STOIKISME DANGKAL YANG BEGITU SANGAT BERBAHAYA

16 0 0
                                        

Stoikisme dangkal adalah cara terbaik dalam menghancurkan masyarakat yang ketakutan dan kebingungan dengan diri mereka sendiri. Jika digabungkan dengan praktik dan penafsiran dalam beragama yang sangat buruk, hasilnya adalah individu-individu yang merasa hidupnya kian membaik tapi merusak keseluruhan masyarakat dengan begitu cepatnya.

Gabungan antara stoikisme dangkal yang biasanya jatuh pada individualisme, egoisme, dan ketidakpekaan emosi dengan praktek beragama yang dogmatis dan susah untuk mengakui kesalahan adalah resep terburuk dari masyarakat modern yang kita kenal hari ini.

Dalam terapi psikologis atau klinis, ini tak lebih daripada penyangkalan terhadap dunia yang lebih luas demi sekadar menenangkan diri sendiri.

Orang-orang yang menggunakan stoikisme secara dangkal merasa bahwa dirinya kian membaik dan mendapatkan lagi ketenangan hidup yang selama ini dicari atau susah didapatkan. Padahal, ia hanya sekadar menjauhi masyarakat dan orang-orang demi menciptakan rasa aman dan perasaan damai semu terhadap diri sendiri. Sedangkan secara luas, hubungan sosial dalam masyarakat menjadi hancur.

Stoikisme yang populer di suatu masyarakat yang jauh dari kebijaksanaan jika dilihat dari dekat, semacam tanda atau gejala dari dekadensi atau masyarakat yang menuju rusak. Itu semacam gejala awal, jika tidak diselamatkan maka kondisi masyarakat itu akan mengalami suatu penurunan dan penderitaan kolektif yang tak menyenangkan.

Parahnya lagi, jika praktek psikiatrik dan para klinisi di bidang psikologi malah juga mengarah pada konsep kesembuhan individu yang cenderung egoistik dan kian kebal dari semangat kebersamaan dalam masyarakat maka kehidupan yang bakal dialami dalam jangka panjang begitu sangat menyedihkan bagi mereka yang kalah dan tak memiliki sistem pengaman dalam keluarga yang mendukung dan ekonomi yang sangat kuat.

Mereka yang lemah akan menjadi pesakitan di dunia semacam itu. Orang-orang akan cenderung mencari obat penenang untuk diri sendiri dan membiarkan yang lain menderita dan mati di depan mata sendiri. Asalkan diri sendiri selamat dan masih cukup baik. Yang lain menggeliat dalam lubang rasa sakit dan bunuh diri, itu bukan menjadi masalah.

Stoikisme yang dangkal berpadu dengan masyarakat beragama yang tak bijaksana adalah resep yang luar biasa bagi rasa sakit dan penderitaan kolektif.

Gabungan dari dua unsur itu bisa menjadi candu, racun dan terkikisnya empati dan kepedulian sosial terhadap yang lain. Membuat seseorang nyaman hidup dalam benteng sempitnya masing-masing. Merasa tak lagi memiliki ikatan dengan banyak orang dan cenderung fokus terhadap pencarian ketenangan dan kestabilan terhadap diri sendiri.

Inilah yang jadi alasan utama kenapa aku tak pernah menyukai stoikisme yang kini tengah populer kecuali bagian tertentu mengenai bunuh diri. Stoikisme di tangan orang sakit yang hidup di abad ini tak lebih daripada racun dan candu pengganti agama. Layaknya ajaran Buddhisme yang digunakan untuk menenangkan diri di era peperangan yang banyak orang merasa kehilangan tanah untuk bisa berpijak.

Itu hanya sekadar meredakan tapi tak pernah benar-benar menyembuhkan.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang