa nantinya. Terlebih saat sudah menikah.

Semua sudah terlambat.

Para laki-laki dimanjakan tanpa tahu arti dari tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka dimanjakan dan dibiarkan berperilaku sesuka hati hingga mendadak saja para laki-laki itu dewasa. Mendadak saja selesai menempuh pendidikan. Mendadak saja masuk dunia kerja. Mendadak saja berada di usia pernikahan tanpa ada persiapan untuk menjadi suami yang baik, bertanggung jawab dan layak sebagai kepala rumah tangga.

Laki-laki modern di tangan para ibu atau perempuan yang sakit -juga absennya para laki-laki sebagai ayah- berubah menjadi sosok-sosok lemah dan tak punya kesadaran diri yang baik. Mereka tak diajari bertahan hidup di dunia ini.

Banyak dari mereka hanya dimanjakan dan sedikit dari mereka yang diajari bagaimana caranya memiliki keahlian praktikal, mencari uang, menjaga tubuh dan mental tetap sehat, dan menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Inilah kenapa, banyak laki-laki tak siap menjadi dewasa dan sangat buruk saat nantinya menjadi kepala keluarga karena sejak awal mereka dilemahkan dan dirusak oleh para orang tua mereka sendiri. Laki-laki kuat dan bertanggung jawab hancur di tangan para orang tua yang buruk dan ketakutan.

Saat para orang tua, terlebih pihak ibu, melemahkan para laki-laki generasi kita dengan didikan mereka yang begitu rusak dan salah arah. Para ayah, juga merusak anak perempuan mereka dengan cara yang tak kalah ekstrem dan buruknya.

Para anak perempuan dimanjakan dengan cara yang ekstrem secara terus-menerus sampai banyak anak perempuan lupa dengan kenyataan bahwa kelak ada hidup dewasa yang harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Ada negara dan lingkungan yang tak sesuai dengan gaya hidup makmur-nya sewaktu masih berstatus sebagai anak tersayang. Di luar sana, gaji seorang manusia tak seindah seperti uang jajan dan biaya kuliah yang biasanya jauh lebih banyak. Mendapatkan kos yang enak dan mewah tanpa banyak usaha. Bisa makan sesuka hati, bepergian, menikmati tempat mewah dan segala macam kesenangan tanpa perlu berkeringat sendiri.

Anak-anak perempuan itu dimanjakan sangat ekstrem hingga mereka lupa bahwa kelak mereka bakal hidup dengan diri mereka sendiri dan harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Para ayah banyak memanjakan anak perempuan mereka sedari kecil hingga dewasa muda dan itu secara terus-menerus. Nyaris tanpa jeda. Hidup enak dan berlebih menjadi candu di banyak kehidupan perempuan hari ini karena mereka dikondisikan menjadi semacam itu atas nama cinta dan kasih sayang orang tua.

Saat para ibu di masa hidup yang sama tengah memanjakan anak laki-laki untuk hidup sesuka hati mereka sehingga gagal menjadi laki-laki bermental kuat dan bertanggung jawab. Menjadi pengangguran dan bermasalah pun tetap didukung dan dicintai. Para ayah malah membuat anak perempuannya menjadi sosok-sosok yang nantinya tak bisa hidup dalam kemiskinan, kekurangan, dan tak siap dengan segala yang tidak enak dan ketidaknyamanan hidup yang biasanya dengan mudah diredakan dan diatasi oleh ekonomi orang tua yang kuat.

Hasilnya? Banyak perempuan tak pandai menjaga diri mereka dan hidup sangat boros. Mudah tertekan saat mereka tak memiliki uang cukup dan tak lagi bisa bersenang-senang seperti biasanya.

Bayangkan, kedua orang tua miskin atau kelas menengah biasa yang memanjakan anak-anaknya dari kecil hingga dewasa. Lalu mendadak saja si anak disuruh hidup sendiri, mandiri dengan diri sendiri, disuruh bekerja dan mencari uang sendiri, yang tadinya hidup sangat mudah dan nyaman mendadak semua harus dipenuhi oleh diri sendiri. Lalu apa yang bakal terjadi jika laki-laki lemah yang buruk bertemu dengan perempuan manja yang boros dan selalu hidup enak?

Inilah bagaimana pernikahan di generasi kita rusak parah seperti sekarang ini.

Banyak laki-laki yang tak tahu caranya menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab dan istri yang selalu suka menuntut hidup enak dan segalanya terpenuhi dan tak siap jika menderita di tengah jalan. Yah, ledakan perceraian dan perselingkuhan pun terjadi.

Selain banyak hal lainnya, ada peran besar dari generasi orang tua kita yang membuat pernikahan di generasi kita menjadi sangat menakutkan dan berantakan.

Cinta ibu yang sakit dan penuh ketakutan membuat anak laki-laki menginginkan para istri yang penurut, selalu ada dan memaafkan semua kenakalan yang diperbuatnya seperti para ibu yang memaafkan dengan mudah perbuatan anak laki-lakinya yang buruk. Mau anaknya menjadi kriminal, berjudi, selingkuh, tak bekerja dan menjadi pemalas. Para ibu tetap sayang dengan anak laki-lakinya dan membiarkan perilaku anaknya begitu saja. Memakluminya.

Sedangkan para perempuan pada akhirnya menuntut para laki-laki agar mereka kaya, menyediakan segalanya, yang membuat mereka bisa bersenang-senang sepanjang waktu seperti saat mereka masih dimanjakan oleh ayahnya sendiri. Mereka menolak laki-laki miskin dan tak siap jika pasangan hidupnya mendadak tak lagi bisa bekerja atau tak memiliki uang. Tanpa perlu berpikir dan bekerja keras. Hidup mereka sudah terbiasa mudah. Mereka tak diajari hidup dalam kondisi menyedihkan. Tak dipersiapkan dengan kejatuhan ekonomi. Mereka hanya mengenal hidup enak dan dimanjakan secara ekstrem oleh kedua orang tuanya. Terlebih oleh pihak ayah yang biasanya sangat memanjakan para anak perempuannya.

Cara yang rusak ini, akhirnya bertemu dalam kisah cinta anak laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa. Hasilnya sudah kita lihat dewasa ini.

Laki-laki yang tak siap menjadi tulang punggung keluarga. Perempuan yang bisa bercerai kapan saja jika tak lagi bisa hidup enak dan mudah seperti biasanya.

Dari orang tua yang salah mendidik anak-anaknya muncullah laki-laki dan perempuan yang sangat lemah, menjadi, hidup dalam trauma dan saling menyakiti atau menyalahkan. Suatu kondisi sosial yang membuat aku benar-benar sangat muak dan tak tahu lagi harus berkata apa.

MENGHAPUS DUA JENIS KELAMIN YANG TAK LAGI BISA BERSAMA

Dalam buku yang berisi berbagai macam gagasan yang tak bisa aku selesaikan dengan cara yang yang indah dan memuaskan. Aku merasa muak saat setiap hari harus melihat kebencian di antara laki-laki dan perempuan yang kini begitu sangat berisik dan menjadikan hidup sangat tak menyenangkan untuk dijalani, membawaku pada pemikiran mengenai akhir dari kedua jenis kelamin. Daripada terus bertengkar, kenapa tidak kita musnahkan saja laki-laki dan perempuan yang ada di muka bumi ini? Kenapa laki-laki dan perempuan tidak musnah saja?





AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang